Home / Narasi Islam / Khutbah / Khutbah Idul Fitri / Khutbah Idul Fitri 1438 H: Idul Fitri Sebagai Momentum Peradaban Islam

Khutbah Idul Fitri 1438 H: Idul Fitri Sebagai Momentum Peradaban Islam

Ilustrasi. (syahida.com)

الله اكبر… الله اكبر… الله اكبر… لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

َاللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْد

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، الحمد لله الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَا بَعْدُ؛

dakwatuna.com Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambanya, Maha suci Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Maha Suci Allah yang tiada apa pun di seluruh jagat semesta ini terjadi kecuali atas kehendak dan pengetahuan-Nya.

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ (59)

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Al-An’am: 59)

Maka, tak ada kesombongan apa pun di hadapan Allah SWT. Bukanlah penyair Allama Iqbal menulis dalam Payame Mashriq:

شہید ناز او بزم وجود است

نیاز اندر نہاد ہست و بود است

نمی بینی کہ از مہر فلک تاب

بہ سیمای سحر داغ سجود است

Semesta berada di bawah kekuatan-Nya
Di mana segala hal tercipta untuk sujud.
Bahkan matahari itu terbit tak lain adalah tanda
sujud panjang di atas kuasa-Nya

Kesombongan Firaun berakhir hanya dengan air. Dia pun tenggelam di tengah lautan. Keserakahan Qarun tamat hanya dengan lumpur. Dia pun ditelan bumi. Peradaban bangsa Tsamud (kaum Nabi Shaleh) berakhir dilumat petir. Kemajuan peradaban bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud) tamat riwayatnya dimangsa angin. Dan keperkasaan pasukan Abrahah luluh lantak hanya dengan kerikil batu-batu kecil.

Orang mengatakan, kain terindah adalah sutera. Ia diproduksi oleh ulat. Makanan terbaik adalah madu. Ia diproduksi oleh lebah. Perhiasan paling spesial adalah mutiara, dan ia dihasilkan oleh kerang. Kesombongan apa yang patut kita banggakan di hadapan Allah ketika semua yang istimewa itu dihasilkan oleh makhluk-makhluk kecil ciptaan-Nya.

Subhanallah, hanya Allah yang pantas sombong sebab Dia-lah Al-Qahhar dan Al-Jabbar sementara kita, umat manusia, sangatlah lemah, bahkan ketika mata kita terpapar debu pun kita memerlukan bantuan orang lain untuk meniupnya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus dengan risalah kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dan menerangi umatnya dengan cahaya keimanan.

Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Rasulullah SAW bagaikan Abu Bakar yang menangis bahagia saat diizinkan Rasulullah SAW untuk menemaninya dalam berhijrah ke Madinah.

Aisyah (RA) berkata,

فَرَأَيْت أَبَا بَكْر يَبْكِي , وَمَا كُنْت أَحْسَب أَنَّ أَحَدًا يَبْكِي مِنْ الْفَرَح

Maka, aku melihat Abu Bakar menangis, dan aku tak pernah mengira ada seseorang yang menangis sedemikian hebatnya karena bahagia.

Ya Allah, jadikanlah cinta kami kepada Rasulullah sekuat Thalhah bin Ubaidillah yang dalam perang Uhud membela Rasulullah SAW hingga ke atas bukit Uhud dan menyebabkan tangannya buntung disabet pedang. Namun, berbahagialah Thalhah bin Ubaidillah, sebab Rasulullah SAW telah menjanjikannya satu di antara “sepuluh orang langsung masuk surga”.

Dalam satu hadits, Rasulullah SAW bahkan mengatakan,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيدٍ يَمْشِي عَلَى رِجْلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ

barang siapa yang ingin melihat seorang syahid dan masih jalan dengan kedua kakinya (di atas muka bumi), lihatlah pada Thalhah.

Maka itu, setiap kali disebut perang Uhud, Abu Bakar mengatakan, perang itu milik Thalhah.

