Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Khutbah Idul Fitri 1437 H: Agar Kemesraan Tak Segera Berlalu

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Agar Kemesraan Tak Segera Berlalu

Ilustrasi - Jamaah shalat di sebuah masjid di Pattani, Thailand. (senejet.net)
Ilustrasi – Jamaah shalat di sebuah masjid di Pattani, Thailand. (senejet.net)

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ       اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ      اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ”.

الحمـد لله رب المشـارق والمغـارب… خـلق الإنسـان مـن طـين لازب … ثم جعله نطفة بين الصلب والترائب…خلق منه زوجه وجعل منهما الأبناء والأقارب.. تـلطـف بـه …فنـوع لـه المطـاعـم و المشـارب… نحمـده تبـارك وتعـالى حمـد الطـامع فى المزيـد والطـالب… ونعـوذ بنـور وجـهـه الكـريـم مـن شـر العـواقـب…
وأشـهـد أن لا إلـه إلا الله القـوى الغـالـب … شـهـادة متيقـن بـأن الـوحـدانيـة لله أمـر لازم لازب …
وأشهد أن سيدنـا محمدا عبـد الله ورسـول الملك الـواهب … ما مـن عـاقـل إلا وعـلم أن الإيـمـان به حق وواجب …

معاشر المؤمين أوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله فقد فاز المتقون

Kaum Muslimin, hafidzakumullah

dakwatuna.com Bulan Ramadhan telah berlalu. Bulan yang telah mengharu biru perasaan kita. Membawa jiwa kita kepada ketinggian melalui tangga-tangga takwa. Suasana spiritual kita melambung tinggi meninggalkan bumi yang kita jejak menuju alam illiyyin. Tiba-tiba di bulan itu kita mengalami suasana batin yang berbeda. Tiba-tiba kita lebih dekat dengan masjid, lebih mesra dengan Al-Quran, lebih khusyu’ berhadapan dengan Ar-Rahman. Seolah kita tak tercipta dari tanah.

Suasana di rumah menjadi lebih meriah. Masjid ramai oleh jamaah. Kantor menjadi majelis taklim beriring merdu suara tilawah. Mall dan pusat perbelanjaan berhias spanduk dan baliho pesan-pesan dan taushiyah. Dengan pramuniaga mengenakan kerudung dan kopiyah. Pun pula host di acara Entertainment di media elektronik fasih mengucapkan salam dengan wajah sumringah. Lalu di penghujung bulan suasana bandara, terminal, pelabuhan dan stasiun kereta sibuk melayani pemudik menjinjing tas dan membawa kopor serta oleh-oleh sebagai hadiah.

Kegiatan Ramadhan diselenggarakan. Buka puasa bersama mempertemukan teman alumni seangkatan atau karyawan perusahaan. Atasan dan bawahan menyantap hidangan yang sama pada waktu yang telah ditentukan. Karena bawahan, bukan lantas bersantap belakangan sedang yang atasan didahulukan. Tarawih bahkan qiyam Ramadhan meriah dilaksanakan. Lalu para ustadz dan da’i mendadak menjadi selebriti yang meramaikan panggung-panggung kajian menyampaikan pesan-pesan ketakwaan.

Kaum Muslimin, hafidzakumullah

Mengertilah kita betapa Ramadhan telah membawa dan menciptakan perubahan, baik pada skala pribadi, keluarga, lembaga, dan masyarakat. Harapannya semoga perubahan itu bersumber dari keimanan. Sejak panggilan cinta dari Arrahman dari Arasy-Nya “Hai orang-orang beriman, diwajibkan kalian berpuasa…” yang sesungguhnya puasa itu bukan sekedar urusan perut, mulut, dan syahwat, dan ia lebih berurusan dengan jiwa. “Agar kalian bertakwa.”

الإِسْلاَمُ عَلاَنِيَةٌ، وَالْإِيْمَانُ فِي الْقَلْبِ، وَأَشَارَ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَائِلاً: اَلتَّقْوَى هَاهُنَا، اَلتَّقْوَى هَاهُنَا

“Islam adalah yang terang-terangan, iman di dalam hati.” Dan sambil menunjuk ke dadanya tiga kali beliau bersabda, “Takwa ada di sini, takwa ada di sini.” (HR Ahmad dari Anas bin Malik)

Dan tahulah kita jika perubahan dari bersumber dari keimanan, dari hati dan jiwa. Maka perubahan itu menjadi massif dan universal, raga dan fisik kita turut berubah. Pikiran dan perasaan kita ikut berbenah. Cita-cita dan harapan kita terarah. Intuisi kita terasah. Lalu lahirlah peradaban manusia yang membawa mereka kepada kebaikan dan ketinggian.

