Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Trilogi Kebangkitan Nusantara, Masjid-Kampus-Pesantren, Membangun Peradaban Profetik

Trilogi Kebangkitan Nusantara, Masjid-Kampus-Pesantren, Membangun Peradaban Profetik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (izzuddien.com)
Ilustrasi. (izzuddien.com)

dakwatuna.com – Islam datang bagai cahaya yang menerangi bumi dari kegelapan jahiliyah. Cahaya Islam nan lembut kemudian menyusup ke hati setiap insan yang Allah kehendaki. Ketika cahaya itu masuk ke hati seorang Umar bin Khattab yang terkenal tegas dan kuat, cahaya itu tak membuat Umar menjadi suram justru membuatnya lebih berpijar. Umar yang di masa jahiliyah disegani atas ketegasan dan kekuatannya, setelah menerima cahaya Islam semakin disegani, semakin berpijar potensi yang ada dalam dirinya. Begitu pula cahaya Islam yang lembut itu masuk ke hati seorang budak hitam –Bilal bin Rabbah – tidak membuatnya semakin lemah di hadapan tuannya, justru menerbitkan keberanian di hatinya untuk semakin berpegang pada kebenaran Allah tanpa sedikit pun rasa takut akan bayang-bayang siksaan. Ahadun ahad, kalimat yang begitu ampuh menimbulkan keberanian di hatinya, tiada lagi rasa risau, karena ia percaya pada Yang Maha Esa.

Iman yang ada dalam hati, kekuatannya menjalar dalam setiap perbuatan seorang mukmin. Iman yang menerbitkan rasa cinta kepada Allah Sang Pencipta dan Rasulullah. Rasa cinta yang membuat seorang mukmin melakukan apa saja perintah yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasa cinta yang membuat seorang mukmin berlomba-lomba mewujudkan sabda Rasulullah tentang berbagai penaklukkan yang konon akan dilakukan oleh kaum muslimin. Dan benarlah, perjuangan yang dilandasi oleh rasa cinta itu membuahkan hasil. Berbagai daerah berhasil ditaklukkan oleh kaum muslimin. Pun begitu juga dengan Konstantinopel, ditaklukkan oleh sebaik-baik komandan perang dan sebaik-baik pasukan, Muhammad Al Fatih dan pasukannya. Kemenangan yang diraih tak terlepas dari kekuatan iman, kekuatan yang timbul karena masing-masing individu memegang teguh agama Allah, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta meneladani sunnah Nabi-Nya.

Saat ini, apa yang terjadi dengan kaum muslimin? Generasi terdahulu dapat meraih kemenangannya karena mereka memegang teguh agama Allah. Saat ini berbagai kemajuan dialami kaum muslimin, kemajuan teknologi, kemajuan ilmu pengetahuan, hingga berkembang berbagai paham yang berusaha menjauhkan kaum muslimin dari agamanya. Musuh-musuh Islam itu menyadari bahwa jika kaum muslimin dapat dijauhkan dari agamanya maka mereka akan mampu mengalahkannya. Inilah yang terjadi saat ini, dan inilah yang menjadi salah satu penyebab keruntuhan Kesultanan Turki Utsmani.

Turki Utsmani yang begitu berjaya kala itu, sedikit demi sedikit tergerogoti justru dari dalam dirinya. Seorang keturunan Turki, Mustafa Kemal, hasil didikan ideologi sekuler yang kemudian kembali ke Turki dan meruntuhkan kesultanan Turki Utsmani sedikit demi sedikit. Mustafa Kemal masih mengaku dirinya orang Islam, tapi sama sekali tidak menjalankan ajaran Islam. Kebijakan yang ia buat pun adalah kebijakan yang bertentangan dengan Islam. Ketika ia menjabat, kebijakan yang ia buat adalah menghapuskan pelajaran agama Islam dari sistem pendidikan, melarang membaca Alquran dengan bahasa aslinya bahkan melarang mengumandangkan Adzan dengan bahasa Arab. Keadaan yang sangat menyedihkan.