Ya Allah, meskipun kami ini awam dengan agamamu, namun doa kami, jadikanlah kami penyambung risalah perjuangan Rasulullah SAW hingga tidak ada umat manusia di muka bumi ini yang tidak tahu keagungan dakwah dan risalahnya.

Maka, jadikanlah perjuangan kami seperti Iqbal yang berkata,

إنْ كَانَ لِيْ نَغْمُ الْهُنُودِ وَدِنٍهم *لَكِنْ ذَاْكَ الصَوْتِ مِنْ عَدْنَانِ

Meskipun dalam darahku mengalir keturunan India * tetapi suaraku adalah penyampai keturunan Adnan (Rasulullah SAW)

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Maka, pada pagi yang indah ini, saat kumandang takbir bersahutan dengan kicauan burung dan gemericik rahmat ampunan dari Allah SWT, saya selaku khatib, pertama-tama ingin mengajak hadirin sekalian untuk meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Izinkanlah saya selaku khatib dalam khutbah yang singkat ini menyampaikan khutbah berjudul, “Idul Fitri dan Peradaban Islami”.

Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau SAW mendapati orang-orang berpesta dalam dua hari. Rasulullah SAW bertanya, “Hari apa ini?” Para penduduk Madinah itu menjawab, “Kami dulu berpesta dalam dua hari ini”. Rasulullah SAW kemudian bersabda,

قدابدلَكم اللهُ تعالَى بِهِمَا خيرًا مِنْهُمَا يومَ الفطرِ ويومَ الأَضْحَى

Sungguh, Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik dari padanya Idul Fitri dan Idul Adha.

Sejak peristiwa itu, atau tepatnya pada tahun kedua hijriah, umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri di Madinah. Rasulullah SAW kemudian bertindak selaku imam dan khatib shalat Idul Fitri tersebut. Semua pemimpin besar ingin menciptakan peradaban. Tetapi tak ada yang mampu menciptakan peradaban par-excellence seperti Rasulullah SAW.

Secara ilmu fiqih, ulama kemudian berbeda pendapat tentang tata cara menunaikannya. Dalam mazhab Syafii, shalat Idul Fitri ditunaikan dengan tujuh takbir di rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, dan lima takbir di rakaat kedua. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibn Majjah bahwa Nabi SAW bertakbir pada dua shalat ‘Id dengan tujuh takbir di rakaat pertama sebelum membaca (Alfatihah) dan lima takbir di rakaat kedua (juga sebelum membaca al-fatihah).

Tetapi, dalam mazhab Hanafi, shalat Idul Fitri ditunaikan hanya dengan tiga takbir di rakaat pertama setelah takbiratul ihram dan tiga takbir di rakaat kedua setelah membaca al-fatihah dan surah lainnya. Mazhab Hanafi kini dianut oleh saudara-saudara muslim kita di negara lain seperti Turki, Afghanistan, Pakistan dan sebagian Mesir.

Ikhtilaf fiqhiyah itu menunjukkan keragaman pemahaman dalam Islam. Namun, keragaman itu tidak pernah boleh keluar dari bingkai ukhuwah atau persaudaraan. Di tengah gencarnya arus informasi instan saat ini, kadang kita mudah menuduh seseorang atau suatu kelompok sebagai bid’ah tanpa pernah mempelajari sebab-sebab perbedaan dalam ibadah.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa Idul Fitri yang mulai dilakukan Rasulullah SAW di kota Madinah itu?

Pertama: Pembentukan Pranata Sosial.

Sejak peristiwa Idul Fitri itu, maka lahirlah masyarakat baru di kota Madinah yang dimulai dengan hijrahnya Rasulullah SAW ke kota itu. Itulah pranata sosial paling indah dalam peradaban manusia. Rasulullah menegaskan:

خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونهم ، ثم يجيء قوم تسبق شهادة أحدهم يمينه ، ويمينه شهادته” ؟

Pranata sosial yang dibangun oleh Rasulullah SAW adalah masyarakat yang taat pada aturan hukum dengan membangun rasa persaudaraan antara pendatang dari Mekah (Muhajirin) dan penduduk pribumi (Anshar) Madinah. Bahasa sekarang, Rasulullah membangun civil society atau masyarakat madani, yaitu masyarakat yang menjunjung tinggi aturan-aturan hukum tanpa ada paksaan dari siapa pun.

