Home / Berita / Opini / Permainan Intelijen di Balik ISIS

Permainan Intelijen di Balik ISIS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Pasukan organisasi ISIS. (alarabiya.net)
Ilustrasi – Pasukan organisasi ISIS. (alarabiya.net)

dakwatuna.com – ISIS (Islamic State in Iraq and al-Sham), terus menjadi pembicaraan. Media-media Barat menyebut bahwa ISIS merupakan cikal bakal teroris yang akan meneruskan gerakan Al-Qaidah. Jika nama terakhir tak pernah secara definitif diberitakan keberadaannya secara geografis, ISIS secara gamblang disebut di Irak atau Suriah. Siapa ISIS sebenarnya?

Dalam bahasa Arab, ISIS atau Islamic State in Iraq and Al-Sham, merupakan terjemahan dari Organisasi Ad-Daulah Al-Islamiyah fi Al-Iraq wa Ash-Sham. Tapi Associated Press, dan Amerika menyebutnya sebagai Islamic State in Iraq and The Levant (ISIL).

Akar gerakan  ISIS dapat ditelusuri berawal dari gerakan  Tauhid dan Jihad, sebuah kelompok Sunni yang menentang AS dan bentukan pemerintahan Irak setelah jatuhnya Saddam Hussein pada tahun 2003.

Pemimpin Tauhid, Abu Musab al-Zarqawi, asal Yordania, menyatakan setia kepada al-Qaeda pada tahun 2004, dan berganti nama kelompoknya di Irak dan mendorong kampanye serangan bom  terhadap setiap sasaran pemerintahan Irak dan AS.

Tapi Zarqawi akhirnya tewas dalam serangan AS pada pertengahan tahun 2006 dan kepemimpinan Daulah Islamiyah beralih ke Abu Hamza Al Mohajir. Hanya 4 tahun kemudian, tepatnya tanggal 19 April 2010 tentara AS di Irak berhasil membunuh Abu Hamza Al-Mohajir. Dan dalam waktu sekitar sepuluh hari, Dewan Syuro menyelenggarakan pertemuan untuk memilih Abu Bakr al-Baghdadi sebagai pengganti kepemimpinan Daulah Iraq Islamiyah.

Sejak tahun 2006, ISIS memiliki kekuatan militer besar dan menjadi organisasi militer terkuat di Irak. Mereka mulai memberi pengaruh di daerah yang luas, tetapi mereka harus berhadapan dengan munculnya organisasi Dewan Kebangkitan yang merupakan perhimpunan bersenjata dari klan dan kabilah Irak, yang didirikan untuk melawan organisasi al-Qaeda serta mendapat dukungan pasukan AS dan pemerintah Irak.

Sedangkan di Suriah, ISIS yang menghimpun para pasukan dengan kualitas tempur yang lebih baik, berhasil meraih sejumlah kemenangan di Suriah. Mereka relatif menguasai penuh wilayah Deir al-Zour di perbatasan dengan Irak. Tapi di sisi lain, mereka kehilangan pengaruh di Aleppo dan pedesaan sekitarnya, hingga akhirnya seluruh pasukannya harus angkat kaki dari Aleppo.

ISIS: Permainan Zionis-Barat untuk Pencitraan Buruk Ahlussunnah wal Jama’ah

Hakekat jihad untuk mendirikan negara Islam di Iraq dan Syam (ISIS) yang disebarkan dengan melakukan teror, menculik, bahkan membunuh sesama Muslim di Irak dan Syiria tersebut merupakan produk permainan kotor inteligen.

Setelah komunisme Uni Soviet telah berhasil ditumbangkan oleh Amerika Serikat dan Barat di Perang Dingin (Cold War), 1991 M, maka Barat pun harus ‘mencari musuh’ lagi. Mata Barat dikomandoi oleh Amerika Serikat lalu mengarahkan pedangnya ke Islam. Dalam tulisannya berjudul The Age of Muslim Wars, Huntington mencatat, “Politik global masa kini adalah zaman perang terhadap Muslim.” Huntington lalu menjelaskan, penyebabnya karena frekuensi peperangan umat Islam melawan non-Muslim, jauh lebih banyak dibanding masyarakat dalam peradaban lain. Sayangnya, Huntington tidak menyebutkan fakta lainnya, bahwa umat Islam lebih banyak sebagai korban dan berjatuhan darah lebih banyak karena pembantaian lawannya.

