Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sang Pembawa Arus

Sang Pembawa Arus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas)
Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas)

dakwatuna.com – Sosok pembawa arus, bisa kita pelajari dari kisah Umar bin Khattab. Seorang pria kharismatik, yang lahir dari keluarga terhormat dikalangan Quraisy; adalah seorang tokoh pemuka kota makkah. Ibunya adalah kakak dari Amr bin Hisyam (Abu Jahal), yang juga seorang politisi dan ahli hukum yang berasal dari kalangan Quraisy. Sehingga elit quraisy, sangat dipengaruhi oleh keluarga bani hisyam. Ya, pengaruh sang paman dan keponakannya.

Umar bin Khattab adalah pria gagah perkasa, yang menjadi simbol kekuatan kaum quraisy ketika itu. Tak pernah ragu, gentar, maupun mundur menghadapi musuh. Bahkan saking keras dan kasar perangainya, hingga Rasull bersabda :

‘Wahai ibnul khattab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tangannya. Sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan, kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui’.

Bahkan didalam riwayat lain, Aisyah r.a. pernah mendengar Rasull bersabda :

‘Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar’.

Saking besar pengaruh Umar dalam menghalangi dakwah Rasull di mekkah, maka umat muslim harus besabar selama 5 tahun untuk berdakwah secara diam-diam. Peristiwa hijrahnya Umar terjadi secara perlahan. Ketertarikannya terhadap pesona Islam senantiasa muncul sedikit-demi sedikit. Umar merasa gelisah. Kegelisahannya pun coba Umar atasi dengan beberapa peristiwa. Dimulai dari percakapannya dengan Ummu Abdullah, mengintip Rasullullah di Ka’bah, hingga ujung pencariannya di darul arqam. Hingga Rasullullah pun pernah berdoa:

‘Ya Allah, muliakanlah islam dengan salah satu diantara dua lelaki yang paling engkau sukai. (yaitu) Abu Jahal atau Umar bin Khattab’

Doa itu makbul, dan Allah kabulkan. Maka Allah pun menurunkan hidayahnya kepada Umar bin Khattab. Sejak saat itu dakwah Rasul mengalami transformasi secara besar-besaran. Yaitu berpindahnya dakwah era sirriyah (rahasia) menuju dakwah era jahriyah(terbuka). Peta perpolitikkan pun berubah secara drastis. Karena sosok umar memang setara dengan seorang panglima perang.

Makanya keislaman Umar, langsung disyiarkan melalui peristiwa mudzoharoh(demonstrasi) menuju Ka’bah. Sehingga saat itu kalangan quraisy mulai mengetahui bahwa umar sudah masuk Islam. Peristiwa mudzoharoh ini terbagi kedalam dua barisan. Barisan yang satu dipimpin oleh Umar, sedangkan barisan satu lagi dipimpin oleh Hamzah. Keduanya merupakan pemuka makkah yang sangat disegani. Setelah mudzoharoh, mereka pun menuntaskan dengan sholat di depan ka’bah.

Begitulah kiprah sang pembawa arus. Orang seperti umar harus selalu ada, bahkan diperbanyak dalam usaha kita memperkuat barisan dakwah. Apalagi dunia politik adalah era dakwah jahriyah. Tidak seperti para aktivis pendahulu(tahun 80-90) yang masih berdakwah pada dakwah era sirriya.Karena memang kebutuhan dakwahnya berbeda. Pada saat itu dakwahnya masih berfokus pada bidang sosial dan budaya. Sehingga, dahulu yang dibangun adalah pondasi ideologis yang menghujam. Di era dakwah jahriyah ini tuntutan dakwah harus lebih terbuka dan ekspansif.

Dan kisah ini juga mengingatkan kita akan pesan Allah agar mencintai orang lain sekedarnya, dan membenci orang lain sekedarnya. Karena pembawa arus tidak selalu lahir dari kader di dalam. Terkadang lahir dari orang di luar, bahkan musuh yang paling kuat. Seperti itulah kisah Umar berpesan kepada kita. Agar cara pandang kita lebih terbuka dalam mencetak kader unggulan, yang senantiasa membawa arus kebaikan kedalam seluruh lini kehidupan.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Prabowo: Arus Dari Bawah Hendaki Gubernur Baru di Jakarta