Home / Narasi Islam / Politik / Konflik Peradaban dan Kebijakan Politik Barat

Konflik Peradaban dan Kebijakan Politik Barat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (evl.uic.edu)
Ilustrasi. (evl.uic.edu)

dakwatuna.com – “Islam adalah satu-satunya peradaban yang menempatkan keselamatan Barat dalam kegaruan, setidaknya dua kali dalam sejarah.” (Samuel Huntington, penasihat politik terkemuka bagi pemerintah Amerika Serikat)

Begitu komunisme dianggap runtuh, dengan tempo yang cepat diskusi-diskusi tentang ‘ancaman Islam’ atau ‘bahaya Islam’ (Islamic threat) bermunculan di media massa. Para ilmuwan Barat sendiri berdebat keras tentang wacana ini, hanya saja, pada awal dekade 1990-an, seorang ilmuwan politik dari Harvard University, Samuel P. Huntington menjadi sangat terkenal dengan mempopulerkan wacana ‘the clash of civilization’ (benturan peradaban). Melalui bukunya, The Clash of Civilization and The Remaking of World Order (1996), Huntington mengarahkan Barat untuk memberikan perhatian khusus kepada Islam. Menurutnya, di antara berbagai peradaban besar yang masih eksis hingga kini, hanya Islamlah satu-satunya peradaban yang berpotensi besar mengguncang peradaban Barat, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah.

Proyek besar-besaran AS untuk menjadikan agenda ‘perang melawan terorisme’ sebagai agenda utama dalam politik internasional, terbukti kemudian lebih diarahkan untuk mengejar apa yang mereka sebut sebagai “teroris Islam” yang mereka nilai membahayakan kepentingan Barat, dan AS khususnya sebagai negara imperialis (penjajah). Perkembangan politik internasional kemudian seperti bergerak menuju ‘tesis’ benturan peradaban yang dipopulerkan Huntington. Dunia diseret untuk terbelah menjadi dua kutub utama: Barat dan Islam. Barat dicitrakan sebagai pemburu teroris, sedangkan Islam adalah teroris atau yang pro teroris (minimal dianggap tidak bersikap tegas memusuhi teroris). Mengapa bisa demikian?

Seperti ditekankan Huntington saat berdialog dengan Anthony Gidden, pada musim semi tahun 2003, bahwa militan Islam adalah ancaman terhadap Barat. Huntington menegaskan, Ia juga mengatakan, “…tetapi Islam militan merupakan ancaman nyata bagi barat melalui para teroris dan negara-negara ‘bajingan’ (rough state) yang sedang mengembangkan senjata nuklir, serta cara-cara lainnya.”

Huntington menulis di koran Newsweek (2001) berjudul The Age of Muslim Wars. Di dalam tulisannya ia menegaskan, “Politik global masa kini adalah zaman perang terhadap muslim.” Ia menekankan bahwa konflik antara Islam dan Kristen –baik Kristen Ortodoks maupun Kristen Barat- adalah konflik yang sebenarnya. Sedangkan konflik antara Kapitalis dan Marxis-Sosialis hanyalah konflik yang sesaat dan bersifat dangkal.

Kesimpulan terakhir Huntington ini sangat aneh, karena konflik inilah yang dalam sejarah telah menciptakan huru-hara dan kekacauan kehidupan yang tidak terkira hingga sekarang. Revolusi buruh pada abad 19 yang berasal dari ideologi Sosialisme-Komunis yang dikembangkan oleh Karl Marx telah menciptakan rezim Komunisme Uni Soviet dan Nazisme Jerman untuk melawan ideologi Kapitalisme Liberal ala AS dan sekutunya. Puncak benturan antara Sosialisme dan Kapitalisme terekam dalam sejarah Perang Dunia II antara kubu Sentral dan Sekutu serta Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet. Yang telah menggoyang dan memporak-porandakan ekonomi global dan menghancurkan kehidupan umat manusia. Konflik antara AS dan Korut serta Cina juga merupakan konflik antara Kapitalis dan Komunis. Bagaimana konflik yang telah menghancurkan kehidupan manusia ini dinilai oleh Huntington sebagai konflik sesaat? Ataukah konflik tersebut memang sengaja diciptakan oleh sebuah ‘pemerintahan bayangan’ (Shadow Government) untuk membuat bingung dan lemahnya umat Islam?

Kembali ke masalah konflik peradaban Islam dan Barat. Setelah menetapkan Islam sebagai musuh utama Barat, Huntington menyarankan Eropa di Amerika untuk menyokong strategi bersama untuk menghadapi ancaman-ancaman terhadap masyarakat dan keamanan mereka dari militan Islam. Ia menekankan perlunya dilakukan preemptive-strike (serangan dini) terhadap ancaman dari kaum militan Islam. Kata Huntington, “Saya perlu menambahkan bahwa satu strategi yang memungkinkan dilakukannya serangan dini terhadap ancaman serius dan mendesak adalah sangat penting bagi AS dan kekuatan-kekuatan Barat pada saat itu. Musuh kita yang utama adalah Islam militan.”

