Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Khutbah Idul Fitri 1438 H: Belajar dari Sejarah Perselisihan Ulama dan Umara [1]

Khutbah Idul Fitri 1438 H: Belajar dari Sejarah Perselisihan Ulama dan Umara [1]

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover Khutbah Idul Fitri 1438 H oleh AM Fatwa. (ist)

MUKADDIMAH

dakwatuna.com – Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Puji Syukur

Pada hari yang mulia ini, mari kita bersyukur ke hadirat Allah Swt. atas nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan yang dianugerahkan kepada kita. Sehingga saat ini kita bisa berkumpul untuk merayakan kemenangan, setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Ibadah yang berfungsi sebagai media pendidikan dan pelatihan untuk mengasah jiwa kita agar lebih peka terhadap lingkungan sosial kita. Lebih berempati terhadap kesusahan orang lain, lalu tergerak untuk mengulurkan tangan kasih sayang terhadap sesama.

Shalawat dan Salam

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Saw. pemimpin sejati yang mencontohkan sikap adil dan bijaksana dalam menyelesaikan setiap persoalan. Meneladankan dialog untuk mengakhiri semua pertikaian, serta menyadarkan umat manusia tentang makna dan hakikat persaudaraan.

Situasi Terakhir Hubungan Ulama dan Umara di Tanah Air

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib al-faqir menyampaikan rasa prihatin yang mendalam terhadap realitas sosial-politik akhir-akhir di negeri kita. Begitu banyak ujian dan cobaan yang kita hadapi. Dari proses penegakan hukum yang oleh banyak kalangan dinilai tebang pilih dan mencederai rasa keadilan, retaknya ikatan ke-bhinneka-an antara sesama anak bangsa, dan maraknya berbagai konflik di tengah masyarakat, hingga hubungan yang kurang harmonis antara ulama dan umara.

Khusus kurang harmonisnya hubungan ulama dan umara, sejatinya bukan yang pertama kali kita alami dalam konteks berbangsa dan bernegara. Riwayat ketidakharmonisan hubungan serta salah paham antara ulama dan umara, sebenarnya sudah pernah juga terjadi sejak negeri ini baru merdeka. Bahkan jika kita melihat jauh ke masa lampau, dalam konteks yang lebih luas, masalah krusial ini bahkan sudah terjadi sejak masa dinasti- dinasti Islam pada abad pertama hijriah.

PERSELISIHAN ULAMA DAN UMARA DALAM LINTASAN SEJARAH

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Perselisihan Ulama dan Umara di Masa Dinasti Islam

Muawiyah bin Abi Sufyan, Pendiri dinasti pertama dalam Islam, pernah mengalami hubungan tidak harmonis dengan ulama, ia bahkan memusuhi ulama besar Said bin Zubair yang merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Muawiyah menganggap Zaid sebagai ancaman bagi kekuasaannya, sehingga ia memerintahkan Gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi untuk memburu dan menangkap Said bin Zubair.

Dinasti Abbasiyah sebagai dinasti kedua dalam sejarah Islam, juga banyak mencatat khalifahnya yang berselisih dengan ulama. Abu Ja’far Al-Manshur satu dari tiga pendiri dinasti Abbasiyah memusuhi Imam Abu Hanifah yang merupakan tabiin sekaligus pendiri Mazhab Hanafi. Harun Ar-Rasyid, khalifah terbesar dalam dinasti Abbasiyah juga sempat terlibat perseteruan dengan banyak ulama, termasuk dengan Imam Syafi’i, pendiri Mazhab Syafi’i.

Perselisihan antara ulama dan umara ini terus terjadi pada masa-masa selanjutnya di hampir semua dunia Islam, termasuk di Indonesia. Sejarah perselisihan antara ulama dan umara di Nusantara sudah terjadi sejak negeri ini belum terbentuk, saat masih terpisah dalam bentuk kerajaan-kerajaan.

Kekejaman Raja Mataram Amangkurat I Terhadap Ulama

Tercatat dalam sejarah, perlakuan bengis Raja Mataram Sunan Amangkurat I (1646-1677) terhadap para ulama terkemuka berikut keluarga dan pengikutnya. Mereka semua ditangkap, lalu dikumpulkan di halaman keraton, kemudian dieksekusi. Banyak kalangan santri atau keluarga para ulama menjadi sasaran korban dalam tragedi itu. Pejabat VOC Rijklof van Goens mencatat sekitar 5.00o sampai 6.000 orang tewas. Suatu tragedi kemanusiaan di luar nalar yang pernah dilakukan oleh seorang penguasa muslim. Sunan Amangkurat 1 yang tentu juga memiliki penasihat agama, seolah lupa dengan peringatan Al-Quran surah Al Maidah 32. yang berbunyi:

أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا

“Siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seolah dia telah membunuh semua manusia.”