Sebelum kita menunaikan shalat Idul Fitri ini, kita diwajibkan berpuasa. Dan berpuasa menjadi ibadah yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang taat hukum, taat aturan Allah SWT. Bahkan berpuasa menjadi satu-satunya ibadah yang tidak bisa dilakukan oleh orang munafik.

Orang munafik bisa pura-pura shalat, bayar zakat, pergi haji, bahkan jihad sekalipun. Tapi orang munafik yang tidak taat aturan Allah itu tidak bisa pura-pura puasa. Sebab, puasa tidak dinilai karena seseorang itu terlihat lemas atau sering berludah, misalnya. Karena itulah, dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman, “semua (pahala) amal anak cucu Adam terpulang pada dirinya, kecuali puasa. Akulah yang menentukan balasannya”. Maka, puasa menjadi pembeda kita dengan orang-orang munafik, orang-orang yang culas dengan aturan hukum.

Karena itu, Madinah menjadi kota yang penuh ketaatan, yang pada akhirnya terbebas dari kaum Munafik. Bahkan, setiap orang yang berkunjung ke Madinah saat ini akan mengatakan kota ini sangat damai. Ya, demikianlah kota Rasulullah SAW ini kenyataannya. Nama lama kota ini adalah Yatsrib. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari. (QS al-Ahzab: 13)

Konon, kata Yatsrib berasal dari kata Jetroba (Yetroba), salah satu anak keturunan Nabi Nuh (AS) setelah peristiwa banjir besar melanda planet bumi. Rasulullah SAW kemudian mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah. Kata Beliau SAW,

من قال للمدينة (يثرب) فليستغفرالله

“barang siapa yang menyebut Madinah sebagai (Yatsrib) hendaklah dia beristigfar”. (Musnad Imam Ahmad).

Sedemikian nyamannya kota yang dibangun Nabi ini hingga debu yang beterbangan pun menjadi obat. Suatu hari, ada seorang yang mengeluh pada Rasulullah SAW karena sakit, beliau SAW kemudian meletakkan tangannya di tanah lalu mengangkatnya (sambil berkata), “Dengan nama Allah, tanah kami yang baik ini, semoga dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara kami dengan izin Tuhan kami” Dengan kata lain, Madinah telah menjadi kota yang bebas polusi sejak dulu hingga kini.

Sedemikian indahnya ibadah di kota itu, orang bahkan berlomba memiliki rumah dekat masjid. Menurut riwayat, keluarga Bani Salmah memiliki rumah jauh dari masjid. Mereka acap kali telat shalat jamaah dengan Rasulullah SAW. Suatu hari dia ingin menjual rumah dan pindah ke sekitaran masjid Nabawi.

Mendengar itu; Nabi berkata, “Wahai Bani Salmah dari rumah kalian dicatat langkah kalian.. dari rumah kalian dicatat langkah kalian.”. Lalu turunlah firman Allah SWT:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

“Sesungguhnya kami menghidupkan yang mati: dan kami catat apa-apa yang kalian perbuat: dan langkah-langkah kalian..” (QS Yaasiin: 12)

Pranata sosial yang merindukan masjid seperti itu hanya lahir dari kekuatan dakwah Rasulullah SAW yang mempersaudarakan kelompok pendatang (muhajirin) Mekkah dengan kelompok pribumi (Anshar) Madinah. Maka, demikianlah kita dengar kisah Abdurrahman bin Auf.