Jihad ISIS adalah ide Zionis, Amerika dan Iran yang mereka adopsi dengan tujuan dua alasan :

  1. Memperburuk citra Islam Sunni yang tiap tahun menyebar secara damai di seluruh negara Eropa, Amerika Utara dan Selatan.
    Dan ISIS diprogram untuk memperlihatkan kebengisan Islam seperti membunuh dengan pedang, memenggal kepala dengan sadis, menyalib orang hidup-hidup di tiang-tiang jalanan. Lalu disebarkan lewat Youtube dan diulang-ulang terus oleh stasiun TV internasional untuk memperlihatkan kesadisan ISIS terhadap orang yang tidak sependapat dengan mereka. Tujuannya adalah menciptakan citra yang menakutkan supaya orang-orang menjauhi Islam dan kaum muslimin. Dan dalam hal ini, upaya mereka sangat sukses.
  2. Memperlemah negara-negara Arab khususnya negara Teluk dengan cara politik pecah belah. Hal ini untuk menggaransi mereka (Isarel, AS) agar terus mendapatkan minyak secara gratis dalam waktu yang lama dan memperbarui transaksi berikutnya. Mereka juga sangat sukses dalam hal ini.

Kita berhak melontarkan beberapa pertanyaan berikut untuk mengetahui bahwa hakekat ISIS dan Khilafah Islamiyah adalah bentuk permainan intelijen internasional:

  1. Kita tidak melihat ISIS bergerak untuk membebaskan Palestina
  2. Kita juga tidak melihat ISIS mendekati seluruh tapal batas Israel. Yang terjadi justru sebaliknya, mereka melindungi (perbatasan) Israel tersebut.
  3. Mengapa ISIS tidak membantu Gaza dan Tepi Barat yang terisolir?
  4. ISIS tidak berusaha untuk menghentikan perluasan pembangunan pemukiman Zionis di kota Quds dan sekitar Masjid al Aqsa, di al Kholil dan beberapa kota dan desa di Tepi Barat.
  5. Peluru dan roket ISIS tidak diarahkan kepada pasukan Bassar Asad di Suria.
  6. ISIS tidak berusaha membebaskan kaum muslim sunni di Iran yang berada di bawah cengkraman pemerintahan Rofidhoh, hingga tak ada satu pun masjid (sunni) di Teheran, padahal disana terdapat banyak tempat peribadatan Yahudi, Budha dan Hindu.

Maka hakekat jihad ISIS adalah kedustaan pers di stasiun TV lokal dan internasional, dan media-media sosial, untuk memobilisasi para pemuda yang frustasi lagi bodoh, dan memanfaatkan mereka seperti kayu bakar peperangan Amerika dan Zionis dalam rangka melaksanakan rencana-rencana dan konspirasi mereka (dengan menggunakan tangan orang lain tentunya) di negara-negara Arab. Mereka dipersembahkan sebagai korban kemanusiaan dalam perang mereka.

Dari sini kita bisa mengungkap bahwa ISIS didirikan oleh CIA, Mossad dan Iran, negara-negara Arab lokal seperti Suria, Irak, Mesir, serta negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis dan Rusia.

Inilah rahasia hakekat ISIS, yang diubah oeh intelijen AS, Zionis dan Iran menjadi Khilafah Islamiyah supaya mereka bisa menjangkau target yang lebih luas selain Suria dan Irak.

Surat Terbuka Syaikh Muhammad Najih

Setelah diadakan pertemuan para ulama se-Indonesia untuk membahas tentang ISIS yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI di kantor MUI Pusat Jakarta Pusat, 7 Agustus 2014 M/11 Syawwal 1435 H, Syaikh Muhammad Najih melayangkan surat terbuka kepada Kementerian Agama RI dan Ketua Umum MUI yang berisi dukungan terhadap langkah Pemerintah RI untuk membahas lebih lanjut tentang gerakan Islamic State in Iraq and al-Sham (ISIS) yang keberadaannya sangat meresahkan masyarakat. Surat tersebut dikeluarkan pada 13 Syawwal 1435 H/9 Agustus 2014 M, dan disebarkan melalui media sosial oleh kawan-kawan santri Ribath Darusshohihain Sarang Rembang.

Dalam surat tersebut, Syaikh Muhammad Najih mengharapkan pertemuan yang dihadiri oleh para pimpinan ormas Islam, MUI, para ulama, kiai, dan tokoh masyarakat, serta pejabat pemerintah tersebut merupakan langkah nyata memberi jawaban kepada masyarakat tentang bahaya kesesatan dan ISIS terhadap akidah umat Islam dan keutuhan NKRI.

Namun, beliau juga menghimbau agar Pemerintah RI juga menyoroti isu Syi’ah, Wahabi, HTI, MTA, dan Ahmadiyah yang sekarang ini sedang merebak dan siap meracuni akidah umat Islam di Indonesia. Beliau khawatir, isu ISIS ini sengaja dihembuskan sebagai pengalih perhatian terhadap kasus Gaza, sengketa Pilpres, pembatasan solar, dan penyebaran gerakan sesat lainnya yang lebih berbahaya, terutama Syi’ah. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penulis lahir di Pati tahun 1991. Belajar di MI, MTs, dan MA Darul Falah Sirahan Cluwak Pati hingga tahun 2009. Aktif dalam menulis di berbagai media Islam lokal pondok pesantren dan meneliti berbagai pemikiran Islam.

Lihat Juga

Kepolisian Diraja Malaysia Tangkap Pendana Kelompok Teroris ISIS