Setelah negara kita merdeka, perseteruan antara ulama dan umara kembali terjadi. Jika pada masa perjuangan ulama dan umara bahu membahu berperang melawan penjajah, semula tidak disangka, bahwa ketika kemerdekaan sudah berhasil diraih, ternyata sejarah harus mengabadikan episode buruk perselisihan antara penguasa dengan ulama dan tokoh-tokoh agama.

Perseteruan Ulama dan Umara di Zaman Orla dan Orba

Pada masa Presiden Soekarno, banyak ulama dan aktivis Islam yang mengalami kegetiran hidup akibat tidak harmonisnya hubungan dengan penguasa. Mr Kasman Singodimedjo—Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan pendiri Tentara Keamanan Rakyat (TKR) cikal bakal TNI, Mohammad Natsir—tokoh Islam internasional dan Perdana Menteri Pertama NKRI, Buya Hamka—ulama dan sastrawan, Prawoto Mangkusasmito— Ketua terakhir Partai Masyumi, Mohamad Roem—diplomat ulung yang mengukir perjanjian Roem-Royen, KH Isa Anshari, EZ Muttaqien, Yunan Nasution, dan lain-lain, dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan.

Ketika rezim Orde Lama berganti ke Orde Baru di bawah pimpinan Jenderal Soeharto, cerita tentang perselisihan antara ulama dan umara kembali terulang. Kita tentu belum lupa dengan intimidasi terhadap ulama karismatik Aceh Teungku Muhammad Daud Beureueh yang dianggap sebagai ancaman bagi Orde Baru. Untuk memisahkan dengan rakyat yang mencintainya di Aceh, Daud Beureueh disuntik paksa oleh aparat lalu dinaikkan helikopter untuk diasingkan di Jakarta.

Abuya Dimyati pengasuh Pondok Pesantren di Cidahu Pandeglang juga ditangkap dan dipenjara karena dinilai bisa memengaruhi perolehan suara partai penguasa pada Pemilu 1977.

Peristiwa berdarah Tanjung Priok September 1984, tercatat sebagai sebuah noda hitam Orde Baru dalam hubungan dengan umat Islam, sehingga DPR awal Reformasi bersama Presiden Abdurrahman Wahid membentuk pengadilan HAM ad hoc Peristiwa Tanjung Priok. Tidak kurang juga simpati Raja Arab Saudi Fahd bin Abdul Aziz memprotes peristiwa itu sebagai pembantaian umat Islam dengan menarik duta besarnya di Jakarta. Pemerintah Soeharto cukup lama membujuk Kerajaan Saudi untuk mengembalikan duta besarnya ke Jakarta.

SEBAB PERSELISIHAN ANTARA ULAMA DAN UMARA

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Setidaknya ada tiga faktor yang membuat hubungan antara ulama dan umara retak dan berujung pada perselisihan.

Motivasi Amar Makruf Nahi Mungkar

Konsistensi ulama dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagai penerus misi risalah, ulama memiliki kewajiban moral untuk menegakkan amar makruf nahi munkar kepada semua orang. Tidak hanya kepada masyarakat luas, tapi juga kepada kalangan penguasa. Ketika melihat umara tidak menjalankan amanah kekuasaan dengan benar, ulama memiliki kewajiban untuk meluruskannya. Persoalannya, teguran ulama kepada umara sering kali dinilai sebagai ancaman terhadap kekuasaan, sehingga bukannya dipatuhi, tapi justru dilawan dengan mesin kekuasaan.

Sulitnya menegakkan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa, sudah disadari Rasulullah Saw. 14 abad yang silam.

Oleh karena itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Nabi memotivasi ulama untuk tidak gentar menegur dan meluruskan penguasa.

“Jihad terbaik adalah mengatakan kebenaran kepada penguasa yang zalim.”

Sabda Nabi inilah yang dilaksanakan oleh ulama-ulama salafus shalih kepada Gubernur Iraq Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang terkenal bengis dan kejam. Semangat yang sama jugalah yang melatari ulama-ulama Ikhwanul Muslimin seperti Hasan Al-Banna, Thanthawi Jauhari, Sayyid Qutb, Abdul Qadir Audah, Hasan Al-Hudaibi kepada Raja Farouk penguasa Mesir yang terkenal suka berfoya-foya, gemar berjudi, korupsi, serta berbagai macam kelakuan buruk lainnya, sehingga rakyatnya menjuluki Pencuri dari Kairo.

