Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bagi Pendidik

Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bagi Pendidik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ydsf.org)
Ilustrasi. (ydsf.org)

dakwatuna.com – Apa sebenarnya tujuan utama pendidikan? Mempertanyakan hal ini seperti halnya memberikan pertanyaan yang kompleks, di mana secara teori selalu ada jawabannya, tapi secara konteks pelaksanaannya, hasilnya belum tentu sejalan dengan teorinya.. Dalam Undang – Undang dan berbagai kajian, disebutkan bahwa tujuan pendidikan salah satunya adalah untuk membentuk karakter.

Karakter dipandang menjadi sesuatu yang teramat penting dalam pendidikan. Karakter merupakan output yang akan dicapai sebagai dampak positif dari pendidikan. Jikalau demikian, maka idealnya pengaruh pendidikan itu linear dengan karakter. Artinya, semakin baik dan semakin tinggi pendidikan seseorang, hendaknya makin baik dan kuat pula karakternya. Tapi mengapa kita masih sering menyaksikan dan mendengar pemberitaan yang begitu menyesakkan? Berita mengenai pejabat korup, hampir setiap hari kita mendapatinya dalam berbagai kasus. (Maaf), pemberitaan guru yang memperlakukan anak didiknya secara tak pantas, ditambah lagi pelajar yang tega menghabisi nyawa orang tuanya. Semua perbuatan itu nyata – nyata dilakukan oleh orang – orang yang mengenyam pendidikan. Beberapa ulasan pemberitaan di atas itu sebagai contoh besarnya. Sekarang, mari kita lihat contoh yang lebih sederhana, yang sering kita jumpai nyata dan dekat di sekitar kita. Beberapa siswa datang terlambat ke sekolah berkali-kali tanpa rasa malu, dan juga pelajar berbaju putih biru dengan santainya menghisap rokok dan mengepulkan asapnya, padahal di dekatnya ada guru sekolahnya. Semua itu dilakukan tanpa rasa bersalah dan biasa saja. Sungguh miris! Lalu, di manakah wujud karakter yang diidam-idamkan sebagai dampak positif pendidikan itu?

Melihat potret yang ada, nampaknya tujuan pendidikan yang satu ini masih jauh dari harapan. Membiasakan hal baik secara konsisten hingga kebiasaan itu melekat menjadi karakter yang kuat tentu butuh proses.. Sepakat 100%. Bahkan harus diakui, proses ini butuh waktu yang tidak sedikit. Untuk mewujudkan pribadi manusia yang punya karakter, prosesnya tidak bisa instan. Satu hal penting yang harus digarisbawahi dan tidak boleh dipungkiri adalah “bahwa sekolah merupakan wadah di mana karakter itu bisa dibentuk dan ditumbuhkan serta guru mempunyai andil besar dalam membentuk karakter anak didiknya”. Melalui tangan-tangan guru lah, nalar anak, jiwa dan karakter anak terbentuk. Sosok guru merupakan orang yang dekat dengan keseharian anak selain orang tua.

Wahai para guru, lalu bagaimana perasaan dan langkah kita ketika melihat banyak kejadian yang diakibatkan oleh anak didik kita berdampak buruk di masyarakat dan di kehidupan luas? Sudah tentu menyedihkan, maka sudah saatnya kita berbenah diri.

Guru, memang bukan manusia sempurna tapi ia punya tanggung jawab yang luar biasa. Tanggung jawab pada dirinya sendiri, keluarganya, dan juga pada anak yang lahir karena warisan ilmunya (murid/ peserta didik).

Kalau sudah begini, lantas siapa yang salah? Mencari kambing hitam hanyalah akan membuat berbagai pihak berseteru dan tak mendapati jalan terang. Sebelum satu sama lain saling tuding dan saling menyalahkan lebih jauh, yuk para guru coba cek di masing – masing diri kita,

“Apakah saya sudah berperilaku baik?”

“Sudahkah saya menjadi teladan yang baik bagi anak-anak, keluarga, dan juga anak didik?”

Atau, jangan- jangan, segala perilaku dan tabiat (karakter yang sifatnya buruk) yang dimiliki anak didik kita berawal dari kita sebagai sumbernya?

Mungkinkah kita lalai telah memberi contoh tidak baik pada anak didik kita ?

Kita tidak sadar, kalau di kantor guru ketika istirahat dan berbincang, guru laki-laki bebas mengeluarkan ide-idenya, keluh kesahnya sambil merokok.

Kita tanpa sengaja, begitu bel masuk kelas berbunyi masih sibuk ini itu sehingga kita tidak masuk tepat waktu.

Ketika kita letih dan mulai hilang

Kesabaran, kita dengan mudah memarahi membentak anak didik kita…

Inikah perbuatan kita yang dengan mudah ditiru oleh anak didik kita?

Catatan ini semoga menjadi refleksi, pengingat bagi kita, terutama untuk pribadi saya. Semoga, di hari guru nasional ini , jajaran guru, setiap insan terdidik dan orang-orang yang peduli akan pendidikan semakin berbenah, menebar kasih sayang dan kepedulian demi lahirnya insan terdidik yang berkarakter.

Untukmu para guru, doaku semoga engkau selalu diberi hati lapang, tekad bulat untuk terus mendidik bangsa ini. Guru, terimakasih atas semua jasamu.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alhamdulillah sempat bergabung dengan divisi pendidikan di Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (SGI-DD) sebagai relawan guru untuk wilayah penempatan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (2014-2016) Saat ini menjadi bagian di School of Life Rumah Cahaya (Alam-Montessori-Islami)

Lihat Juga

Tradisi Ilmu dan Pendidikan antara Islam dan Barat

Figure
Organization