Home / Berita / Internasional / Asia / Ini yang Terjadi Jika AS Menarik Diri dari Kesepakatan Nuklir Iran

Ini yang Terjadi Jika AS Menarik Diri dari Kesepakatan Nuklir Iran

Donald Trump. (rt)

dakwatuna.com – Washington. Surat kabar Inggris, The Independent, mengomentari pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kesepakatan nuklir Iran. Disebutkan, keputusan Trump menarik diri dari kesepakatan itu akan beresonansi ke seluruh dunia.

Dalam editorialnya, surat kabar tersebut juga menyertakan laporan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Pada Februari lalu, IAEA mengeluarkan laporan yang menyebut bahwa Iran komitmen dengan kesepakatannya. Laporan ini juga disambut oleh pihak terkait, termasuk AS.

Oleh karena itu, keputusan AS untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran akan membawa ketidakjelasan.

Lalu, Apa Saja Opsi Trump?

Berdasarkan pada ketentuan dalam kesepakatan tersebut, Washington telah mengajukan pengunduran sebelum Trump menjabat. Selain itu, AS juga diketahui memberlakukan berbagai sanksi kepada Iran. Di antara sanksi itu adalah memaksa perusahaan internasional untuk membeli minyak Iran.

Salah satu opsi yang dimiliki Trump adalah ‘Opsi Nuklir’. Opsi ini dimaksudkan untuk memberlakukan kembali semua sanksi sekali lagi. Jika ini yang dipilih, maka Washington melanggar langsung poin-poin dalam kesepakatan.

Di dalam kesepakatan nuklir disebutkan, segala bentuk sanksi harus ditangguhkan selama Iran komitmen dengan ketentuannya.

The Independent kemudian menyebutkan, semua pihak termasuk Menlu AS Mike Pompeo mengakui komitmen Iran. Komitmen Teheran juga ditegaskan oleh IAEA melalui laporannya Februari lalu.

Motif Trump

Presiden Donald Trump tampak terang-terangan membenci Kesepakatan Nuklir Iran ini. Bahkan sejak kampanye pemenangan, ia menyebut kesepakatan itu sebagai ‘kesepakatan terburuk yang pernah ada’. Namun begitu, ia juga menyatakan diri siap untuk memperbaikinya.

Di samping Trump memiliki kekhawatiran, para pengamat juga percaya bahwa ia dalam tekanan para petinggi partainya yang memang menolak kesepakatan sejak awal. Selain itu, tekanan juga muncul dari PM Israel yang menganggap Iran sebagai ancaman nyata.

Di sisi lain, Trump juga yakin bahwa ia akan mendapat kepercayaan kembali dari para pendukung utamanya. “Lihatlah, aku akan menepati janji lainnya,” kata Trump.

Namun para pengamat mensinyalir, Trump membawa AS dan Kesepakatan ke dalam krisis nuklir dengan tujuan memperoleh keuntungan secara politik. Tampaknya, sejauh ini belum ada strategi khusus dari Trump maupun pemerintahannya terkait yang akan terjadi selanjutnya.

Bagaimana dengan Eropa?

Uni Eropa justru menyeru agar komitmen dengan kesepakatan tersebut. Bahkan UE menegaskan komitmennya meski Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran.

Namun Associated Press menyebutkan, sistem keuangan global masih terkait dengan Amerika Serikat. Dengan begitu, tampaknya tidak akan mudah bagi setiap pihak untuk berbisnis dengan Iran, tanpa melanggar sanksi dari AS.

Bagaimana dengan Iran?

Para pengamat menilai, penarikan diri AS dari kesepakatan akan meningkatkan militansi Iran. Bahkan Teheran telah mengancam akan mempercepat proyek nuklirnya apabila sanksi AS kembali diberlakukan. Iran juga mengancam akan terus melakukan uji coba rudal serta meningkatkan dukungan pada milisi bersenjata.

Disebutkan,  Iran tetap berkomitmen dengan mengizinkan IAEA menilik aktifitas nuklirnya sesuai kesepakatan. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Tak Hanya Turki, Ekonomi Dunia Terancam dengan Kebijakan Trump

Organization