Faktor yang sama pula yang membuat ulama-ulama di masa kerajaan Mataram menegur Raja Amangkurat I yang mempraktikkan ajaran Islam secara keliru. Mencampur-adukkan antara syariat Islam dengan asketisme Hindu dan mistisisme kejawen. Sementara para ulama tersebut hanya menjalankan perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”

Memang, tidak semua umara atau penguasa bersikukuh menganggap kritik dan teguran ulama sebagai ancaman terhadap wibawa kekuasaan. Sebaliknya banyak juga umara yang cepat menyadari kesalahan, lalu mengubah kebijakannya setelah ditegur oleh ulama.

Tanggung Jawab Moral Ulama untuk Melindungi Masyarakat

Dalam meneruskan misi risalah mengayomi, menjaga, dan melindungi umat Islam dari beragam anasir buruk yang mengancam dan membahayakan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

 “Sungguh, ulama itu adalah pewaris para nabi.”

Kata “pewaris” dalam hadis ini, jangan diterjemahkan secara sempit dalam konteks akidah dan ibadah semata. Tapi juga mencakup aspek muamalah dan keselamatan ragawi. Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. serta para nabi dan rasul sebelumnya.

Nabi Musa AS tidak hanya meluruskan aqidah Bani Israel, tapi juga menyelamatkan mereka dari derita perbudakan Raja Firaun dengan memimpin mereka hijrah ke Palestina. Nabi Muhammad Saw. tidak hanya membimbing umat untuk mengenal Allah Swt. dan hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tapi juga melindungi kaum Muslimin dari kekejian kafir Quraisy dengan memimpin mereka hijrah ke Madinah.

Sesampainya di Madinah, Rasulullah Saw. juga memimpin kaum Muslimin dalam sejumlah pertempuran menangkal agresi militer Quraisy. Misalnya dalam Perang Ahzab. Ketika perang ini pecah pada tahun ke-5 H., Rasulullah Saw. secara de facto adalah pemimpin spiritual bagi kaum Muslimin, kaum Yahudi yang juga mukim di Madinah belum mengakui kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai pemimpin negara. Namun ketika Nabi mendengar nasib kaum Muslimin terancam karena Abu Sufyan memimpin 4.000 pasukan untuk menyerang Madinah, Rasulullah Saw. mempercayakan kota Madinah kepada Ali bin Abi Thalib, sedangkan Nabi sendiri tampil memimpin pasukan Islam di garis depan.

Untuk kepentingan membiayai perang, Khalifah Azh- Zhahir (1176-1226) bermaksud memungut pajak tambahan. Lalu dikumpulkanlah para ulama untuk memberikan dukungan. Imam Nawawi menolak kebijakan Azh-Zhahir tersebut, sehingga harus menerima risiko diusir dari Damaskus.

Motif yang sama jugalah yang mendorong para ulama mengobarkan jihad melawan pemerintah kolonial Belanda. Mereka tidak rela kaum Muslimin hidup ketakutan di bawah rezim tiran penjajah. Di Indonesia bagian Barat kita mengenal nama-nama seperti Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, dan lain-lain. Di Indonesia bagian tengah kita mengenal Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, bahkan Kyai Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa resolusi jihad untuk mempertahankan kemerdekaan. Sementara itu, KH Ahmad Dahlan melakukan jihad di bidang pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan pertolongan kesengsaraan umum. Sementara di Indonesia bagian Timur, ada Sultan Hasanuddin, Pattimura, dan lain-lain.

Ulama Difitnah dan Diadu Domba

Sikap ulama yang istiqamah memegang ajaran Islam di tengah badai fitnah. Perseteruan antara ulama dan umara tidak selalu disebabkan oleh perbedaan pandangan antara keduanya. Ada kalanya hubungan mereka retak akibat ulah orang-orang yang tidak suka pada ulama, terutama yang dekat pada kekuasaan.

Imam Syafi’i meringkuk di penjara karena difitnah sebagai penganut Syiah Rafidhah. Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thabari diboikot bahkan dikepung dalam rumahnya karena tuduhan yang sama. Sementara Imam An-Nasa’i babak belur dihajar karena meriwayatkan hadis yang bernada sumir terhadap Muawiyyah bin Abi Sufyan.

