Home / Berita / Internasional / Asia / KTT Washington-Teluk, Peluang Dialog dan Penyelesaian Krisis

KTT Washington-Teluk, Peluang Dialog dan Penyelesaian Krisis

Bendera negara-negara Teluk. (almokhtsar.com)

dakwatuna.com – Doha. Surat kabar Reuters menyebutkan, dalam waktu dekat akan ada beberapa pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan beberapa pemimpin negara Teluk. Banyak pihak menilai, hal ini akan membuka kesempatan dialog hingga penyelesaian Krisis Teluk.

Donald Trump dijadwalkan akan menerima kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud pada Selasa (20/03) mendatang. Sementara Emir Qatar Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani dijadwalkan bertemu Trump di Gedung Putih pada 10 April.

Sedangkan menurut pejabat tinggi di Gedung Putih, Putra Mahkota Abu Dhabi Syaikh Muhammad bin Zayed meminta penundaan untuk bertemu dengan Trump. Disinyalir Bin Zayed akan bertemu Trump setelah Emir Qatar.

Dikutip Aljazeera.net, Ahad (18/03/2018), Bin Zayed seharusnya bertemu Trump pada 27 Maret mendatang. Namun ia meminta penundaan dan belum dijelaskan kapan jadwal baru pertemuan itu.

Masih menurut sumber Reuters, para pemimpin Teluk akan membicarakan banyak hal dengan Trump. Di antaranya soal Iran, memerangi ‘radikalisme Islam’, dan mendalami kemitraan ekonomi dan militer.

Lebih lanjut, Washington juga berniat menggelar KTT Washington-Teluk pertengahan tahun ini. Namun prospek rencana ini kurang bagus mengingat rentetan pertentangan masih terjadi.

Pemerintahan Trump menyadari, perpecahan di Teluk akan menjadi keuntungan bagi Iran. Terutama berkaitan dengan perebutan pengaruh di Timur Tengah. Selain itu, upaya AS untuk menggalang kekuatan melawan Iran juga terganggu oleh Krisis.

Disebutkan, jalinan koalisi AS dengan kedua pihak dalam krisis cukup kuat. Buktinya terdapat pangkalan udara terbesar AS di Qatar, yang memainkan peran penting dalam kampanye militer melawan ISIS.

Pada waktu yang sama, Trump juga menjalin hubungan kuat dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Terkait krisis dengan Qatar, hingga saat ini baik Saudi maupun Emirat mengklaim tuntutan mereka belum dilaksanakan oleh Doha. Seperti diketahui Qatar dituntut melakukan beberapa hal, termasuk menutup kantor Aljazeera Media Network.

Namun begitu, seorang pejabat di AS meyakini bahwa kedua pihak tengah mempersiapkan diri untuk berdialog. “Mereka mulai menyadari bahwa krisis hanya akan menguntungkan Iran, Suriah (rezim, red), dan Rusia. Waktunya telah tiba untuk memikirkan cara menyelesaikan masalah,” tambahnya. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Organization