Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Khutbah Idul Fitri 1438: Pelajaran dari Laba-laba

Khutbah Idul Fitri 1438: Pelajaran dari Laba-laba

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (fotografer.net / Rahman Hakim)

dakwatuna.com

إنَّ اَلْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَلَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. والصلاة والسلام على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين, أما بعد: فيا معاشر المسلمين رحمكم الله أوصيكم وإيايا بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال تعالى:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Sudara-saudara sekalian rahimakumullah..

Pagi ini kita semua mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Allahu akbar.. Allahu akbar Laa ilaaha illallahu Allahu akbar walillahilhamd. Allah maha Besar.. Allahu maha Besar.. Tidak ada tuhan yang patut disembah dengan benar kecuali Allah.. Allah maha Besar.. Dan bagi Allah segala puji.

Inilah pokok aqidah kaum Muslimin, orang-orang yang beriman, pengikut Nabi Muhammad Saw. Hanya Allah yang maha Agung. Hanya Allah yang patut disembah, dipatuhi dan ditaati. Allah sebagai tempat bergantung. Hanya Allah yang maha sempurna. Hanya Agama Allah, yaitu Islam, yang benar dan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua selain Allah adalah lemah, tak layak disembah dan dijadikan sebagai tumpuan hidup. Selain Allah apapun bentuknya, jangankan menolong orang lain, menyelamatkan diri sendiri takkan bisa.

Semua pada dasarnya takkan ada yang bisa lari dan sembunyi dari Allah. Allah maha terpuji, karena semua nikmat dan rahmat adalah anugerah dari-Nya. Siapa yang bisa mencipatakan air meski hanya setetes, tak ada kecuali Allah. Siapa yang bisa mencipyakan beras meski hanya sebutir tak ada kecuali Allah.

Maka betapa aneh, kalau ada manusia, masyarakat yang menyembah selain Allah. Betapa aneh kalau ada manusia yang mencari perlindungan kepada selain Allah. Betapa aneh kalau ada manusia yang mencari kebahagiaan tapi tidak melalui ridha dan Agama-Nya. Betapa aneh bila ada manusia yang tidak patuh dan tidak taat kepada Allah, padahal dia tak bisa lepas dari karunia, rahmat dan nikmat dari-Nya.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara sekalian yang berbahagia…

Sejenak dalam kesempatan yang mulia ini mari kita perhatikan perumpamaan dan gambaran kehidupan orang-orang yang tak beriman. Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 41)

Ayat di atas banyak memberikan pelajaran. Pertama, kehidupan orang-orang yang tak beriman, yang tidak bertauhid dan tidak beragama Islam adalah seperti kehidupan laba-laba. Laba-laba itu bisa membuat rumah, tapi rumah yang dibuat tak bisa dijadikan tempat berlindung baik di saat panas maupun hujan. Rumah itu dibuat hanya untuk cari makan. Dan rumah laba-laba itu sangat lemah. Bila ada hujan atau angin atau serangan meski tidak begitu besar maka sarang-sarang laba-laba itu hancur berantakan seketika. Laba-laba yang membuat rumah semacam itu adalah wajar. Karena memang laba-laba. Tidak berakal dan tidak pernah belajar. Tapi bagaimana dengan manusia yang menjadikan selain Allah sebagai tuhan, pelindung dan penolong, betapa bodohnya mereka itu.

Kedua, apa pun selain Allah adalah lemah. Maka tak layak dijadikan sebagai tuhan, tumpuan hidup, tempat bergantung dan dimintai pertolongan. Maka hendaknya kita tidak silau dengan apapun selain Allah. Semua pasti sirna.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Semua yang ada adalah fana. Dan yang kekal hanyalah Wajah Tuhanmu (yaitu Allah) Yang maha agung dan mulia.” (Ar-Rahman: 26-27)

Ketiga, siapa saja yang menjadikan apa-apa selain Allah sebagai tempat bergantung, tumpuan dan dimintai untuk memberikan keselamatan, maka takkan dapat apa-apa kecuali kehancuran.