Ia adalah seorang yang pedagang yang sukses. Padahal, saat hijrah meninggalkan Mekkah ke Madinah, Abdurrahman tak memiliki perbekalan yang banyak. Sampai di Madinah, ia dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW dengan Saad bin Rabi’, seorang tokoh di Madinah. Saad berkata, “Aku adalah salah satu penduduk Madinah yang kaya. Aku bersedia membagi setengah hartaku untukmu. Istriku juga ada beberapa. Jika kau mau, aku ceraikan salah satunya agar kau nikahi”. Tetapi, Abdurrahman bin Auf tahu diri. Dia hanya minta ditunjukkan pasar. Dari sana dia berdagang, tak lama kemudian dia sukses dan memberi tahu Rasulullah SAW bahwa ia akan menikah.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Kedua: Menerima kritik dalam membangun peradaban.

Setelah berhasil membangun Madinah, antara lain dengan mempersaudarakan orang Mekkah dengan orang Madinah, bukan berarti Rasulullah SAW terbebas dari kritik dan tantangan. Namun, semua kritik disikapi dengan bijak demi keutuhan perjuangan. Mari ambil contoh perang Hunain, salah satu peristiwa siaga satu yang paling panjang dalam sejarah Rasulullah SAW.

Seperti kita ketahui, pada perang Hunain, suku Hawazin menyerah, sedangkan suku Tsaqif melarikan diri ke Thaif. Di kota itu, terjadi ketegangan selama 20 malam. Suku Tsaqif mengutus para tokoh untuk menemui Rasulullah SAW agar membebaskan tawanan wanita dan mengembalikan harta mereka.

Di antara delegasi itu, Rasulullah SAW melihat wajah yang lamat-lamat dikenalinya. Ya, dia adalah Halimatus Sa’diyah, ibu angkatnya sendiri. Rasulullah SAW menyambutnya dengan kehangatan, dan menghamparkan selimut untuknya. Rasulullah SAW bahkan memenuhi permintaannya; seluruh tawanan wanita dibebaskan dan harta rampasan dikembalikan.

Keputusan Rasulullah SAW mengejutkan para sahabat, terutama kaum Anshar Madinah. Mereka mulai terhasut bahwa Rasulullah SAW berpihak pada masyarakat Makkah, tanah kelahirannya. Untuk apa bersabung nyawa, menggadaikan leher di kilatan pedang, jika pampasan perang dikembalikan pada kaumnya sendiri?.

Suara-suara sumbang semakin santer terdengar terutama saat Rasulullah SAW terlihat di mata kaum Anshar mengistimewakan Ikrimah, anak Abu Jahal, dengan memberinya harta rampasan perang.

Sampai di situ, Rasulullah SAW tetap menahan diri sampai akhirnya Sa’ad bin ‘Ubadah datang menghadap Rasulullah. Seakan protes, Sa’ad berkata, “kemenangan ini bertumpu pada orang-orang Anshar Madinah, tetapi mereka telah dibuat kecewa hatinya dengan pembagian rampasan perang. Engkau bagikan rampasan perang pada kaummu sendiri, sementara Anshar tak mendapat apa-apa”

“Ke mana arah pembicaraanmu, Sa’ad?”, tanya Rasulullah.

“Aku ini penyambung lidah kaumku, ya Rasulullah!”

Rasulullah SAW kemudian mengumpulkan seluruh kaum Anshar. Dengan suara bergetar dia berkata, “Wahai Anshar, tidak relakah kalian jika orang-orang itu kembali ke rumah mereka dengan membawa istri, budak dan harta mereka. Sedangkan kalian kembali ke Madinah dengan (membawa) Rasulullah? Demi Allah, seandainya orang-orang berjalan di suatu bukit, dan kaum Anshar berjalan di bukit yang lain, niscaya aku berada dalam barisan yang dilalui orang-orang Anshar itu”.

Para sahabat Anshar terdiam, lalu menitikkan air mata. Mereka telah salah mengira maksud Rasulullah SAW sebab tak lama setelah itu, para pemuka suku Tsaqif menyatakan keislamannya.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Ketiga: Sempurnakan amal kebaikan.

