Home / Berita / Internasional / Asia / Erdogan Pada Amerika Serikat: Selamat Tinggal!

Erdogan Pada Amerika Serikat: Selamat Tinggal!

Presiden Recep Tayyip Erdogan bersama istri. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Ankara. Hubungan Turki dan Amerikat Serikat tak kunjung membaik. Pejabat kedua negara acapkali terlibat dalam perang pernyataan baik di media sosial maupun dalam setiap pidato mereka. Ketegangan keduanya telah merambah ke sektor ekonomi dengan anjloknya nilai tukar lira Turki terhadap dolar.

Terbaru, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras pihak-pihak yang menjalankan rencana ekonomi untuk memukul lira Turki. Menurutnya, Turki tidak akan tunduk, dan yang tidak percaya akan hal ini maka ia ‘idiot dan bodoh’.

“Kita akan menggagalkan perang ekonomi terhadap Turki. Kita sandarkan kekuatan pada anak-anak bangsa, kita kuat dan siap untuk segalanya,” kata Erdogan di hadapan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Ahad (12/08).

Pihak-pihak tersebut, imbuh Erdogan, gagal menyerang Turki melalui upaya kudeta. “Mereka sekarang berupaya melakukan dengan finansial. Ini perang ekonomi. Kami tidak akan menyerah meski kalian serang dengan dolar-dolar kalian,” lanjutnya.

Penangkapan dan penahanan terhadap Pastor asal AS Andrew Brunson menjadi penyebab ketegangan Turki – AS. Melalui Presiden dan sejumlah pejabat tingginya, AS mendesak Turki agar segera membebaskan Brunson.

Sementara itu, Turki teta bersikeras dengan keputusannya. Mereka meyakini bahwa keputusan penahanan terhadap Brunson sudah tepat, karena ia terbukti terlibat dalam tindakan-tindakan yang merugikan pemerintah. Turki kemudian menyeru Washington agar menghormati sistem hukum dan peradilan yang berlaku.

Merasa tidak puas, AS kemudian mengancam akan memberi sanksi kepada Turki. sesaat setelahnya, dua menteri Turki yaitu Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kehakiman dijatuhi sanksi ekonomi melalui Departemen Keuangan AS. Seluruh aset keduanya yang ada di AS, dibekukan. Sementara warga AS juga dilarang menjalin transaksi dengan mereka berdua.

Keputusan AS tersebut cukup mengguncang perekonomian Turki. Beberapa waktu berikutnya, Presiden Donald Trump juga mengumumkan keputusan menaikkan tarif baja dan alumunium terhadap Turki. Hal ini mengakibatkan nilai tukar lira jatuh di titik terendah di hadapan dolar.

Sebagai tanggapan, Erdogan dalam kesempatan tersebut mengancam akan mencari pasar dan mitra baru.

“Kita akan mencari pasar lain dan mitra baru untuk memudahkan pekerjaan kita. Kita juga akan mengucapkan ‘selamat tinggal’ bagi mereka yang mengorbankan kemitraan startegisnya dengan Turki, demi hubungan mereka dengan organisasi teroris,” tegas Presiden Turki tersebut.

Lebih lanjut, Erdogan juga menyeru rakyat Turki untuk mata uang asing dan emas dengan mata uang lokal. “Kami tidak takut dengan fluktuasi mata uang asing, karena kami percaya dengan rakyat,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

PBB: 70 Persen Warga Yaman Menderita Kelaparan

Organization