Keempat, ayat ini juga memberikan pelajaran bahwa segala sistem buatan manusia yang tidak bersumber dari Agama Islam adalah sangat rapuh. Tidak bersumber Kitabullah dan Sunnah Rasul adalah sangat lemah. Bak sarang-sarang laba-laba. Tidak akan bisa membawa kepada kehidupan yang nyaman, adil dan sejahtera. Lihatlah, betapa hukum dan peraturan-peraturan yang dibuat manusia dengan berbagai tingkatan dan nama yang nampaknya modern, tapi sangat rapuh. Baru saja kemarin ditetapkan, tapi sekarang sudah dirubah. Persis seperti laba-laba, terus menerus menyulam jaring sarangnya. Karena selalu saja ada yang rusak dan tak bisa sempurna. Karena itulah Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Ma’idah: 50)

Kelima, ayat di atas yang mengilustrasikan tentang laba-laba dan rumah, memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya membangun kehidupan rumah tangga yang kuat dan kokoh. Bukan seperti “rumah tangga” laba-laba yang sangat rapuh dan mudah berantakan. Rumah dibangun hanya untuk makan dan mencari makan. Dan “Rumah Tangga” laba-laba ini juga sangat aneh. Yang aktif dan sangat kuat adalah fihak betina. Seperti yang diisyaratkan ayat di atas. Failnya adalah laba-laba betina. Ittakhadzat baitan. Yang bisa merajut jaring hingga menjadi sarang adalah sang betina. Yang bisa dengan sangat sigap dan kuat untuk menangkap mangsa dan membelitnya adalah sang betina.

Sementara laba-laba jantan santai berjalan dan makan di pinggir-pinggir sarang. Dan, baru mendekat kepada sang betina bila ada “kehendak”. Karena kelemahannya ini, maka laba-laba jantan harus mati dimakan sang betina sendiri di saat berhubungan badan. Kalau ada laba-laba jantan yang bisa lolos di malam pertamanya, takkan bisa lolos di malam kedua, atau dia sendiri yang harus menghabisi sang betinanya. Lalu, kalau lahir anak-anak, maka tak lama mereka pasti kabur. Karena kalau tidak, tentu akan dimangsa oleh induknya sendiri.

Lihatnya, betapa banyak rumah tangga manusia yang mirip dengan rumah tangga laba-laba. Bahkan, bisa lebih tragis. Itulah rumah tangga yang tidak dibangun atas dasar keimanan dan Syariat Islam. Rumah tangga yang dibangun hanya untuk mencari makan, hingga akhirnya saling makan memakan. Rumah tangga yang tak mengerti manejemen atas dasar Islam. Hingga suami tak tahu peran, dan isteri pun menjadi sangat kelewatan. Apa hasilnya? Itulah “Rumah Tangga” laba-laba. Terkadang tampak mewah, megah dan berada di atas. Tapi akhirnya hancur berantakan mengenaskan.

Dalam sistem Islam membangun Rumah Tangga itu memiliki tujuan yang suci, serta harus terpenuhi syarat dan rukunnya. Lalu masing-masing suami isteri itu memiliki hak dan kewajiban. Hingga terjadilah penyatuan, isteri adalah pakaian bagi suami dan suami adalah pakaian bagi isteri. Visinya bukan terbatas di dunia, tapi surga di akhirat. “Baiti jannati.” (Rumahku surgaku),” kata Nabi.

Keenam, kaum musyrikin, kaum kuffar, dan kaum munafiqin. Mereka yang tidak beriman itu. Yang tidak bertauhid. Yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dan tidak menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan. Mereka semua itu adalah sangat bodoh dan hina. Meski mereka itu mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi. Meski mereka memiliki gelar kesarjanaan yang berderet panjang. Tak lebih, mereka hanya seperti laba-laba. Bahkan lebih bodoh. Laba-laba itu bodoh adalah wajar.

