Home / Dasar-Dasar Islam / Agama dan Kepercayaan

Agama dan Kepercayaan

Imam Mahdi dari Perspektif Aliran-Aliran Syiah (Bagian ke-2)

Kepercayaan syiah imamiyah tentang imam mahdi yang gaib (menghilang) ternyata dipenuhi kesimpangsiuran dan ketidakjelasan. Kondisi dan situasi itu diabadikan oleh salah satu ulama Syiah dan pakar sejarah Syiah pada abad ke-3 Hijri, yaitu imam Al-Hasan bin Musa al-Nawbakhti, dalam kitabnya yang terkenal “Firaq al-Shia”. Baginya perkara ini sebenarnya telah membingungkan pengikut syiah bermula sejak wafatnya imam Ali RA.

Baca selengkapnya »

Imam Mahdi dari Perspektif Aliran-Aliran Syiah (Bagian ke-1)

Konsep imam Mahdi merupakan salah satu perbincangan Syiah dalam bab Imamah (kepimpinan dan politik), dan konsep ini merupakan akhir dari perjalanan pembahasan Imamah Duniawi dalam akidah Syiah. Oleh karena itu sebelum membincangkan konsep imam Mahdi dalam ideologi Syiah, maka ada baiknya kalau mengenal terlebih dahulu konsep Imamah Syiah secara keseluruhan.

Baca selengkapnya »

Sikap Golongan-Golongan Syiah Terhadap Sahabat Rasulullah SAW

Sebelumnya telah didedahkan bahwa syiah yang kafir sebagaimana kesepakatan semua ulama (Sunni, Mu’tazilah, syiah Zaidiah dan Imamiah) adalah syiah Ismailiah Batiniah. Adapun syiah Zaidiah adalah syiah yang paling dekat dengan Sunni, ulama Ahlu Sunnah berbeda tanggapan dan pandangan terhadap syiah Imamiah atau sering disebut sebagai syiah imam 12.

Baca selengkapnya »

Menilik Konsep ‘Ishmah Dalam Pemikiran Aliran-Aliran Syiah “Zaidiah, Itsna’asyariah, Isma’iliah”

Bahwa segala sesuatu yang menunjukkan kewajiban nubuwwah juga menunjukkan kewajiban imamah. Dan jika para nabi memiliki sifat ma'shum, maka begitu juga halnya para imam, mereka juga memiliki sifat ma'shum. Hakikatnya, sesungguhnya sifat ma'shum yang dinisbahkan kepada para imam mereka adalah bertujuan mengakui berbagai periwayatan yang tidak sesuai dengan akal dan logika, yang dinisbahkan kepada seorang imam, dengan tujuan menutup pintu diskusi di hadapan para cendikiawan dan orang-orang pintar mengenai kandungannya, dan memaksa manusia untuk menerimanya. Karena semua riwayat ini muncul dari seorang imam yang ma'shum dan tidak akan melakukan kesalahan.

Baca selengkapnya »

Ahlu Sunnah Menyoal Konsep Imam Ma’shum Syiah

Iradah syar’iyyah yang berarti kecintaan dan keridadhaan Allah dalam menghilangkan dosa dari ahlul bait dengan cara menyucikan mereka, sebenarnya tidak memberikan dalil bagi adanya sifat ma'shum orang-orang yang dimaksud dengan ayat di atas. Sebab tidak akan dikatakan kepada orang yang suci “sesungguhnya aku ingin mensucikan orang yang suci”, karena orang yang sudah suci tidak perlu didoakan lagi kesuciannya, Jika ayat tersebut mengandung “kemaksuman” niscaya lafadz ayat akan berbunyi lain, yaitu: (أَذْهَبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ) " Allah telah menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait"[5]. Jadi tanpa diiringi dengan afadz “iradah”, atau sebagaimana teks asal ayat, yaitu: (يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ) “Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait”

Baca selengkapnya »

Rekonsiliasi Sunnah-Syiah, Mungkinkah? Kapan dan Bagaimana?

Mukadimah dakwatuna.com – Setelah mengkaji definisi Syiah Dua Belas Imam, sejarah perkembangannya serta konsepsi Syiah dari klasik hingga kontemporer, sebenarnya dapat dipetakan dengan jelas di mana posisi Syiah dalam pandangan Ahlu Sunnah dan sejauh mana jarak yang memisahkan antara keduanya. Namun realitanya Ulama’ Ahlu Sunnah semenjak dulu hingga kini, terbagi …

Baca selengkapnya »