Home / Narasi Islam / Sosial / Menjadi Calon Ibu Peradaban yang Bijak dalam Penggunaan Media Sosial

Menjadi Calon Ibu Peradaban yang Bijak dalam Penggunaan Media Sosial

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (price-id.com)

dakwatuna.com – “Perempuan adalah tiang negara, jika perempuannya baik maka baiklah negaranya, dan jika perempuannya rusak, maka hancurlah negaranya. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, jika ibu mempersiapkan mereka dengan baik, maka dia telah mempersiapkan bangsa yang baik dan kuat.” (Anonim)

Perempuan memiliki peran tersendiri dalam perwujudan peradaban yang unggul bagi negeri ini. Apalagi ketika perempuan juga menyandang status sebagai seorang muslimah. Maka perannya sebagai dasar fondasi umat melalui madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak-anaknya nanti adalah hal mendasar yang harus dipahami setiap muslimah. Apalagi di era milenial yang kondisinya menuntut setiap pekerjaan menjadi instan dan cepat. Hal ini dapat dilihat dari pesatnya perkembangan teknologi khususnya pada bidang telekomunikasi.

Sebagai seorang muslimah, memahami kondisi dunia yang hanya sedekat sentuhan jari ini perlu adanya pedoman. Dunia yang lazim kita sebut dengan dunia maya ini tentunya berbeda dengan kehidupan nyata, namun sebagai seorang muslim pedomannya tetaplah sama. Pedoman hidup yang mengatur setiap sendi kehidupan kita, Al Quran dan As Sunah. Karena dalam Islam sendiri mengatur segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan dalam dunia maya.

Allah SWT mengutus Rasulullah SAW salah satu tujuannya ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dalam hal ini kita sebagai seorang muslimah juga harus menyempurnakan akhlak kita sesuai tuntunan Rasulullah. Tidak terkecuali kehidupan maya kita. Wajib bagi kita mengetahui dan mengamalkan adab dalam dunia maya. Khususnya bagian dunia maya yang berhubungan dengan pergaulan sesama manusia atau yang lazim kita dengar dengan sosial media. Karena, sekalipun terlihat maya, tapi sakit hati yang diakibatkan nyata, dampak kerusakan pun nyata.

Media sosial tentunya mempunyai dampak besar dalam kehidupan kita. Contohnya dengan keberadaan salah satu alat komunikasi telepon seluler yang berisi puluhan aplikasi media sosial. Hal ini dapat memudahkan seseorang dalam menjalin hubungan jarak jauh khususnya, serta banyak kemudahan yang bisa kita dapat darinya. Namun, disisi lain tentu ada dampak negatif yang timbul apabila kita tidak hati-hati dalam penggunanya. Bermain media sosial ibarat menghunus sebuah pedang. Jika salah mengayunkannya, maka kita sendiri yang akan tertebas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui adab dan etika dalam penggunaan media sosial.

Adapun adab-adab yang perlu diketahui oleh calon ibu peradaban dalam bermedia sosial sebagai berikut:

1. Menjaga pergaulan

Pergaulan kepada sesama muslimah maupun dengan lawan jenis. Adab-adab pergaulan dunia nyata dengan dunia maya tidak jauh berbeda. Ketika dalam dunia nyata kita harus menjaga jarak dengan lawan jenis maka di dunia maya pun demikian. Rasul bersabda,

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud).

Dalam hadis ini juga dijelaskan bahwa dalam memilih teman karib haruslah orang yang mempunyai tabiat baik, khususnya dalam hal agama. Maka dari itu, lingkaran pertemanan di media sosial pun turut kita perhatikan.

2. Menjaga syahwat lisan

Sebuah studi yang dilangsungkan di Amerika Serikat mengatakan, dalam sehari, perempuan bisa mengucapkan sekitar 20 ribu kata per hari, sementara lelaki sekitar 7 ribu kata per hari. Dalam perkembangannya, dunia maya masuk dalam kehidupan kita media sosial menjadi salah satu sasaran syahwat lisan berupa kata-kata dalam tulisan, video, atau rekaman suara. Oleh karena itu, setiap tindakan lisan yang akan kita lakukan dalam penggunaan media sosial juga patut diberi perhatian besar.

