Home / Dasar-Dasar Islam / Agama dan Kepercayaan / Rekonsiliasi Sunnah-Syiah, Mungkinkah? Kapan dan Bagaimana?

Rekonsiliasi Sunnah-Syiah, Mungkinkah? Kapan dan Bagaimana?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (esmikko.ru & godlessmom.com)
Ilustrasi. (esmikko.ru & godlessmom.com)

Mukadimah

dakwatuna.com Setelah mengkaji definisi Syiah Dua Belas Imam, sejarah perkembangannya serta konsepsi Syiah dari klasik hingga kontemporer, sebenarnya dapat dipetakan dengan jelas di mana posisi Syiah dalam pandangan Ahlu Sunnah dan sejauh mana jarak yang memisahkan antara keduanya. Namun realitanya Ulama’ Ahlu Sunnah semenjak dulu hingga kini, terbagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama, kelompok yang menganggap Syiah telah keluar dari koridor Islam. Kedua, kelompok yang meyakini bahwa Syiah tidak keluar dari koridor Islam meskipun memuat beragam keyakinan dan ajaran yang dianggap mereka menyimpang dari ajaran yang lurus. Ketiga, kelompok yang menganggap Syiah hanya sebagai gerakan politik semata.

Dari tiga sudut pandang ini timbul pertanyaan, mungkinkah rekonsiliasi antara Sunnah dan Syiah dapat diwujudkan? Jika mungkin, bagaimana? Jika tidak, mengapa?

Membaca realita obyektif sejarah umat Islam dapat kita temukan bahwa hubungan Sunnah-Syiah sepanjang sejarah didominasi oleh konflik, ketidakharmonisan dan bahkan pertumpahan darah. Untuk itu proses rekonsiliasi (taqrīb ) antara Sunnah-Syiah telah banyak dilakukan dan diupayakan. Bahkan rekonsiliasi antara agama, etnis, bangsa, kelompok, madzhab, dan organisasi, dalam arti saling mengenal, saling memahami dan mengerti, saling berdialog, saling mengkritik dan mengingatkan, saling bersinergi dan bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati untuk kemajuan bersama, saling membantu dan menguatkan pun banyak diupayakan, karena sejatinya rekonsiliasi dalam arti semacam ini merupakan cita-cita dan harapan mulia setiap umat manusia.

Pandangan sebagian Ahlu Sunnah bahwa Syiah telah keluar dari koridor Islam dan sebaliknya (pandangan sebagian Syiah bahwa Ahlu Sunnah telah keluar dari Islam), demikian pula pandangan penganut salah satu agama terhadap penganut agama lain, tidak secara otomatis harus mengubah status hubungan antara dua kelompok ini menjadi hubungan peperangan, pertikaian dan pertumpahan darah. Hubungan konflik dan peperangan dalam hubungan antar-manusia adalah hubungan pengecualian. Hubungan yang orisinal adalah hubungan keharmonisan.

Prinsip rekonsiliasi dalam arti di atas merupakan anjuran penting Al-Quran:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, serta Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui“.

Untuk itu masalah rekonsiliasi ini sejatinya tidak terletak pada penting-tidaknya rekonsiliasi itu, akan tetapi terletak pada apa dan bagaimana rekonsiliasi itu bisa diwujudkan. Inilah yang menjadi akar polemik dan perdebatan yang tak kunjung henti dari dulu hingga kini.

Banyak ulama’ dan lembaga, seperti yang akan kita sebutkan kemudian, telah berupaya melakukan rekonsiliasi Sunnah-Syiah ini, namun realitanya tidak ada yang bisa bertahan dan berlanjut hingga kini. Pertanyaan, mengapa demikian? Apa masalahnya? Lalu. apa dengan demikian rekonsiliasi masih mempunyai  masa depan? Ataukah, harapan itu seratus persen telah pupus? Pembahasan berikut berupaya mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas.

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (23 votes, average: 7,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dosen dan Ketua Program Studi Ilmu Aqidah Pascasarjana ISID Gontor Jawa Timur.
  • budi hawari

    Ngapain ada bahasan membuka rekonsiliasi sunni-syiah. Wong MUI sdh memfatwakan syi’ah sesat, kok msh mau bahas upaya itu. Bahasan yg hanya buang2 wkt. Singkirkan sj syiah dari Indonesia

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1438 H: Andai Ini Adalah Ramadhan Terakhir Bagiku