Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Menjadi Bijak di Bumi Allah, Hitam atau Putih

Menjadi Bijak di Bumi Allah, Hitam atau Putih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Adalah aura-aura putih, hilang dari kehausan akan melalaikan kewajiban di bumiNya dan merengkuhkan keyakinan untuk menambatkan hati di depanNya. Membelajari sisi gelap dari diri yang fana. Tuk mencari lembaran berpadu iman. ”

Bumi, menaungi segala ciptaan Allah. Tempat tinggal makhluk hidup dari banyak ukuran, mikro, meso bahkan makro, hingga berbagai jenis di seantero negeri ini. Hamparan luas daratan, dalamnya lautan sampai pada puncak gunung tinggi menjulang menceriterakan beribu kisah anak manusia di bumiNya. Manusia bak harapan yang memancarkan gemerlap guna meniti pesona alam memukau. Dan memecah khatulistiwa menuju batas yang tak berarti. Penggerak dan penggagas, manusia, salah satu unsur fenomenal yang membangun jagad raya ini. Pengemban dari setiap amanah yang digariskan oleh Allah. Adalah makhluk yang mewakili atau menggantikan kekuasaan Allah di bumi, khalifah. Mereka, manusia, bertanggung jawab dalam menyusun sistem-sistem kehidupan. Lakon dari para lakon yang gerak-geriknya senantiasa dipantau olehNya. Dimanapun, mereka terikat hukum alam, untuk patuh pada ayat-ayatNya.

Allah maha dari segala maha, pemberi nikmat dan rezeki kepada makhlukNya. Dia sungguh tahu bagaimana menempatkan seorang hambaNya. Memang sangat jelas. Kehidupan duniawi telah diatur sedemikin rupa. Semua kenikmatan diberikan untuk menunjang kehidupan di muka bumi. Lantas, bagaimana mereka bersikap? Apakah mereka berusaha mengejar surgawiNya? Atau berdiam diri semata, buta di bumi Allah. Manusia adalah pemeran sandiwara yang berpose unik di panggungNya, cermin dari setiap laku yang diperbuat.

Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk senantiasa berpikir positif dan berprasangka baik kepada sesamanya. Dalam menilai kelebihan maupun kekurangan orang lain, hendaknya bersikap khusnudzon, bukan su’udzon. Mereka mau merendahkan, memandang remeh, bukan suatu masalah. Cara pandang setiap manusia berbeda. Boleh jadi, itulah cara manusia dalam memperhatikan sesamanya. Meski demikian, mereka harus tetap berada pada jalan yang seharusnya, di bawah sinarNya.

Tuhan telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Dari mulai ditiupkan roh hingga dibekali akal dan pikiran, cerdas pun luar biasa. Tanpa Dia mengurangi kadarnya. Maha suci Allah atas segala karuniaNya. Satu hal yang perlu diperhatikan manusia, yaitu mengasah segala sesuatu dengan bijak. Menghilangkan sifat kufur. Air, udara, dan seluruh isinya adalah sebagian dari kekayaan yang diberikan oleh Allah. Seyogyanya harus dikelola dan dimanfaatkan untuk keberlangsungan semua makhlukNya.

Adalah kebahagiaan pada setiap makhluk yang bernapas di bumiNya. Tentu dengan suatu berfaedah. Allah menjadikan alam ini dengan berbagai nikmat tumbuhan, buah-buahan, dan kekayaan di dalamnya.

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (Ar-rahman:16)

Di satu sisi, dunia ini terasa fana. Apabila manusia tidak mampu menempatkan dirinya, nafsu dan kesesatan akan menelannya. Kerap kita temukan, terjadi kerusakan alam dimana-mana, deforestasi bahkan hilangnya habitat satwa. Ini adalah salah satu hasil dari ulah manusia yang kurang cinta terhadap alam sekitarnya. Padahal Allah telah menegaskan, Dia menciptakan bumi dan langit lengkap dengan tumbuhan dan buah-buahan. Meski acap keserakahan manusia menjadi faktor pendorongnya. Manakala manusia tidak bias dan mau berbaur secara sempurna dengan alam, dipastikan bumi ini akan tampak indah. Nyaman dan lestari.

Musim semi datang suatu ketika pada pagi. Ditemani suara gemercik. Sangat jernih, Dan wewangian alami dari bunga-bunga menyebar ke segala sudut di bumi ini, tanpa terkecuali. Bahkan raflesiapun tersamarkan oleh wanginya. Saja manusia sebagai khalifah, semuanya memiliki sifat yang bijaksana. Tangannya menakar sesuai keperluan. Bukan menghabiskan dengan sia-sia.

Manusia adalah khalifah, sepantasnya menunaikan kewajiban dalam memelihara harga berhargaNya, alam semesta. Masa depan dari bibit-bibit unggul nantinya ditentukan dari keberadaan manusia-manusia sekarang ini. Sehat, sakit atau hilang, seyogyanya gambaran dari ulah manusia pagi ini. Hingga senja nanti, tanpa terdiferensiasi, hitam atau putih akan datang teramat jelas. Berapa kali lagi, masa akan menangis. Entah kita tak tahu itu. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Pejuang Pena
Bukan tentang siapa dirimu. Tapi tentang bagaimana dirimu menghargai orang lain

Lihat Juga

Menjadi Calon Ibu Peradaban yang Bijak dalam Penggunaan Media Sosial

Figure
Organization