Nasib yang sama dialami oleh para ulama dan aktivis Islam di masa Orde Lama. Tokoh-tokoh PKI yang dekat dengan Bung Karno memfitnah para ulama terutama yang aktif di dunia politik dengan beragam tuduhan. Maka jangan heran jika hampir seluruh tokoh partai Masyumi yang awalnya bersahabat dekat dengan Bung Karno dan sama-sama aktif dalam perjuangan mendirikan bangsa, harus meringkuk di dalam penjara.

Kondisi yang sama juga terjadi di awal pemerintahan Orde Baru. Segelintir orang yang tidak suka terhadap kiprah ulama, terutama di bidang politik, lalu disingkirkan dari pentas politik nasional. Syukurlah di akhir pemerintahannya, Soeharto mengubah kebijakan politiknya dan memberikan kesempatan kepada eksponen Islam untuk ikut serta membangun bangsa. Adanya istilah “Ijo Royo-Royo” adalah pertanda kebijakan Presiden Soeharto yang mulai mengakomodasi ulama dan politisi muslim di penghujung pemerintahannya.

Kondisi ini sejatinya telah diramalkan Rasulullah Saw. melalui hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari:

 “Sungguh, di belakang kalian akan datang hari-hari yang penuh dengan ujian kesabaran. Orang yang sabar pada masa itu, ibarat orang yang memegang bara api.”

AKIBAT DARI PERSELISIHAN ANTARA ULAMA DAN UMARA

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kemenangan Sejati Ulama

Jika kita belajar dari sejarah, ternyata akibat dari perselisihan antara ulama dengan umara sangat luas, merugikan semua pihak, dan dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Bagi para ulama. Sepintas mereka terlihat seperti pihak yang kalah dan dirugikan akibat dari perseteruannya dengan umara. Banyak ulama besar yang diuji ketabahannya akibat berselisih dengan umara. Keempat imam mazhab dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah, semuanya tak luput dari ujian tersebut.

Imam Abu Hanifah didera, bahkan diracun sehingga wafat di dalam penjara karena berseteru dengan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur. Imam Malik bin Anas disiksa sampai kedua tulang belikat dan persendiannya hampir putus, bahkan diarak keliling kota Madinah, akibat fatwa-fatwanya yang dinilai merugikan kepentingan penguasa.

Imam Syafi’i ditangkap, dipenjara, bahkan dipaksa berjalan kaki selama dua bulan dari Yaman ke Baghdad dengan tangan dirantai untuk dihadapkan kepada khalifah Harun Ar-Rasyid. Sementara itu, Imam Ahmad Ibnu Hambal harus mengalami penderitaan berat di masa tiga penguasa dinasti Abbasiyah yaitu Al-Makmun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq.

Apakah semua perlakuan kejam mampu membungkam para ulama dan membuat mereka dijauhi rakyat, dan dihapus dari sejarah? Sama sekali tidak. Justru sebaliknya, nama mereka semakin harum, kecintaan umat kepada mereka semakin bertambah, dan pengaruh mereka di tengah masyarakat justru semakin mengakar. Sebagai bukti, karya keempat imam Mazhab tersebut sampai sekarang masih menjadi rujukan utama di kalangan pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Bagi para ulama, sel tahanan dan pemasungan terhadap kebebasan mereka, justru dijadikan kesempatan emas untuk mengajari umat melalui karya-karya monumental mereka, yang terus dibaca dan dijadikan pedoman di masa yang panjang. Majmu Al-Fatawa Ibnu Taimiyah, Tafsir fi Zhilalil Quran Sayyid Qutb, Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, adalah sekelumit contoh karya-karya besar yang lahir dari balik jeruji besi. Oleh karena itu, banyak sekali kita temukan kutipan dari para ulama yang justru melukiskan kebahagiaan atas pemenjaraan yang mereka alami.

Ibnu Taimiyah berkata, “Bila penguasa yang memenjarakan saya tahu bahwa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merdeka, mereka pasti dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.” Buya Hamka juga berkata, “Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Tafsir Al-Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Oleh karena itu, ulama tidaklah rugi dan tidak kalah ketika harus memikul risiko akibat dari perselisihannya dengan umara. Mereka mampu mengubah risiko yang terberat sekalipun untuk menorehkan prestasi. Hal ini merepresentasikan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan Imam Muslim:

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, semua urusannya bernilai kebaikan, dan ini hanya dimiliki oleh orang mukmin. Saat mendapat kesenangan ia bersyukur, itu baik untuknya. Dan saat mendapat musibah ia bersabar, itu juga baik untuknya.”

