Home / Narasi Islam / Sosial / Menulis dan Tanggung Jawab Ilmu

Menulis dan Tanggung Jawab Ilmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tammymasterkey.wordpress.com)
Ilustrasi. (tammymasterkey.wordpress.com)

dakwatuna.com – Pada suatu hari saya pernah mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh sebuah sekolah bekerja sama dengan tim redaksi surat kabar terkemuka di Jawa Tengah. Pada sesi tanya jawab saya mencoba bertanya tentang kriteria-kriteria artikel yang bisa dimuat dalam surat kabar kepada Pimred yang menjadi pembicara saat itu. Lalu ia menjawab, “Kriteria pertama yang harus dimiliki oleh sebuah artikel yang baik adalah mesti punya daya jual memandang persuratkabaran sebagai sebuah industri. Setelah itu baru tentang gaya penyampaian yang runtut dan baik, bahasa yang mudah dipahami, dan ditulis dengan baik dan rapi.”

Saya pun terkejut. Pikiran saya pun langsung mengindikasikan bahwa pembicara telah terinfeksi virus kapitalisme. Namun hati saya tak ingin terlalu yakin dulu. Kemudian ada seorang peserta bertanya kepada si pembicara, “Bagaimana cara mendorong keinginan untuk menulis?” jawabnya dengan santai, “Kalau saya dulu menulis pertama kali karena ingin dapat bayaran dari redaksi yang terbilang lumayan. Mungkin itu bisa dijadikan prioritas utama.” Dari jawabannya saya menjadi yakin bahwa pembicara memang telah termakan ideologi kapitalis, baik beliau sadari atau tidak. Ini akan berpengaruh terhadap surat kabar yang dipimpinnya.

Apabila paradigma menulis telah dilandasi oleh kepentingan-kepentingan materi, maka hal itu akan membuka pintu perusakan ilmu. Orang akan menulis apapun yang mereka mau asal isinya punya daya jual tinggi. Era globalisasi informasi yang melegalkan orang untuk ‘ngomong apa aja’ di depan publik menambah keruh permasalahan. Penulis tak perlu peduli apakah pemikiran yang tertuang dalam tulisannya itu sudah sesuai dengan ilmu yang benar atau tidak serta akibatnya jika nanti dikonsumsi oleh masyarakat. Manipulasi berita, rekayasa pencitraan figur secara berlebihan, bahkan penipuan pun menjadi halal dengan dalih kepentingan golongan. Menulis pun menjadi profesi dan alat propaganda. Inilah liberalisasi dan kapitalisasi yang diajarkan Barat.

Menulis merupakan satu kegiatan keilmuan yang paling baik untuk mengembangkan ilmu yang kita miliki. Dengan menulis kita bisa menyampaikan berbagai informasi, perasaan, dan gagasan secara nyata sehingga bisa dilihat dan diketahui oleh khalayak umum. Menulis bisa menjadi alternatif untuk berlatih berfikir secara sistematik. Menulis juga diperlukan agar ilmu atau ide yang kita terima atau muncul dari fikiran kita bisa terdokumentasi dan tidak hilang.

Tradisi ilmu yang didorong oleh ayat-ayat al-Quran telah berhasil mengubah sahabat-sahabat Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dari orang-orang jahiliyah menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia; mengubah generasi-generasi Arab jahiliyah yang tidak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, menjadi pemimpin-pemimpin kelas dunia yang disegani di seluruh kawasan dunia saat itu.

Tradisi baca dan tulis-menulis begitu hidup dalam masyarakat, yang sebelumnya didominasi tradisi lisan. Tiap ayat Al-Quran turun, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memerintahkan kepada sahabat dekatnya untuk menulis. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang. Rasulullah menjadikan pelajaran baca tulis sebagai tebusan tawanan Badar.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menugaskan Abdullah bin Said bin Ash untuk mengajarkan tulis menulis di Madinah. Juga memberi mandat Ubadah bin Shamit mengajarkan tulis menulis ketika itu. Kata Ubadah, ia pernah diberi hadiah panah dari salah seorang muridnya, setelah mengajarkan tulis menulis kepada Ahli Shufah. Saad bin Jubair berkata: ”Dalam kuliah-kuliah Ibn Abbas, aku biasa mencatat di lembaran. Bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku. Ayahku sering berkata: ”Hafalkanlah, tetapi terutama sekali tulislah. Bila telah sampai di rumah, tuliskanlah. Dan jika kau memerlukan atau kau tak ingat lagi, bukumu akan membantumu.” (Mustafa Azami, 2000)

Semangat mereka dalam memburu ilmu pengetahuan makin tinggi, berkat pemahaman terhadap Al-Quran yang banyak ayat- ayatnya mendorong agar Muslim senantiasa menggunakan akalnya. Ibnu Taimiyah mencatat, banyak sahabat yang tinggal di asrama untuk mengikuti madrasah Rasulullah. Menurut Ibnu Taimiyyah, jumlah orang yang tinggal di dalam Shufah (asrama tempat belajar), mencapai 400 orang.

Namun menulis bukan suatu hal yang main-main. Menulis tidak cukup hanya memiliki keahlian menulis yang baik dan menarik perhatian, namun juga harus dilandasi dengan keilmuan yang benar. Pertanggungjawaban penulis terhadap tulisannya adalah dunia akhirat. Hal-hal yang ditulis harus memiliki dasar ilmu yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Menulis juga harus dilandasi niat semata-mata untuk memuliakan kalimat Allah Ta’ala, tidak dilandasi dengan kepentingan-kepentingan golongan, apalagi untuk mencari keuntungan duniawi. Hal ini agar tidak terjadi penyebaran ilmu yang salah pada khalayak pembaca yang nantinya akan merusak ilmu itu sendiri.

Para ulama kita sangat berhati-hati dalam menuliskan ilmu yang mereka miliki. Imam Bukhari menulis kitab Shahih-nya selama 16 ahun dan selalu shalat dua rakaat setiap kali menulis satu hadits, serta berdoa meminta petunjuk Allah. Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mencari satu hadits. Ulama-ulama besar lain seperti Imam Syafi’i, al-Suyuthi, Ibnu Hajar, dan al-Nawawi menulis karya-karya besar mereka setelah pengembaraan panjang yang melelahkan dalam menimba ilmu agama yang benar. Mereka selalu jujur dalam menuliskan ilmu yang mereka dapat, dan tak pernah berniat untuk mendapat royalti dari tulisannya karena mereka menulis liLlahi Ta’ala.

Lalu, bagaimanakah seharusnya agar tulisan kita tetap mengikuti jalan yang benar dan lulus? Rujuklah ilmu dari para ulama. Mereka adalah pewaris ilmu yang benar dari Rasulullah yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka telah meneliti dan menjelaskan ilmu-ilmu yang berasal dari Al-Quran dan Sunnah Nabi yang termaktub dalam berjilid-jilid karya agung yang siap kita santap sebagai bahan informasi dan gagasan kita. Ilmu merekalah yang perlu kita dalami dan sebarkan di masyarakat agar tulisan kita tidak hanya baik dalam penyajian namun juga memiliki isi yang baik. Wallahu A’lam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penulis lahir di Pati tahun 1991. Belajar di MI, MTs, dan MA Darul Falah Sirahan Cluwak Pati hingga tahun 2009. Aktif dalam menulis di berbagai media Islam lokal pondok pesantren dan meneliti berbagai pemikiran Islam.

Lihat Juga

Tradisi Ilmu dan Pendidikan antara Islam dan Barat

Organization