Banyak komentar miring bertebaran di media sosial. Kalimat kotor dilontarkan di kolom komentar dengan kata-kata yang buruk dan tidak pantas. Seburuk apa pun seseorang hendaknya kita tidak main hakim sendiri, apalagi menghujat seseorang melalui media umum. Ada adab yang harus diperhatikan dalam menasihati sesama manusia. Untuk lebih mudahnya kita bisa mencoba memosisikan diri menjadi lawan bicara kita, dalam hal ini orang yang hendak kita beri komentar atau nasihat. Apakah kita sebagai orang tersebut akan senang apabila orang lain memberi komentar yang hendak kita lakukan kepadanya. Maka dengan itu akan lebih memudahkan kita dalam menjaga perasaan lawan bicara kita.

3. Menjaga prasangka

Manusia sering kali menaruh prasangka terhadap sesamanya. Hal itu juga sering kita jumpai dalam kehidupan dunia maya kita. Mencari celah kesalahan orang lain melalui postingan, jawaban sebuah pesan, serta tindak tanduk lainnya yang orang lain kerjakan dalam media sosial. Acapkali prasangka ini menjerumuskan hati kita pada jurang pemisah ukhuwah. Yang pada akhirnya ada perasaan buruk yang timbul mengenai orang yang menjadi sasaran suuzhan kita.

4. Tabayun

Untuk mengetahui dugaan atau prasangka kita terhadap orang lain, maka bertabayun adalah jawaban utamanya. Sesuai dengan firman Allah SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]:6)

5. Manajemen waktu

Banyak sekali waktu yang terbuang untuk bermedia sosial. Sebagai calon ibu peradaban, manajemen waktu menjadi hal krusial yang harus dipahami. Bagaimana kita mengatur urusan rumah tangga nanti dengan urusan pribadi belum lagi adanya media sosial ini. Jangan sampai media sosial melalaikan kewajiban utama kita nantinya.

Setelah mengetahui adab-adab dalam bermedia sosial, menata niat adalah langkah awal yang harus istiqamah dilakukan ketika hendak bermedia sosial. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan dalam adab penggunaan media sosial ini adalah muraqabah. Yaitu perasaan yang muncul karena merasa kita selalu diawasi oleh Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 54 yang artinya jika kamu menampakkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Hal ini dapat membantu kita dalam menjaga adab bermedia sosial karena kita selalu merasa segala amal perbuatan kita diawasi oleh Allah.

“Sungguh banyak malaikat yang selalu mengawasi kalian, para malaikat itu selalu mencatat perbuatan-perbuatan kalian mereka mengetahui semua perbuatan kalian”. (QS. Al – Infithar : 10-12)

Pentingnya menyadari bahwa segala yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan di hari pembalasan. Allah SWT berfirman,

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar Dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Setelah mengetahui adab dan hal yang harus diperhatikan dalam bermedia sosial. Banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dalam bermedia sosial khususnya sembari mendekatkan diri dengan Allah SWT. Salah satunya adalah pahala yang terus mengalir melalui amal jariyah. Salah satunya dalam media sosial adalah postingan-postingan bermanfaat untuk warganet. Dengan adanya postingan bermanfaat yang menginisiasi orang lain untuk berbuat baik pula, maka pahala kebaikan yang ia lakukan akan ikut mengalir kepada kita. Sesuai hadis Rasulullah yang artinya,

“Barang siapa yang memberi teladan dalam agama ini suatu kebaikan, maka baginya pahala setiap orang yang mengamalkannya hingga hari Kiamat tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

Namun hal tersebut juga berlaku apabila kita memberi hal negatif yang berdampak pada motivasi orang berbuat keburukan, dosanya pun akan mengalir menghapus amalan kita. Maka sesungguhnya benar hidup ini pilihan. Akankah kita menjadi calon ibu peradaban yang bijak dalam bermedia sosial atau tidak. Semua itu dimulai dari diri kita sekarang. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?