Di masa kegelapan itu, tetap saja ada sosok yang bercahaya, bercahaya karena keimanannya dan kecintaannya pada Al Quran –Badiuzzaman Said Nursi. Dengan segala kemampuannya ia menentang pemerintahan sekuler Turki kala itu. Meski pun dirinya dipindah dari penjara satu ke penjara lain, diasingkan dan dibuang, tapi ketajaman penanya menghujam tirani. Para pemangku jabatan nan sekuler itu ketakutan, ketakutan akan apa? Akan sosok yang di dalam hatinya berpijar cahaya iman. Maka ini adalah salah satu bukti bahwa keimanan yang sesungguhnya adalah kekuatan yang mampu mengalahkan kekuatan tirani, keberadaannya membuat takut orang yang paling kejam sekali pun.

Belajar dari sejarah –karena begitulah adanya sejarah untuk diteladani generasi selanjutnya – jika kaum muslimin ingin mewujudkan kembali kebangkitan Islam maka harus dengan sungguh-sungguh berpegang pada syariat Islam. Berbagai kemajuan IPTEK yang ada bukan menjadi dalih untuk meninggalkan ajaran Islam, tapi justru membuat setiap muslim semakin mencintai agamanya. Antara keilmuan dan keagamaan tidak bisa dipisahkan. Ketika ingin mewujudkan peradaban nan kokoh, harus didasarkan pada keilmuan dan sifat kenabian (profetik). Ada 3 komponen yang dapat menjadi dasar atau pilar, yakni telinga, mata dan hati. Tiga komponen yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-Nya, sebagai bekal untuk melakukan perubahan.

Instrumen penglihatan dan pendengaran sebagai bahan untuk mengumpulkan informasi. Informasi ini kemudian akan diolah di otak menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang didapat kemudian akan diolah di hati. Hati akan mengarahkan manusia menuju jalan keburukan atau jalan kebaikan. Maka penting bagi setiap insan untuk menjaga dan merawat hati, agar hati dapat mengarahkannya kepada jalan kebaikan.

Berbekal pengetahuan dan hati yang bersih manusia akan dituntun untuk menemukan hikmah. Akan tetapi hikmah hanya akan didapat bagi manusia yang mau bersyukur.

Hal yang harus diperhatikan ketika ingin melakukan perubahan, harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang hakikat segala sesuatu yang dihadapi. Hal tersebut direpresentasikan dalam kehidupan pesantren.

Hal lain yang tidak kalah penting, validitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, hal ini tercermin dalam kehidupan kampus. Insan-insan cendekia kampus dituntut untuk bertindak berdasarkan data yang valid. Termasuk ketika insan kampus terjun dalam organisasi. Gerak organisasinya harus berdasarkan data yang valid, tidak sekadar asumsi dalam organisasi tersebut.

Selain itu, diperlukan pula kemampuan untuk mengarahkan ilmu pengetahuan untuk kebermanfaatan. Hal ini tercermin dalam kehidupan kampus. Ilmu yang ada digunakan untuk kemaslahatan umat.

Ketiga komponen ini, masjid, kampus dan pesantren tidak boleh dipisahkan. Ketiganya harus ada dalam tubuh umat. Saling melengkapi ibarat ketiga komponen dalam diri manusia yang telah Allah anugerahkan, yakni mata, telinga dan hati, saling melengkapi untuk memperoleh pengetahuan dan hikmah.

 

*Tulisan ini disarikan dari kuliah umum Prof. Dr. Edy Meiyanto, M.Si., Apt pada sertijab Jamaah Shalahuddin UGM 1436 H dan referensi lain.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi Ilmu Keperawatan UGM 2013. Muslimah yang sedang belajar di jalan dakwah. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri bersama 30 Srikandi di asrama peradaban.

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Figure
Organization