Home / Berita / Internasional / Asia / Trump Terus Lakukan Serangan, Dapatkah Turki Bertahan?

Trump Terus Lakukan Serangan, Dapatkah Turki Bertahan?

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (kiri), dan Presiden AS, Donalld Trump (kanan). (aa.coom.tr/ar)
dakwatuna.com – Ankara. Dalam beberapa pekan terakhir, hubungan Turki dan Amerika Serikat kian memburuk. Ketegangan kedua negara telah merambah ke dalam sektor perekonomian. Terbaru, nilai tukar lira Turki di hadapan dolar anjlok.

Seperti diketahui, penangkapan dan penahanan Pastor asal AS Andrew Brunson pemerintah Turki menjadi sebab ketegangan dua anggota NATO itu. Sejumlah pejabat tinggi di Gedung Putih mendesak agar Brunson segera dibebaskan. Sementara Ankara bersikukuh tindakannya menahan Brunson adalah benar.

Karena permintaannya tak diindahkan, Presiden AS Donald Trump mulai menebar ancaman. Tak tanggung-tanggung, dua menteri Turki yang dinilai berperan penting dalam penahanan Brunson diganjar dengan sanksi.

Tepatnya 02 Agustus lalu, Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu dan Menteri Kehakiman Turki Abdulhamit Gul diberi sanksi yang bersifat ekonomi. Seluruh properti milik keduanya yang berada di wilayah AS dibekukan, dan seluruh warga AS dilarang menjalin transaksi dengan mereka.

Ankara geram dan mengecam sanksi tersebut. Dalam rilisnya, Kemenlu Turki mengatakan, “Keputusan sanksi dari AS merupakan intervensi terhadap sistem hukum Turki, dan akan sangat merusak upaya pemulihan hubungan kedua negara. Selain juga sangat kontras dengan esensi hubungan antara Ankara dan Washington.”

“Akan ada balasan segera atas sikap permusuhan AS yang tidak mengakomodir tujuan apapun ini.”

Ancaman Ankara tak hanya kata-kata belaka. Secara tegas mereka juga melakukan tindakan serupa dengan menjatuhkan sanksi pada dua menteri AS, Menteri Kehakiman dan Menteri Dalam Negeri.

Lira Turki anjlok

Presiden AS Donald Trump tampaknya tak cukup puas. Melalui Twitter, Jumat (10/08), Trump menyebut baru saja mengesahkan kenaikan tarif baja dan alumunium.

“Lira Turki akan anjlok dengan cepat di hadapan dolar Amerika. Sejak saat ini, alumunium akan menjadi 20% dan baja 50%,” katanya.

“Hubungan kami dengan Turki sedang tidak baik sekarang!”

Dampak dari hal itu segera terasa. Nilai tukar lira terhadap dolar anjlok. Terbaru, nilai 1 dolar mencapai 6,39 lira per Jumat (10/08) kemarin. Padahal, Januari lalu lira sangat kuat dengan berada di kisaran 3,7 per dolar.

Melihat kondis seperti itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak merasa khawatir. Ia bahkan menyeru seluruh rakyat untuk tidak memperdulikan situasi yang ia sebut sebagai kampanye untuk menargetkan Turki dan perekonomiannya.

“Jika mereka punya dolar, maka kita punya rakyat dan Allah,” kata Erdogan di hadapan rakyat Turki. “Kami bekerja dengan sangat keras.”

Ia menambahkan, “Hari ini, kita lebih baik dari sebelumnya, dan besok akan lebih baik dari hari ini. Percayalah!”

Hal senada juga dikemukakan oleh pimpinan Partai Gerakan Nasional (MHP) Devlet Bahceli. Rekan koalisi Erdogan pada pemilu lalu itu menyebut sebab anjloknya lira adalah politis, bukan ekonomi.

“Kenaikan nilai tukar mata uang asing sebabnya bukan alasan politik, namun alasan politik dan pemerasan diplomatik. Kami tidak akan tunduk pada masalah ini,” katanya, dikutip dari Anadolu Arabic.

Menurut Bahceli, tujuan dari konspirasi asing itu adalah untuk mengguncang Turki. “Selain juga mewujudkan tujuan yang gagal dilakukan dalam upaya kudeta (2016),” imbuhnya.

Prinsip ekonomi baru

Sementara itu, Berat Albayrak, Menteri Keuangan Turki mengumumkan prinsip ekonomi baru negaranya, Jumat (10/08). Prinsip itu nantinya akan menjadi model ekonomi baru di Turki.

Dari Istanbul, Albayrak menyebut akan meningkatkan komunikasi yang lebih efektif, merebut kepercayaan semua pelaku pasar, dan memastikan independensi penuh kebijakan moneter, di atas prinsip dalam model ekonomi Turki.

“Akan ada penyeimbangan anggaran kembali dalam prisip pendekatan baru kami,” kata Albayrak dalam sebuah konferensi pers.

Menurutnya, langkah pertama yang akan dilakukan adalah memerangi inflasi. Hal itu dimaksudkan agar mencapai keseimbangan ekonomi pada fase berikutnya.

Albayrak juga menyinggung soal kebijakan terhadap Bank Sentral. Ia menjelaskan, independensi penuh Bank Sentral merupakan salah satu prinsip yang harus berlanjut.

“Sejak awal berkuasa, kami sangat tertarik dengan independensi Bank Sentral dalam kebijakan moneter. Independensi Bank Sentral akan berlanjut pada prinsip (baru) ini,” lanjutnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Negara-negara Eropa Dukung Penuh Turki Usut Tuntas Kasus Khashoggi