Karena tak pernah sekolah dan tak bisa belajar. Dan memang tak memiliki akal fikiran. Tapi bagaimana dengan manusia yang sekolah dan berakal fikiran tapi tidak juga mau mengerti siapa yang seharusnya disembah, dimintai pertolongan dan diharapkan menjamin keselamatan? Masih juga tak mengerti bahwa Allah itulah yang maha Besar, tidak ada tuhan selain Allah. Masih tidak tahu juga hukum siapa yang seharusnya dipatuhi, kitab apa yang seharusnya dikaji dan dijadikan pedoman hidup? Sudah banyak ditimpa kegagalan, tapi masih mengulangi lagi perbuatan yang telah membuatnya gagal.

Padahal ada pepatah, kerbau saja tidak akan jatuh dua kali di lubang lumpur yang sama. Itulah, maka mereka yang seperti itu disebut sebagai orang-orang jahiliyah, masyarakat jahiliyah atau bangsa jahiliyah. Meski tampaknya kuat, kaya, megah, maju, berilmu, dst. tapi itu hanya lahiriah saja.

Oleh karena itu, kita tak boleh silau dengan mereka semua. Meski maju, tapi tanpa iman takkan berarti sama sekali. Allah berfirman:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 55).

Keenam, keutamaan orang beriman. Keutamaan Orang Islam. Keutamaan orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Keutamaan pengikut Nabi Muhammad Saw..

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sungguh, beruntunglah orang-orang yang beriman.” (Al-Mukminuun: 1)

Orang yang beriman hidup dengan aqidah yang kokoh. Aqidah tauhid Laa ilaaha illallah. Orang beriman hidup dengan sistem hidup yang sempurna, yaitu Agama Islam. Dan dengan pedoman yang laa raiba fiih ( tak ada keraguan sama sekali), tak mengenal revisi hingga hari kiamat, selalu relevan untuk seluruh manusia di seluruh jagad, yaitu Al-Qur’an. Panutan dan suri teladan yang sangat jelas, sosok manusia sempurna, yaitu Nabi Muhammad Saw..

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara sekalian.. Inilah nikmat terbesar dan terpenting. Yaitu, iman, tauhid, Islam, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw. Sesungguhnya semua harta benda, pangkat jabatan, dan kesehatan tidaklah ada gunanya tanpa nikmat iman ini.

Yang kaya tak berguna dan pasti celaka bila tak bisa mengucapkan Laa ilaaha illallah. Yang memiliki jabatan tinggi sama sekali tak berarti bila tak ada Islam dalam hati. Yang sehat tak ada gunanya bila tak percaya dengan Al-Qur’an. Yang tampan, cantik, dan pintar pastilah tersesat bila tak mau mengikuti Nabi Muhammad Saw..

Oleh karena itu, bila ada di antara kita yang kini sedang sakit, tak mengapa.. Bila ada yang mulai berkurang tenaga, penglihatan dan pendengaran, tak mengapa. Bila ada yang berkurang hartanya, atau menderita kesulitan ekonomi, tak mengapa. Tak mengapa, yang penting iman kita tidak berkurang. Keislaman kita masih utuh. Keimanan kita kepada Al-Qur’an dan Nabi Muhammad tetap kuat.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara.. Ajal saatnya pasti akan tiba. Tempat pertama yang akan kita singgahi adalah alam kubur. Ketika kita sendirian, datanglah dua malaikat yang menanyai. Man Rabbuka, Siapa Tuhanmu? Apa Agamamu? Apa kitabmu? Siapa Nabimu? Pertanyaan-pertanyaan ini takkan mungkin kita hindari. Bukan lisan ini yang menjawab. Tapi kenyataan jati diri kita saat hidup di dunia. Kalau hati dan perbuatan kita tidak sungguh-sungguh secara utuh beriman, berisman, ber-kitab Al-Qur’an dan mengikuti Nabi Muhammad Saw., maka kita takkan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Naudzu billah min dzalik.

