Home / Berita / Internasional / Asia / Erdogan Sebut Turki Akan Boikot Produk Elektronik AS

Erdogan Sebut Turki Akan Boikot Produk Elektronik AS

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Aljazeera.net)
dakwatuna.com – Ankara. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut negaranya akan memboikot produk elektronik Amerika Serikat, Selasa (14/08). Pernyataan itu diungkapkan beberapa saat setelah Washington menghentikan sementara penjualan pesawat militer ke Turki.

“Kami akan memboikot produk elektronik AS,” kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi setempat.

“Jika (AS) punya iPhone, ada Samsung di sisi lain,” imbuhnya. Ia mengacu pada merek ponsel raksasa AS dan merek ponsel teratas dari Korea Selatan.

Senin (13/08) malam lalu, Presiden AS Donald Trump menandatangani anggaran pertahanan negara itu. Di dalamnya ditetapkan bahwa AS akan menghentikan penjualan jet tempur F-35 kepada Turki, setidaknya selama 90 hari.

Selain itu, keputusan Trump juga meminta pada Departemen Pertahanan untuk memberi laporan pada Kongres tentang hubungan Washington-Ankara terkini. Selain juga memblokir penjualan peralatan pertahanan utama sampai laporan selesai.

Amerika Serikat dan Turki berselisih tentang pemenjaraan Andrew Brunson, seorang pendeta Amerika. AS menuntut pembebasannya sementara Turki mengklaim Brunson terlibat dalam upaya kudeta pada tahun 2016.

Pergerakan itu muncul setelah lira Turki mencapai rekor terendah pada Senin. Kemudian naik setelah bank sentral Turki berjanji untuk menyediakan likuiditas dan memotong lira serta persyaratan cadangan mata uang asing untuk bank Turki.

Erdogan, yang berjanji mata uangnya akan kembali ke “tingkat rasional”, menuduh AS berusaha menikam negaranya dari belakang. Menurutnya, serangan terhadap ekonomi akan berlanjut.

Mencari Solusi

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton bertemu dengan duta besar Turki untuk Amerika Serikat, Senin. Merkea membahas penahanan Brunson, kata Gedung Putih.

“Atas permintaan Dubes Turki, John Bolton bertemu dengan Serdar Kilic dari Turki (pada Senin) di Gedung Putih. Mereka membahas penahanan berlanjut Pendeta Andrew Brunson dan hubungan AS-Turki,” jelas Sarah Sanders, jubir Gedung Putih.

Para pejabat AS menolak laporan berita bahwa Washington telah menetapkan tenggat waktu bagi Turki untuk membebaskan Brunson. Sebelumnya, Erdogan mengaku ada ultimatum dari AS untuk segera membebaskan Brunson, paling lambat pada Rabu pukul 06:00. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Masjid di Makkah, Madinah hingga London Gelar Shalat Ghaib untuk Jamal Khashoggi