Sejarah telah membuktikan betapa manusia akan hidup harmoni apabila dikendalikan oleh nilai dan peradaban yang bersumber dari langit, dari hati dan jiwa. Timur dan Barat merasakan damainya, tenteramnya, kasih sayangnya, keadilannya, dan keindahannya. Potensi alam dan manusia tereksplorasi secara maksimal dan kemakmurannya terdistribusikan secara merata dan proporsional. Keberkahan langit dan bumi menyatu lalu dicurahkan demi kepentingan manusia.

Tempat kehidupan memang bumi namun sumber kehidupan berasal dari langit. Manusia memang hidup dan beraktivitas dengan fisiknya, namun ia tak berarti apa-apa tanpa kehidupan hati dan jiwanya.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan Apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122)

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi: 45)

Rasulullah saw bersabda,

أَلاَ إِنَ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal darah, jika ia sehat, sehat pula seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (Bukhari)

Abu Hurairah mengatakan, “Hati adalah raja dan tubuh adalah tentaranya, jika raja itu baik, baik pula tentaranya dan jika raja itu jahat maka jahat pula tentaranya.”

Begitu pula dengan bumi, ia akan ada kehidupan dengan kesuburan dan keindahannya serta rizki manakala ada peran langit.

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu[1418] dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (Az-Dzariyat: 22)

Kaum Muslimin, hafidzakumullah

Namun apa jadinya jika kehidupan manusia dikendalikan oleh jasad dengan segala tuntutan dan syahwatnya. Dengan ego dan kebodohannya. Bisa dipastikan bahwa produk yang dihasilkannya, baik yang berupa amal, kata-kata, bahkan pikirannya tidak jauh berbeda dengan karakternya. Fungsi-fungsi ruh dan jiwa tidak lagi berguna. Dan saat itu tak ada bedanya manusia dengan makhluk lain yang diciptakan dari tanah yang sama.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46)

Demikian pula jika seluruh kehidupan ini dikendalikan dan diatur oleh unsur tanah dan bumi dengan segala produk bumi dalam hal nilai, aturan, undang-undang, budaya, dan estetika. Maka tidak akan ada harmoni di dalamnya. Akan terjadi kontradiksi pada tataran pelaksanaannya.

Apa yang terjadi di tengah kehidupan ini inilah biang dan sumbernya karena bukan wahyu dan titah langit yang menjadi sumber acuan. Maka keadilan langit tidak ditegakkan. Kebaikan dan keburukan tidak jelas ukurannya. Siapa yang punya kuasa, dialah yang bisa memaksakan kebaikan versi dirinya. Manusia menuruti kehendak dan nafsu syahwat hayawaniyah dengan mengabaikan norma langit. Hingga kejahatan dan kemaksiatan terjadi dimana-mana, tanpa ada perasaan bersalah oleh pelakunya.

Kaum Muslimin, hafidzakumullah

Puasa menciptakan harmoni hubungan antar jasad dan ruh, antar fisik dan jiwa dan menjadikan jiwa sebagai pusat kendali. Harmoni hubungan antara langit dan bumi. Insan bertakwa adalah yang kakinya menjejak bumi namun kepalanya menjelajah langit. Yang berjalan di tengah manusia, bergaul dan bergumul, memberi dan menerima. Perkataan dan perbuatannya bersumber dari jiwa dan hati yang sepenuhnya berada dalam genggaman Ar-Rahman, Tuhannya. Itulah suasana Ramadhan yang indah dan penuh kemesraan.

Namun, bulan lain adalah bulannya Allah juga, sebagaimana bulan Ramadhan. Hari lain adalah hari-hari Allah. Jika di bulan Ramadhan kita merasakan keindahan suasana spiritual kita. Itu bukan semata karena momen Ramadhannya semata. Betapa banyak manusia yang di bulan suci kemarin tetap dikuasai oleh setannya, syahwatnya, nafsunya, dan tuntutan jasad kebumiannya. Maka agar harmoni ini tidak segera berlalu dengan berlalu bulan Ramadhan. Berikut ini suasana yang tetap bisa dijaga meski berlain bulan berbeda hari. Dan kita tetap menjadi hamba Allah di bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan.

1. Mengikat Diri dengan Akhirat dan Apa yang Dijanjikan Allah

Nuansa spiritual sangat terasa selama bulan Ramadhan. Amal dan ibadah kita jelas sekali orientasinya. Kita berharap balasan dan janji Allah. Dengan janji-janji pahala dan surga kaum Muslimin gegap gempita memenuhi panggilan Allah. Berlapar dahaga dan berlelah-lelah rela dialami demi meraih pahala Allah. Kantuk ditahan agar bisa mengeja Al-Quran karena berharap syafaatnya. Hingga surga terasa di depan mata.