Setelah kita meninggal dunia, tak penting lagi jabatan, harta, dari mana kita, anak siapa kita, S1 atau S2 bahkan S3 tak berpengaruh. Pertanyaannya sama. Seputar Agama itulah soal-soalnya. Di akhirat semua manusia sama. Hanya tingkat iman dan amal shalih yang membedakan. Semua manusia bertanggung jawab secara individual terhadap diri sendiri. Tak ada tolong menolong dan bisa bantu membantu. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (Lukman: 33)

Jadi, iman, Islam, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad inilah yang terpenting dalam hidup kita ini. Inilah rahmat terbesar. Semua boleh berkurang bahkan tak mengapa hilang, termasuk badan kita nantinya habis dimakan binatang-binatang yang ada di dalam tanah, tak mengapa asal ke-Imanan ini tak pernah berkurang.

Yang penting kita tetap benar-benar menjadi orang Islam lahir dan batin. Biarlah orang bangga dengan buku ini dan itu, peraturan ini dan itu, pasal sekian dan pasal sekian, yang penting yang ada dalam dada, lisan, fikiran dan perbuatan kita adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Serta panutan kita adalah Nabi Muhammad Saw..

Allahu akbar 3x walillahilhamd.

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Ibu, Saudara-saudara sekalian rahimakumullah. Hari ini kita gembira tapi juga bersedih. Bergembira dengan Idul Fitri, tapi kita bersedih karena Ramadhan telah pergi. Pergi, yang tak tahu apakah kita masih bisa bertemu lagi. Setelah ini, ujian, cobaan dan godaan Syetan pastilah bertubi-tubi. Untuk itu, marilah tidak kita tunda-tunda lagi. Kita terus segera beramal. Kita pelihara dan kita teruskan ibadah yang sudah dengan baik kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Jangan sampai amal ibadah kita setelah ini tergadai.

Jangan sampai keimanan kita berkurang apalagi sampai terjual. Sekali lagi, iman, Islam, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad inilah yang terpenting. Rahmat yang yang terbesar. Tak boleh sampai kita tukar dengan apapun. Jangan sampai kita hidup seperti laba-laba. Seperti orang-orang yang tak beragama, musyrik atau munafiq. Yang dinyatakan oleh Allah:

وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 41)

Jamaah Rahimakumullah, mari kita semua segera beramal. Yang mudah, anak-anak, dan yang tua. Mari kita lestarikan ibadah yang sudah kita bangun selama Ramadhan. Nabi mengingatkan:

بَادِرُوا بِالأعْمَال فتناً كقطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ ، يُصْبحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناً وَيُمْسِي كَافِراً ، وَيُمْسِي مُؤمِناً ويُصبحُ كَافِراً ، يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنيا (رواه مسلم)

“Bersegerahlah kalian kalian beramal shalih. Karena akan datang banyak fitnah atau ujian seperti bagian malam yang gelap gulita. Maka akan ada orang yang pagi hari beriman sore hari menjadi kafir, dan sore hari beriman pagi hari menjadi kafir. Dia menjual Agamanya dengan kepentingan-kepantingan dunia.” (HR. Muslim)

Akhirnya, semoga kita bisa istiqamah. Semoga Allah mengampuni dan menerima amal ibadah kita semua. Dan, semoga kita semua nanti masuk Surga bertemu dengan Nabi Muhammad Saw..

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْت عَلَى إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْت عَلَى إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللهم اغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua, guru-guru kami, dan saudara-saudara kami, kaum Muslimin semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Ya Allah, hanya kepada-Mu, kami mengabdi. Hanya kepada-Mu, kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu, kami menuju dan tunduk. Kami mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu. Kami takut azab-Mu, karena azab-Mu sangat pedih.

Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan berdiri. Ya Allah, jagalah kami dengan Islam dalam keadaan duduk dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan tidur. Jangan jayakan orang-orang non Islam atas kami.