Kemenangan Semu Umara

Bagaimana pula umara? Sekilas mereka memang terlihat seperti pemenang dalam perseteruan dengan ulama. Instrumen kekuasaan yang mereka gunakan untuk menyakiti fisik para ulama, terkadang efektif menumbuhkan rasa takut bagi ulama yang lain, sehingga mereka memilih memihak pada umara, atau sekurang-kurangnya bersikap netral.

Padahal kondisi ini hakikatnya adalah seleksi rabbani untuk membuka mata umat, agar mereka bisa membedakan antara ulama sejati yang istiqamah berpegang teguh pada kebenaran, dan ulama imitasi atau ulamaus su’ yang harus diwaspadai karena bisa membawa keburukan bagi umat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. dalam Kanzul Ummal

 “Celakalah umatku akibat dari perbuatan ulama yang buruk.”

Perlakuan buruk umara kepada ulama, bukan hanya membuat masyarakat semakin mencintai ulamanya, dan pada saat yang sama, hal itu akan menghilangkan simpati rakyat kepada penguasa, menurunkan kredibilitas mereka, bahkan bisa menimbulkan sikap antipati.

Sebagai bukti, ketika Gubernur Iraq Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi meninggal dunia, masyarakat dan ulama justru menyambutnya dengan gembira. Hasan Al-Bashri melakukan sujud syukur, Imam An-Nakha’i menangis gembira, sementara Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah dan Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, mengabadikan Al-Hajjaj dengan citra buruk. Betapa pun Hajjaj memiliki sisi-sisi kebaikan dan jasa besar bagi pembangunan kota Iraq, namun semua itu terhapus oleh ragam kisah buruk seputar dirinya. Sejarah lebih mengenal Hajjaj bin Yusuf sebagai gubernur bertangan besi, kejam, mudah membunuh karena hal-hal sepele, sering mengancam, dan suka berbicara kasar bahkan kepada Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Hal yang sama juga dialami oleh Raja Farouk bin Fuad penguasa Mesir. Nyaris tidak ada cerita tentang patriotisme dan heroismenya dalam Perang Arab-Israel. Yang lebih dikenang adalah pribadinya  yang hedonis, dan memusuhi ulama. Eksekusi mati terhadap Hasan Al-Banna memicu kebencian yang mendalam di hati rakyat Mesir. Kebencian inilah yang membuat kudeta Gamal Abdul Nasir berjalan lancar. Berikutnya Gamal Abdul Nasir saat berkuasa, melakukan hal yang lebih kejam dengan menghukum gantung ulama tafsir Sayyid Qutb.

Di masa Rezim Soeharto, kita pun mengenal seorang asistennya di bidang politik yang aktif melakukan rekayasa politik termasuk kudeta-kudeta kepemimpinan partai politik. Saat ia meninggal dunia, banyak umat Islam yang menyambut gembira dengan mengucapkan Alhamdulillah, tidak sebagaimana lazimnya mengucapkan innalillah.

Derita Rakyat Akibat Konflik Ulama dan Umara

Bagi masyarakat awam. Meskipun mereka tidak tahu menahu faktor yang membuat ulama dan umara berselisih, tapi merekalah yang paling merasakan dampak dari situasi tersebut. Timbulnya situasi tidak kondusif di tengah masyarakat akibat rasa saling curiga antara kalangan yang berpihak pada penguasa dan pengikut ulama, tak jarang melahirkan konflik horizontal yang merugikan.

MENDAMAIKAN PERSELISIHAN ANTARA ULAMA DAN UMARA

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Hakikat Kepemimpinan Ulama dan Umara

Ulama dan umara hakikatnya sama-sama pemimpin. Umara adalah pemimpin negara yang dihasilkan dari suatu sistem politik. Kekuasaannya dibatasi waktu dan hanya berlaku di suatu wilayah teritorial tertentu. Sementara ulama adalah pemimpin umat yang lahir secara alami dari kapasitas keilmuan dan kualitas kepribadian mereka. Teladan dan nasihat ulama yang tertuang dalam karya tulis, jejak perjuangan, dan amal jariyah yang diwariskan akan tetap dikenang oleh generasi demi generasi. Bahkan pengaruh mereka bisa jauh melintasi batas- batas teritorial suatu negara.