Orientasi akhirat membuat si kaya tak tertipu dan dengan kekayaannya dan tidak menjadikannya sombong dengan kekayaannya. Kekayaannya tidak menjadikannya bangga diri dan merasa lebih mulia dari yang lain. Justru dengan kekayaannya membuatnya khawatir terhadap beban pertanggung-jawabannya menjadi berat di akhirat kelak. Orientasi akhirat dan apa yang ada di sisi Allah membuat si miskin tidak minder dengan kemiskinannya. Bahkan kemiskinannya membuatnya merasa bangga dan bahagia karena beban pertanggung-jawabannya lebih ringan di akhirat nanti.

Dengan orientasi akhirat, maka semua yang terjadi menimpa seseorang, sedih, gembira, derita, bahagia, sakit, sehat, lapang, sempit, mudah, susah, malang, mujur, dizalimi, dimuliakan, dihina, disanjung, semuanya adalah kendaraan yang membuat orang beriman berselancar menuju kenikmatan dan balasan akhirat. Semua fana dan sementara. Akhiratlah yang kekal dan abadi.

والآخرة خير وأبقى

“Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 17)

2. Menjaga Syiar-syiar Ibadah

Syiar-syiar ibadah ibarat terminal-terminal kehidupan. Di terminal-terminal itu kita berhenti sejenak untuk menambah bekal perjalanan dan menambah bahan bakar kendaraan. Sembari mengevaluasi perjalanan yang kita lewati. Dari shalat ke shalat, dari satu ibadah ke ibadah yang lain. Demikian pula dengan ibadah lain, puasa, zakat, haji.

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ؛ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang kesalahan-kesalahan yang dihapus Allah dan mengangkat derajatnya?” Para sahabat menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu terhadap bagian-bagian yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid. Dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

3. Menjaga Suasana Keberagamaan dalam Keluarga dan Masyarakat (tadayyun a’ily wa sya’bi)

Di bulan Ramadhan kemarin kita beribadah bersama keluarga. Anak-anak yang belum baligh pun mulai diajari berpuasa. Di masjid penuh dengan suara gaduh anak-anak bermain dan bercanda. Beberapa daerah membuat perda larangan berjualan makanan di siang hari untuk menghormati yang sedang berpuasa. Hampir semua stasiun televisi membuat acara spesial edisi Ramadhan. Di kampung-kampung maupun di kota para pedagang menjajakan aneka makanan dan minuman berbuka. Itu adalah syiar-syiar Ramadhan yang memasuki seluruh wilayah kehidupan di semua segmen, utamanya segmen keluarga dan masyarakat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Pasca Ramadhan suasana itu tetap perlu dijaga. Anak-anak tetap perlu diajak memakmurkan masjid. Masyarakat perlu dilibatkan dalam menjaga suasana keberagamaan, menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Masing-masing bertugas di posnya masing-masing sesuai dengan kapasitasnya. Da’i, guru, tokoh agama, pemerintah dengan berbagai levelnya

4. Interaksi dengan Al-Quran

Baik dengan membacanya, menghafalnya, mentadaburinya, dan mengamalkannya. Rutinitas tilawah akan menjaga spiritual seorang mukmin. Jika di bulan Ramadhan kemarin masing-masing pribadi memiliki target mengkhatamkan tilawah Al-Quran, pasca Ramadhan jangan sampai kitab suci itu ditinggalkan. Tetap memiliki target meski secara kuantitas berkurang daripada bulan Ramadhan.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)

5. Menjauhi Kemungkaran

Menjadi shalih adalah dengan melakukan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Jika pada bulan Ramadhan kita mampu menahan diri dari kemungkaran, baik pada tataran perbuatan, lisan, dan hati. Di luar bulan Ramadhan kemungkaran tidak berubah menjadi kebaikan, ia tetap sebagai keburukan dan dosa yang mesti dijauhi. Kemampuan mengendalikan diri di bulan Ramadhan harus ada dampaknya pasca Ramadhan nanti. Jika pada bulan Ramadhan kita mampu menjauhi kemaksiatan, bukan lantas di luar Ramadhan kita bebas mengumbar hawa nafsu dan mempertontonkan kemaksiatan.

Kendatipun intensitas nasihat dan taushiyah di berbagai tempat dan media berkurang, bahkan tak jarang di antaranya yang mengajak manusia melakukan kemaksiatan. Spirit Ramadhan tidak boleh melemah dalam membentengi diri dari dosa dan kemungkaran. Bukankah Allah telah jadikan puasa sebagai tameng dan benteng?

