Home / Ridwan Akbar

Ridwan Akbar

Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Sang Pembawa Arus

Orang seperti umar harus selalu ada, bahkan diperbanyak dalam usaha kita memperkuat barisan dakwah. Apalagi dunia politik adalah era dakwah jahriyah. Tidak seperti para aktivis pendahulu(tahun 80-90) yang masih berdakwah pada dakwah era sirriya.Karena memang kebutuhan dakwahnya berbeda. Pada saat itu dakwahnya masih berfokus pada bidang sosial dan budaya. Sehingga, dahulu yang dibangun adalah pondasi ideologis yang menghujam. Di era dakwah jahriyah ini tuntutan dakwah harus lebih terbuka dan ekspansif.

Baca selengkapnya »

Membangun Kepedulian Berpolitik

Di dalam fiqh, terdapat tingkatan keilmuan seseorang dalam usahanya berijtihad. Yang paling dasar ialah 1. Muqallid, 2. Muttabi’, dan yang paling tinggi ialah 3. Mujtahid. Mujtahid banyak ragamnya. Adapun yang paling umum adalah mujtahid mazhab, dan mujtahid mutlak. Mujtahid mutlak yang paling tinggi. Dengan adanya pengetahuan derajat keilmuan seperti ini, setidaknya kita harus semakin giat menuntut ilmu, agar tingkat kelayakan kita dalam mengambil keputusan politik pun terus meningkat.

Baca selengkapnya »

Membangun Cita Kader Dakwah Unggulan

Begitulah cita-cita membangun kader dakwah unggulan, prosesnya panjang dan berliku. Tapi jika kita lihat produknya, maka kita akan melihat banyak keteladanan. Jika berbicara ilmu, kita akan menemukan Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab. Bila kita berbicara tentang kedermawanan, kita akan menemukan Abdurrahman bin Auf dan Ustman bin Affan. Bila kita berbicara tentang dunia intelijen, maka kita akan menemui Hudzaifah bin Yaman. Bila kita berbicara mengenai ahli strategi dan peperangan, maka kita akan menemui Sa’ad bin Abi Waqash dan Qais bin Sa’ad. Dan berbagai keahlian lainnya. Mereka semua dirangkai sedemikian rupa, hingga terintegrasi kedalam sebuah kekuatan kelompok yang solid dan kokoh.

Baca selengkapnya »

Para Pecinta Buku

Banyak ulama besar dunia yang produktif menulis, seperti ketiga syeikh besar dunia kontemporer tadi. Ada Dr. Abdul Qadir Audah, yang terkenal dengan perjuangannya dalam menyemangati intelektual di Mesir agar menyadari pentingnya pemberlakuan undang-undag syariat. Ada Sayyid Quthb, yang terkenal dengan 11 jilid tafisr Fi Zilalil Qur’an (di bawah naungan quran)nya. Ada Dr. Muhammad As-Siba’i, yang terkenal dengan perlawanan pemikirannya kepada kehadiran para penstudi orientalis dengan karya tesisnya yang mahsyur. Ada Sayyid Sabiq, yang terkenal dengan fiqh sunnahnya. Ada Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan fiqh sirahnya. Hingga seorang Said Hawa yang terkenal dengan karya tarbiyah ruhiyah, syarah al-hikam, hingga tazkiyatun nufusnya.

Baca selengkapnya »

Kepemimpinan Burhanuddin Harahap

Burhanudin Harahap mengajari kita tentang hakikat makna ‘progressive leadership’. Di mana dalam pengambilan keputusan (decision-making), seorang Burhanudin Harahap sangat melekatkan 3 hal penting; yaitu Kecepatan (Quickness), Akurasi (Accuracy), dan Ketepatan (Conciseness). Ini adalah sebuah leadership style yang harus kita pelajari secara baik. Karena dari sinilah akan lahir produktivitas dan kedinamisan. Produktivitas adalah ciri dari keaktifan berkarya, kedinamisan adalah ciri dari perubahan positif yang mengikuti kemajuan zaman.

Baca selengkapnya »

Akui Kesalahan, Lanjutkan Perjalanan!

Inilah pentingnya kita mendalami kisah para nabi. Agar kita bisa mendapatkan ilham daripadanya. Karena semua kisah nabi dan rasul akan berujung pada satu kesimpulan, yaitu keteguhan hati berjuang dijalan Allah. Adapun turunannya adalah keteladanan dan kearifan. Dan mengakui kesalahan dalam proses kehidupan, adalah proses yang dilalui juga oleh para nabi dan rasul. Jadi, akumulasi pengalaman kita dalam berproses pada akhirnya akan memberikan kita sebuah karakter diri yang tangguh. Karakter muslim sejati, yang siap memikul amanah umat.

Baca selengkapnya »

Perkembangan Infrastruktur dan Dinamika Pemikiran Islam di UIN Jakarta

Kampus UIN Jakarta merupakan lokomotif pemikiran Islam Indonesia. UIN Jakarta juga bisa dikategorikan sebagai miniatur pemikiran Islam dunia. Semua pemikir dari latarbelakang yang beragam, hadir di sini. Sehingga dalam banyak literatur barat sering muncul istilah ‘ciputat factor’. Itulah bukti betapa kuatnya posisi UIN Jakarta dalam mempengaruhi wacana Islam dan kebangsaan. Sudah terlalu banyak intelektual besar yang lahir dari UIN. Sudah terlalu banyak jurnal internasional yang lahir dari pemikir UIN. Hingga di kalangan intelektual, sering muncul sebuah istilah ‘mazhab ciputat’, di mana UIN Jakarta adalah pelopor utamanya.

Baca selengkapnya »

Membangun Komitmen Kader Dakwah Tarbiyah

Keteladanan untuk rakyat di seluruh dunia, yang berperan besar dalam perealisasian kebangkitan umat Islam. Ustadziyatul alam ini juga dekat maknanya dengan kepemimpinan. Dan semua hal itu dapat tercapai, jika setiap mihwar dapat diselesaikan secara baik. Sehingga Ustadziyatul alam yang tercipta nanti, adalah kepemimpinan yang adil dan sejahtera. Dan hal ini dapat dibangun, dengan cara mempersiapkan kader dakwah muda yang unggul. Sabab alyaum, wa rijalul ghod (Pemuda saat ini, adalah pemimpin di masa depan).

Baca selengkapnya »

Membangkitkan Semangat Keulamaan ke Dalam Pemikiran Politik Islam

Pesan perdamaian yang Islam sampaikan, harus dipahami secara baik. Pemahaman yang baik, berasal dari guru yang baik. Sehingga guru-guru yang baik pun, pastinya memiliki kapasitas keilmuan yang baik, dan track record pengamalan ilmu yang panjang. Adapun guru-guru baik tersebut, berasal dari ulama-ulama ternama yang sudah menggeluti pemikiran politik Islam secara mendalam. Jadi kita harus membiasakan diri untuk mencari sumber ilmu pengetahuan, langsung dari para ahlinya.

Baca selengkapnya »

Menyikapi Feminisme

Jadi mengapa perempuan sebaiknya dipimpin? Hal ini tidak terlepas dari karakteristik perempuan yang lebih sering mengambil keputusan dari sisi emosional, dibanding sisi rasional. Apalagi wanita cenderung moody, lebih parah lagi ketika sedang datang bulan. Bayangkan urusan 240 juta masyarakat Indonesia, diputuskan oleh seorang wanita yang sedang bad mood. Tentu keputusannya akan tidak tepat. Jadi membicarakan perempuan sebagai pemimpin politik bukan hanya masalah afilisasi politik, tapi juga masalah kapasitas.

Baca selengkapnya »