Ya Allah, Engkau yang menyelamatkan nabi Nuh dari taufan badai dan banjir yang menenggelamkan dunia, Engkau yang menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api menyala, Engkau yang menyelamatkan Isa dari salib kaum durjana, Engkau yang menyelamatkan Yunus dari gelapnya perut ikan, Engkau yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari makar kafir Quraisy, Yahudi pendusta, munafik pengkhianat, pasukan Ahzab angkara murka.

Laa ilaaha illa anta subhanaka innaa kunnaa minadhdhaalimiin…3X

Ya Allah, yang mendengar rintihan hamba lemah dan banyak dosa. Ya Allah, lindungi kami, masyarakat kami, dan anak-anak kami dari berbuat dosa dan godaan Setan. Jangan segera Engkau lenyapkan hari yang suci ini. Berikanlah waktu kepada kami. Kami masih ingin bertemu dengan bulan Ramadhan lagi. Kami masih ingin shalat ‘Idul Fitri seperti ini lagi. Ya Allah, jangan biarkan orang-orang yang sengaja merusak kesucian ‘Idul Fitri dengan pesta dosa dan kemaksiatan. Yang membuat masyarakat kami rusak dan anak-anak kami hancur. Ya Allah, jauhkan mereka dari kami.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang sedang dilanda kesedihan, dan musibah, para janda, anak-anak yatim, kaum lemah, dan para fakir-miskin. Sembuhkan yang sakit. Anugerahkan kebahagiaan kepada mereka. Siramilah mereka dengan rizki yang melimpah dari sisi-Mu yang penuh berkah. Kami lemah tak begitu berdaya membantu dan menyantuni mereka. Ampuni kami, ya Allah.

Ya Allah, kumpulkanlah hati-hati kami di atas dasar kecintaan kepada-Mu, pertemukanlah di jalan ketaatan kepada-Mu, satukanlah di jalan dakwah-Mu, dan ikatlah di atas janji setia demi membela syariat-Mu. Ya Allah, padukanlah jiwa-jiwa ini sebagai hamba-hamba-Mu yang beriman.

Persatukan di antara kami yang sedang bersengketa. Sirnakan orang-orang yang hendak merusak dan berkhianat. Jangan beri tempat mereka yang komunis, yang tak beriman kepada-Mu, Kitab-Mu dan Rasul-Mu. Jayakan kami umat Islam. Berkahi negeri kami. Jadikan negeri ini sebagai negeri yang Engkau ridhai.

Ya Allah, lepaskanlah dan jauhkanlah dari kami penguasa-penguasa zhalim, fasik, dan kafir. Anugerahkan kepada kami pemimpin-pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur dan amanah, yang menjadikan Kitab-Mu sebagai landasan kepemimpinannya, menerapkan syariat-Mu, dan membawa kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhai.

Ya Allah persatukan umat Islam di seluruh dunia. Ya Allah persatukan umat Islam di Arab, di Barat, di Timur dn di seluruh belahan bumi-Mu ini. Hadirkan buat kami pemimpin yang membawa petunjuk. Yang menuntun kami ke Surga-Mu.

Ya Allah, selamatkanlah kami, anak-anak kami, keluarga kami, daerah kami, negeri kami, dan umat kami dari badai krisis, fitnah, bencana, dan dosa yang membinasakan.

Ya Allah, janganlah Engkau goyangkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan tetapkan hati kami di atas agama-Mu.

Ya Allah, jadikanlah hari terbaik kami sebagai hari pertemuan kami dengan-Mu, jadikanlah amal terbaik kami sebagai pamungkasnya, dan jadikan usia terbaik kami sebagai akhir ajal kami. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, ampunan, dan hidayah-Mu kepada kami semuanya. Aamiin.. aamiin ya Rabbal ‘alamin..

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1438 H: Andai Ini Adalah Ramadhan Terakhir Bagiku