Rasulullah saw bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah perisai.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Kaum Muslimin, hafidzakumullah

Memang puasa tidak lantas menjadikan kita menjadi malaikat. Orang-orang bertakwa bukanlah mereka yang menafikan unsur jasad dengan menyuplai semua kebutuhan ruh mereka. Namun puasa mengembalikan unsur ciptaan kita berperan secara proporsional sebagaimana ia digariskan. Apatah lagi di zaman akhir ini. Di mana dominasi tanah dan bumi begitu meraja lela. Saking melampaui batasnya manusia hendak mengambil alih peran-peran ketuhanan.

Maka, ada saatnya kau perlu naik ke ketinggian spiritual saudaraku. Agar kau tidak dikendalikan oleh jasad dan bumimu.

Kuatkan keimananmu terhadap risalah langit untuk bumi. Risalah langit adalah solusi, adalah jawaban bagi segala persoalan yang ada di bumi.

Jasad yang banggakan kelak akan dikubur di perut bumi sedangkan ruhmu akan naik ke langit.

Bermi’rajlah ke langit dengan sujud dan ruku’mu agar kau rasakan di shalat-shalat wajib dan sunnah agar kau rasakan damainya hati, sehatnya jasad, tenteramnya pikiran.

Naiklah ke ketinggian malakutus-sama’ dengan zikirmu dan nikmatilah keindahan langlang buanamu

Lantunkan kalimat-kalimat langit dari kalimat-kalimat bumi dalam banyak waktumu niscaya kau tak akan terlalu dalam terseret oleh gravitasi bumimu

Bila malam tiba, sematkan tekad untuk menemui Tuhan-Mu dalam munajat dan doamu agar terasa ringan beban bumi yang ada di pundakmu.

Hadirlah kelak menemui Tuhanmu dengan hatimu yang selalu kau bersihkan, dengan jiwamu yang selalu kau sucikan. Di saat mana, tak ada gunanya harta bendamu yang kau kumpulkan dan anak-anakmu yang kau banggakan.

Dan marilah kita tengadahkan tangan ke langit dengan kerendahan hati dan kehinaan jiwa di hadapan Dzat yang Maha Suci dan Maha Sempurna

اللهم علمنا ما ينفعنا وانفعنا بما علمتنا وفقهنا في دينك يا ذا الجلال والإكرام

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا, وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا يا أرحم الراحمين

اللهم احفظنا بالإسلام قائمين واحفظنا بالإسلام قاعدين واحفظنا بالإسلام راقدين ولا تُشمت بنا أعداء ولا حاسدين

اللهم أعزَّ الإسلام والمسلمين وأذلَّ الشرك والمشركين واحمِ حوزةَ الدين، وانصر عبادك المؤمنين في كل مكان

اللهم أصلح أحوال المسلمين حكاماً ومحكومين، اللهم انصر المستضعفين من المؤمنين، اللهم احقن دماء المسلمين، اللهم ارفع البلاء عن المستضعفين من المؤمنين، اللهم نج إخواننا في سوريا المستضعفين  وفي فلسطين المظلومين المغصوبين وفي العراق المقهورين وسائر بلاد المسلمين، اللهم ليس لهم حول ولا قوة إلا بك اللهم ليس لهم إلا أنت يا قوي يا عزيز اللهم انصرهم على من ظلمهم وعاداهم

اللهم عليك بالكفرة والملحدين واليهود الظالمين وحِزب البَعث العلويين وكل من في عونهم وتأييدهم ونصرتهم بالمال والقلم والكلام الذين يصدون عن دينك ويقاتلون عبادك المؤمنين اللهم عليك بهم فإنهم لا يعجزونك، اللهم زلزلهم وزلزلِ الأرض من تحت أقدامهم، اللهم سلط عليهم مَنْ يسومهم سُوء العذاب يا قوي يا متين، اللهم احفظ لهذه البلاد دينها وعقيدتها وأمنها وعزتها وسيادتها، اللهم احفظها ممن يكيد لها، اللهم وفق حكامها وأعوانهم لما فيه صلاح أمر الإسلام والمسلمين، وبصّرهم بأعدائهم يا حي يا قيوم

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

(dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Asfuri Bahri, Lc
Lahir di Lamongan dan telah dikaruniai Allah 6 orang anak. Lulusan MTS di Gresik, MA di Gresik, dan LIPIA Jakarta. Sehari-hari sebagai Pengajar. Aktif di beberapa organisasi, antara lain LSM FOCUS, dan IKADI DKI Jakarta. Beberapa karya ilmiah telah dihasilkannya, antara lain "Rambu-Rambu Tarbiyah" (terjemahan, CIP Solo), "Anekdot Orang-Orang Tobat" (Darul Falah), "Galaksi Dosa" (Darul Falah), dan "Kereta Dakwah" (terjemahan, Robbani Press). Moto hidupnya adalah "Pada debur ombak, daun jatuh, hembus angin, ada tarbiyah".

Lihat Juga

(Foto) Rakyat Palestina Rayakan Kemenangan