Tugas Mendamaikan Ulama dan Umara

Jika kedua golongan pemimpin ini, yaitu ulama dan umara terlibat perselisihan, maka kita wajib mendamaikan, sebagaimana diajarkan Al-Quran dalam surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [٤٩:١٠]

 “Sungguh, orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Mendamaikan dan memperbaiki hubungan antara ulama dan umara adalah tugas segenap elemen masyarakat, terutama tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh, baik dari kalangan ulama ataupun dari unsur umara.

Ketika islah atau perdamaian antara ulama dan umara tercapai, masyarakat pasti hidup damai dan tenteram. Program- program pembangunan akan berjalan lancar. Semua potensi dan sumber daya yang dimiliki bisa dimaksimalkan untuk meraih kemajuan dan kemakmuran. Dan, visi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan lebih realistis untuk diwujudkan.

Kisah Ali Sadikin dan Mohammad Natsir

Kisah antara Gubernur Legendaris Jakarta Ali Sadikin dan ulama karismatik Mohammad Natsir bisa kita jadikan contoh. Di awal pemerintahannya, Ali Sadikin sempat terlibat perseteruan dengan Mohammad Natsir beserta masyarakat pengikutnya. Penyebabnya adalah, kritik Natsir dan para ulama lainnya terhadap kebijakan Ali Sadikin yang melegalkan dan menjadikan perjudian sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Sempat terlontar kata-kata pedas dari Ali Sadikin kepada Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh Islam lain. Dari Balai kota ia berkata, “Jika Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh Islam itu tidak setuju dana judi digunakan untuk membangun jalan-jalan di Jakarta, suruh saja mereka naik helikopter kalau mau keluar rumah!”

Untunglah situasi ini tidak berlangsung lama. Ketika kedua tokoh ini sama-sama berada di tanah suci pada musim haji tahun 1974, Ali Sadikin berhasil dipertemukan dengan Mohammad Natsir. Kedua pemimpin tersebut bisa menggelar dialog dari hati-hati, yang membuahkan islah dan perdamaian. Hubungan keduanya pun kembali hangat, sehingga bisa bekerja sama— baik dalam pembangunan ibukota, maupun dalam berbagai kegiatan yang lebih luas.

Selanjutnya kedua pemimpin itu kembali bergandengan tangan dalam gerakan moral politik Petisi 50 menghadapi tirani Orde Baru. Dan ternyata kemudian Presiden Soeharto secara bertahap banyak mengubah kebijakan politiknya, khususnya terhadap umat Islam.

Setelah merasakan besarnya manfaat dekat dengan ulama, Ali Sadikin berkata, “Ternyata jika kita dekat dengan ulama, membangun Jakarta menjadi terasa lebih mudah.”

PENUTUP

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Harapan

Sebelum mengakhiri khutbah ini, khatib al-faqir ingin mengingatkan kembali bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki hubungan antara ulama dan umara yang akhir-akhir ini tidak harmonis. Tentu saja sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. Sekurang- kurangnya melalui doa kepada Allah Swt. agar hubungan antara ulama dan umara kembali harmonis. Semoga perselisihan yang telah membuat atmosfer politik nasional memanas ini cepat berakhir, sehingga bangsa bisa hidup damai dan tidak membuang-buang energi untuk suatu masalah yang tidak perlu. Aamiin… aamiin… ya rabbal ‘alamin.

Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, muliakanlah agama Islam dan tinggikanlah derajat kaum muslimin. Hapuskan segala bentuk kekufuran dan enyahkan segala bentuk kejahatan. Tegakkan panji-panji kebesaran-Mu hingga akhir nanti, dengan Rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

Ya Allah, tanamkan kepada kami rasa cinta kepada iman.

Hiasi hati kami dengan iman. Jauhkan kami dari segala bentuk kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikan kami orang-orang yang selalu berada dalam petunjuk-Mu.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.

Dan segala puji bagi Allah Tuhan Penguasa alam semesta.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا [١٧:٨١]

“Dan katakan, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (QS Al-Isra’ [17]: 81)

Catatan Kaki:

[1] Disampaikan pada Idul Fitri 1438 H di halaman Kampus Sekolah Tinggi Perbankan Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Yayasan Putra Fatahillah. Jl. Kramat Pulo Gundul No. 14-15 Johar Baru Jakarta Pusat. Ahad 1 Syawal 1438 H/ 25 Juni 2017.

(dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Tentang

Anggota DPD RI/MPR RI Senator dari DKI Jakarta.

Lihat Juga

Anak Kembar Recep Tayyip Erdogan Ini Wafat Akibat Ledakan Bom Klaster