Home / Zaqy Dafa

Zaqy Dafa

Penulis lahir di Pati tahun 1991. Belajar di MI, MTs, dan MA Darul Falah Sirahan Cluwak Pati hingga tahun 2009. Aktif dalam menulis di berbagai media Islam lokal pondok pesantren dan meneliti berbagai pemikiran Islam.

Antara Novel Bamukmin, Fitsa Hats, dan Hukum Muslim Bekerja di Perusahaan Non-Muslim

Saya sebagai seorang Muslim sekaligus anggota masyarakat Indonesia yang sudah lama ber-Bhinneka Tunggal Ika, marilah kita semua hidup beragama yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing serta hidup berbangsa yang baik dan harmonis. Apabila timbul suatu masalah yang menyangkut agama, pahami dan selesaikan sesuai dengan ajaran agama. Apabila timbul masalah yang menyangkut sosial, selesaikan secara kekeluargaan dan mengedepankan kedamaian dan akhlak yang baik.

Baca selengkapnya »

Kritik Kajian Sejarah Faraq Fouda Dalam Buku Al-Haqaiq Al-Ghaibah (Bag ke-3): Seputar Khilafah Utsman bin Affan

Keterangan dua pakar sejarah di atas menjelaskan sekaligus memperingatkan kepada pengkaji sejarah Islam untuk bersikap selektif terhadap berbagai cerita yang terdapat dalam kitab-kitab sejarah Islam meskipun ditulis oleh ulama-ulama yang jujur, karena kebanyakan mereka menyebutkan berbagai cerita sejarah dari berbagai kalangan dan madzhab tanpa melakukan kajian terhadap kuat atau lemahnya riwayat. Dua pakar sejarah tersebut mengingatkan bahwa parameter sahih tidaknya riwayat sejarah Islam adalah Sunnah dan pandangan ulama-ulama pemimpin umat yang tidak lain adalah ulama Ahlussunnah wa Jama’ah. Parameter ini menjadi sangat penting mengingat banyaknya orientalis dan pengikutnya yang menggunakan data-data dalam kitab-kitab sejarah untuk meruntuhkan keyakinan umat Islam akan kemuliaan para shahabat khususnya Khulafa Rasyidun dan menggelontorkan ide-ide liberal mereka.

Baca selengkapnya »

Kritik Kajian Sejarah Faraq Fouda Dalam Buku Al-Haqaiq Al-Ghaibah (Bag ke-2): Seputar Khilafah Utsman Bin Affan

Jika Fouda mempertanyakan urgensi Syariah Islam dalam rangka menyelesaikan masalah umat dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, maka kita bisa saja bertanya kepadanya: Apakah masalah-masalah yang dia angkat tersebut telah menemukan solusinya tanpa menerapkan Syariah? Nyatanya, masalah-masalah tersebut masih terus saja ada kan? Ketika masyarakat kuat dalam berakidah, memenuhi kewajiban ibadah dan muamalah, dan meniru gaya hidup Rasulullah, apakah hal itu menghalangi mereka melakukan kajian dan dialog untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia yang ia bicarakan? Bukankah kerusakan agama dan moral manusia yang menjadi masalah besar di dunia berasal dari semakin jauhnya manusia dari Syariat?

Baca selengkapnya »

Kritik Kajian Sejarah Faraq Fouda Dalam Buku Al-Haqaiq Al-Ghaibah (Bag ke-1): Seputar Khilafah Abu Bakr Al-Shiddiq

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama telah lama memperingatkan, “Sesungguhnya kerusakan umatku disebabkan oleh pemimpin-pemimpin zalim dan bodoh dari suku Quraisy.” (HR. Ahmad); “Jika sebuah perkara diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah waktu kehancuran.” (HR. Bukhari); “Akan turun kepada umatku di akhir zaman nanti cobaan yang dahsyat dari pemimpin mereka. Belum pernah terdengar cobaan yang lebih dahsyat darinya sehingga bumi pun terasa sempit bagi mereka karena dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman.” (HR. Hakim) dan masih banyak lagi Hadits-hadits yang menunjukkan kerusakan umat manusia akibat kerusakan pemimpinnya.

Baca selengkapnya »

Menulis dan Tanggung Jawab Ilmu

Menulis merupakan satu kegiatan keilmuan yang paling baik untuk mengembangkan ilmu yang kita miliki. Dengan menulis kita bisa menyampaikan berbagai informasi, perasaan, dan gagasan secara nyata sehingga bisa dilihat dan diketahui oleh khalayak umum. Namun, bagaimana apabila paradigma menulis telah dilandasi oleh kepentingan-kepentingan materi?

Baca selengkapnya »

Pemaknaan Pluralis Ketuhanan Maha Esa Dalam Pancasila

Teolog Jerman Olaf Schumann memberika penafsiran terhadap sila Ketuhanan Yang Maha Esa, “Istilah “ketuhanan” merupakan istilah yang sangat abstrak; bukan “Tuhan” melainkan “ketuhanan”, suatu prinsip mengenai Tuhan, tetapi bukan Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu, ia pun sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa asing... Jadi, dengan rumusan sila ketuhanan diberikan ruangan luas yang sekaligus dilindungi oleh negara agar agama-agama yang diakui dapat menguraikan dan mengembangkan pemahaman mereka masing-masing mengenai Tuhan itu.”

Baca selengkapnya »

Konflik Peradaban dan Kebijakan Politik Barat

Di Indonesia, gerakan liberalisasi pemikiran Islam terasa sangat intens dan serius. Penyebaran wacana-wacana tentang Islam dan pemikiran keislaman yang terdengar “aneh” di telinga para ulama dan cendekiawan Muslim ini dilakukan melalui media surat kabar, majalah, media elektronik baik radio maupun televisi, dan penerbitan buku-buku.

Baca selengkapnya »

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan kali ini menjadi momentum yang sangat tepat untuk pembinaan mentalitas yang baik dan akhlak manusia Indonesia yang mulia. Apalagi, akhir-akhir ini bangsa kita dibuat resah dan kecewa dengan berbagai kasus kerusakan moral dan pikiran para remaja.

Baca selengkapnya »

Miras Sumber Kejahatan

Melihat keterangan ini, jelas bahwa minuman yang mengandung alkohol baik sedikit ataupun banyak haram dikonsumsi oleh manusia. Jika kita bandingkan dengan argumen Ahok bahwa kandungan alkohol dalam bir hanyalah 5 persen, maka tetap saja bir tersebut haram karena mengandung alkohol. Oleh karena itu, keinginan Ahok agar bir bisa dijual bebas di pasaran sama saja dengan menjerumuskan umat Islam khususnya warga Jakarta dalam keharaman.

Baca selengkapnya »

Menengok Sejarah Pancasila: Ideologi Kebangsaan Berlandaskan Islam

Pancasila sebagai buah perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan begitu diagungkan layaknya barang keramat. Hal ini wajar, karena Pancasila merupakan hasil keringat dan cucuran darah para pejuang bangsa Indonesia selama tiga setengah abad hingga akhirnya diberikan karunia Allah berupa kemerdekaan dan terbebas dari imperialisme Barat. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pihak yang berusaha menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup menggantikan agama. Agama ingin disisihkan oleh Pancasila, bukannya memberi landasan dan mewarnai Pancasila. Tak ayal, Pancasila pun ingin menggantikan Islam, bukannya Islam yang melandasi Pancasila. Padahal, kata-kata kunci dalam Pancasila seperti “Ketuhanan Yang Maha Esa”, “adil dan beradab”, dan “hikmat” adalah istilah-istilah yang sangat bernuansa Islam.

Baca selengkapnya »