Home / Berita / Internasional / Asia / Rahasia di Balik Ketegangan Turki dan Amerika Serikat

Rahasia di Balik Ketegangan Turki dan Amerika Serikat

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (kiri), dan Presiden AS, Donalld Trump (kanan). (aa.coom.tr/ar)
dakwatuna.com – Ankara. Hubungan erat Amerika Serikat dengan Partai Pekerja Kurdi (PKK) dan Organisasi Gulen merusak hubungan bilateral Ankara-Washington. Demikianlah tulis Taha Ozhan dalam artikelanya yang dimuat laman Middle East Eye.

Menurut Ozhan, Turki merupakan bab lain dalam pemerintahan Presiden Donald Trump yang bermasalah dengan dunia luar. Tidak ada perbedaan antara hubungan bilateral Ankara-Washington, dengan satu Negara Bagian dan negara lainnya dalam hal ini.

“Apa yang kita hadapi saat ini merupakan akibat dari interaksi negatif dengan masalah global selama pemerintahan Presiden Barack Obama. sehingga berakhir di jalan tirani di bawah pemerintahan Donald Trump, si pembuat keputusan radikal,” tulis Ozhan.

Amerika Serikat di bawah Trump mengalami periode kebijakan luar negeri yang bergejolak. Pasar keuangan bahkan harus menggunakan apa yang dikenal sebagai indeks ketakutan untuk menghitung tingkat volatilitas (gejolak, red).

Gelombang Volatil

Ozhan menyebut setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan bagi semua yang ingin membangun hubungan konstruktif dengan Washington. Di antaranya harus bisa memberi kebahagiaan di hati Trump, tidak mengecewakan Kongres AS, dan mengkondisikan media AS.

Sejauh ini baru satu orang saja yang berhasil melakukan hal tersebut, yaitu Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.

Menurut Ozhan, kondisi saat ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh masa pemerintahan Obama. “Visi geopolitik Washington yang hilang di Timur Tengah pada masa Obama mewariskan kepada kita gelombang volatil selama era Trump,” jelasnya.

Ozhan menegaskan, krisis Turki dan AS saat ini jauh lebih besar dari sekedar masalah Pastor Andrew Brunson. Krisis ini merupakan kalkulasi dari era Obama serta persekutuan dengan PKK dan Organisasi Gulen. Padahal Ankara telah menggolongkan dua kelompok itu sebagai organissi teroris.

Terkait upaya kudeta gagal dua tahun silam, Ozhan menyebut jika salah satu pilar ada di Turki, maka pilar lain ada di Washington. Meskipun secara konsisten pihak Washington membantahnya dengan keras. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Buntut Pembunuhan Khashoggi, Jerman Bekukan Penjualan Senjata ke Arab Saudi