Home / Berita / Internasional / Asia / Pendetanya Tak Kunjung Dibebaskan, Washington Beri Sanksi Dua Menteri Turki

Pendetanya Tak Kunjung Dibebaskan, Washington Beri Sanksi Dua Menteri Turki

Pendeta AS Andrew Brunson (tengah). (Aljazeera)
dakwatuna.com – Washington. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada dua menteri Turki karena penahanan terhadap pendeta Andrew Brunson, Rabu (01/08). Kedua menteri itu adalah Menteri Peradilan Abdulhamit Gul dan Menteri Dalam Negeri Suleiman Suwailo.

Menurut Jubir Gedung Putih Sarah Sanders, kedua menteri Turki itu berperan penting dalam penangkapan Brunson pada 2016 lalu. Pendeta AS itu saat ini tengah menjalani masa tahanan rumah di Turki.

“Keduanya bekerja sebagai pemimpin organisasi pemerintah Turki yang bertanggung jawab atas implementasi pada pelanggarah hak asasi manusia serius oleh Turki,” kata Kementerian Keuangan AS, dalam mendefinisikan dua menteri tersebut.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan, penahanan zalim terhadap Pastor Brunson dan penahanannya oleh pejabat Turki sekalipun tidak dapat diterima.

Ia menambahkan, Presiden AS Donald Trump secara berulang telah menyampaikan agar Turki segera membebaskan Brunson.

Sementara itu, Kemenlu AS mengumumkan adanya pembicaraan telepon antara Menlu AS Mike Pompeo dengan Menlu Turki Mevlut Covusoglu. Dalam kesemmpatan itu, Pompeo mendesak agar Brunson segera dibebaskan.

Jubir Kemenlu AS Heather Nauert menegaskan, status tahanan rumah Brunson harus segera diakhiri, dan sang pendeta segera dipulangkan ke rumahnya.

Andrew Brunson adalah seorang pendeta Kristen dari Carolina Utara. Sudah lebih dari dua dekade terakhir ia tinggal di Turki.

Pemerintah Turki menangkap dan menahan Brunson karena terindikasi membantu Fethullah Terrorist Organization (FETO). Selain itu, ia juga disebut-sebut mendukung Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang dicap teroris oleh Ankara.

Brunson ditangkap di Izmir pada 09 Desember 2016 silam. Ia dituduh melakukan kegiatan spionase dan mengadakan kegiatan di seluruh Turki dengan kedok operasi misionaris, dihubungkan dengan FETÖ dan PKK, serta mengganggu urusan internal Turki.

Sementara itu, Amerika Serikat hingga kini enggan menyerahkan pimpinan FETO, Fethullah Gulen. Diketahui, sosok yang disebut dalang kudeta Juli 2016 itu telah tinggal di Pensylvania, Amerika Serikat.

Sejak awal terjadinya kudeta, Turki telah melayangkan permintaan pada Washington agar menyerahkan Gulen. Namun dengan sejuta alasan, ekstradisi itu tak kunjung dilakukan. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Netanyahu: Saya Ingin Ada Hubungan Baik antara Israel dan Indonesia