Kini menghadapi musuh baru –yang diberi nama teroris- AS menggunakan pola preemptive strike dan defensive intervention, dengan cara membabat dulu semua negara yang dianggap berpotensi membela dan melindungi teroris, urusan hukum internasional belakangan. “Dengan doktrin keamanan yang baru itu, AS akan merasa lebih leluasa menyerang negara orang atau organisasi yang dipersepsikan sebagai teroris, atau negara yang dipersepsikan sebagai musuh yang memiliki senjata berbahaya seperti senjata kimia, biologis, atau nuklir,” demikian tulis Kompas (14 Juni 2002). Dalam bahasa yang lebih lugas, doktrin ‘serangan dini’ ini ibarat ‘membunuh tikus di lubangnya’. Jadi, tidak membiarkan dan memberi kesempatan tikus untuk berkembang dan menyerang.

Maka, tidak heran kalau AS begitu semangat melakukan invasi ke negara-negara Islam dan mencampuri urusan politik mereka atas nama ‘pemberantasan terorisme’ dan ‘penegakan demokrasi’. AS telah mengeluarkan biaya militer yang di atas normal untuk menciptakan senjata-senjata pemusnah manusia di Irak, Afghanistan, Palestina, Libya, dan negara-negara Islam lainnya. Sepanjang abad ke-20, sains AS dibentuk dan diarahkan untuk kepentingan militer. Tahun 2001, misalnya, anggaran militer dipatok 289 milyar USD. Tetapi, realisasinya mencapai 315 milyar USD. Tahun 2002, anggaran militer mencapai 328 milyar USD. Tetapi, akibat dorongan peristiwa 11 September, realisasi anggaran mencapai 351 milyar USD. Tahun 2003, anggaran militer sudah mencapai 379 milyar USD. Ini berarti, dalam dua tahun saja, terjadi peningkatan anggaran militer sebesar 64 milyar USD –satu jumlah yang sama dengan dua kali lipat seluruh anggaran militer Inggris.

Selain serangan militer, AS juga melakukan serangan pemikiran besar-besaran terhadap kaum muslimin dengan menyebarkan dan memaksakan paham liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Cheryl Bernard, seorang sosiologis feminis memberikan saran-saran strategis kepada pemerintah AS untuk melakukan proyek liberalisasi sbb: 1) Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas 2) Dukung terciptanya masyarakat sipil (civil society) di dunia Islam.3) Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggeris dst. 4) Serang terus menerus kelompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya melalui media masa. 5) Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern 6) Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial, kesehatan, ketertiban masyarakat dsb. 7) Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim.

Lebih lanjut Cheryl Bernard memberi masukan tentang langkah praktis yang perlu dilakukan untuk mendukung strategi dan taktik di atas. Kegiatan-kegiatan yang ia usulkan adalah sbb: 1) Rebut atau rusaklah “monopoli” kelompok fundamentalis dan tradisionalis dalam menjelaskan dan menafsirkan Islam. 2) Cari kelompok modernis / liberal yang dapat membuat website yang menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan kemudian menawarkan pendapat Muslim modernis tentang hukum-hukumnya. 3) Doronglah cendekiawan Modernis / liberal untuk menulis buku teks dan mengembangkan kurikulum dan berilah bantuan finansial. 4) Gunakan media regional yang populer, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran-pemikiran Muslim modernis/liberal agar membuat dunia internasional melek tentang apa arti Islam dan dapat berarti apa Islam itu.

Di Indonesia, gerakan liberalisasi pemikiran Islam terasa sangat intens dan serius. Penyebaran wacana-wacana tentang Islam dan pemikiran keislaman yang terdengar “aneh” di telinga para ulama dan cendekiawan Muslim ini dilakukan melalui media surat kabar, majalah, media elektronik baik radio maupun televisi, dan penerbitan buku-buku.

Bagi yang berpikir jernih dan tulus akan segera menangkap bahwa gerakan ini lebih mirip gerakan sosial politik ketimbang wacana keilmuan biasa. Sebab di kalangan mudanya gairah untuk memperburuk sahabat, ulama, sejarah Islam, tradisi, akidah, hukum-hukum Syariat yang baku, Al-Quran mushaf Utsmani, ilmu Tafsir dan sebagainya dalam Islam sangat tinggi bahkan seperti sebuah kemarahan dan kebencian yang ekstrem.

Liberalisasi pemikiran Islam memang diakui ada dengan dana besar, tapi itu masih belum cukup untuk mem-Barat-kan Islam. Kini perilaku dan pemikiran Muslim seakan telah diikat oleh wacana-wacana itu dan seperti tidak akan bisa menolak. Jika dianalisis secara politis kita dapat kaitkan dengan tulisan David E. Kaplan, Hearts, Minds, dan Dollars, bahwa: “Washington berinvestasi puluhan juga dolar dalam kampanye untuk mempengaruhi bukan saja masyarakat Islam, tapi juga Islam sendiri dan apa yang terjadi dalam Islam.”

Untuk itu, umat Islam juga perlu tahu bagaimana sebenarnya paham-paham di Barat yang dibanggakan oleh orang liberal itu. WaLlahu A’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penulis lahir di Pati tahun 1991. Belajar di MI, MTs, dan MA Darul Falah Sirahan Cluwak Pati hingga tahun 2009. Aktif dalam menulis di berbagai media Islam lokal pondok pesantren dan meneliti berbagai pemikiran Islam.

Lihat Juga

Erdogan Kecam Keras Standar Ganda Barat soal Persenjataan

Figure
Organization