Setelah kita berpuasa selama sebulan, Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk membayar zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri ditunaikan.

روي عن عبدالله ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Zakat fitrah menjadi penyempurna amal kebaikan sepanjang bulan suci Ramadhan. Demikian pula seharusnya dalam kehidupan kita di dunia ini. Sempurnakanlah amal kebaikan sebelum kita dihisab oleh Allah SWT kelak.

Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam menata kehidupan itu. Saat panji kemenangan telah berkibar. Umat telah terbentuk di Madinah. Ayat terakhir telah turun. Haji telah menjadi wada’. Pohon telah sempurna dan tak lagi tumbuh tunas muda. Rasulullah SAW merasakan sakit sisa racun Yahudi Khaibar.

Beberapa hari sebelum wafat Rasulullah SAW berziarah ke makam Baqi di kota Madinah.

Pemakaman Baqi’ juga disebut sebagai Jannatul Baqi’ atau Baqi’ul Qarqad yang berarti “kebun dari pohon Boxtrhorn”. Pada awalnya, di tempat itu banyak pohon Qarqad sehingga, dalam hadits, Rasulullah SAW mengatakan bahwa pada akhir zaman pohon Qorqod menjadi tempat berlindung orang-orang Yahudi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ (رواه مسلم)

Jadi, pohon Qorqod adalah pohon kuburan yang tumbuh di Madinah sejak sekian abad lalu. Semoga ia kelak menjadi pohon kuburan bagi orang-orang Yahudi yang memerangi kaum Muslimin di Palestina.

Selesai berziarah ke makam Baqi’, Rasulullah SAW mengeluh sakit kepala. Pada suatu malam, seharusnya beliau SAW berada di rumah istrinya yang bernama Maimunah, namun beliau SAW izin agar diperbolehkan bermalam di rumah Aisyah. Dengan dipapah oleh Alfadlu Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW menuju rumah Aisyah.

Selama beberapa hari tinggal di rumah Aisyah, Rasulullah SAW merasakan panas badannya makin tinggi. Sampai suatu pagi, beliau SAW merasa agak sehat dan meminta untuk dibimbing menemui orang-orang di masjid.

Di mimbar, Rasulullah SAW berkhutbah:

فَمَنْ كُنْتُ جَلَدْتُ لَهُ ظَهْرًا فَهَذَا ظَهْرِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ ، أَلا وَمَنْ كُنْتُ شَتَمْتُ لَهُ عِرْضًا فَهَذَا عِرْضِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ ، وَمَنْ كُنْتُ أَخَذْتُ مِنْهُ مَالا فَهَذَا مَالِي فَلْيَسْتَقِدْ مِنْهُ

“Wahai manusia, siapa yang pernah aku pukul punggungnya, maka inilah punggungku. Siapa yang pernah aku caci-maki, maka inilah kehormatanku. Siapa yang pernah aku ambil hartanya, inilah hartaku. Ambillah.”

Seorang mengaku pernah dicambuk. Namun dia tak kuasa mencambuk Rasulullah SAW dan justru memeluknya sambil berurai air mata. Seorang lagi meminta tiga dirham, Rasulullah SAW membayarnya.

Rasulullah SAW kemudian berkata, “Sesungguhnya membuka aib di dunia lebih ringan dari pada membuka aib di akhirat.” Ya Allah, jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang berbaris bersama Rasulullah SAW dalam hisab-Mu kelak.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menyempurnakan amal-amal di dunia dengan kebaikan di hadapan Allah SWT dan Idul Fitri menjadi momentum secara berjamaah untuk membangun peradaban.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

(dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Inayatullah Hasyim
Menyelesaikan pendidikan dasar di Pondok Pesantren Attaqwa, Bekasi. Lalu melanjutkan studi ke International Islamic University, Pakistan. Kini, dosen di Fakultas Hukum Universitas Djuanda, Bogor. Email: inayat4@yahoo.com Salam Inayatullah Hasyim

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1438 H: Andai Ini Adalah Ramadhan Terakhir Bagiku