Home / Narasi Islam / Sosial / Wahai Para Penulis, Berterima Kasihlah Kepada Muhammadiyah!

Wahai Para Penulis, Berterima Kasihlah Kepada Muhammadiyah!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (buzzerg.com)
Ilustrasi. (buzzerg.com)

dakwatuna.com – Pernahkah kita menyadari dan bertanya mengapa kesusastraan di Indonesia banyak didominasi oleh hal-hal yang bernuansa Minangkabau?

Saya bukan orang yang terlalu paham tentang kepenulisan, apalagi tentang sejarah kesusastraan di Indonesia. Dari sedikit yang saya ketahui, karya sastra yang saya kenal sejak kecil dari sekolah maupun media, kemudian melekat dalam ingatan saya, adalah nama-nama seperti Novel Siti Nurbaya, Salah Asuhan dan sebagainya, tak jauh-jauh dari Minangkabau. Tokoh-tokoh sastra yang paling saya ingat seperti Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana atau Asrul Sani, juga tak jauh-jauh dari Minangkabau.

Memang Minangkabau mendominasi kesusastraan Indonesia sejak Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru hingga masa awal kemerdekaan. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, bahkan memiliki corak yang beragam, namun ada satu benang merah yaitu, Minangkabau atau Sumatera Barat.

Demikian pula sejarah perjuangan kemerdekaan negara Indonesia ini, ketika perlawanan bersenjata melawan penjajah bergeser pada perjuangan dengan menggunakan pena dan pemikiran, didominasi pula oleh Sumatera Barat dan Yogyakarta. Berbagai organisasi modern dan gerakan politik yang mengobarkan perlawanan terhadap penjajah, mulai Sarekat Islam, PNI, PKI, dan Masyumi, para tokohnya lebih banyak bermuara pada Yogyakarta dan Sumatera Barat, bahkan bertolak dari guru yang sama, HOS Tjokroaminoto.  Terlepas dari perbedaan prinsip di antara mereka, namun ada satu benang merah, sebuah visi tentang kemajuan.

Pada masa perang fisik mempertahankan kemerdekaan Indonesia, lagi-lagi Yogyakarta dan Sumatera Barat menjadi soko gurunya. Ketika Ibukota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, berdiri Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat. Kita mengenal tokoh-tokoh yang dominan dalam upaya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, dari H. Agus Salim hingga Jenderal Soedirman, banyak sekali yang berlatar belakang Yogyakarta dan Sumatera Barat.

Semua itu bukan sebuah kebetulan semata. Gerakan pembaharuan Islam di Indonesia memang bertolak dari Sumatera Barat dan Yogyakarta. Ketika bagi masyarakat waktu itu, sekolah modern dan pengetahuan umum masih tabu, para perempuan masih dipingit, para pembaharu itulah yang mula-mula merintis berbagai lembaga pendidikan modern, termasuk pengajaran kepada kaum perempuan.

Di Sumatera Barat ada gerakan Sumatera Thawalib, sedang dari Yogyakarta KHA Dahlan mendirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah dan berperan dalam lembaga pendidikan Taman Siswa. Mereka menjadi pionir lembaga pendidikan alternatif di luar sekolah-sekolah Belanda yang masih diskriminatif. Mantan Presiden Soekarno dan Soeharto adalah salah satu produk dari pembaharuan pendidikan ini.

Kini, pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah dalam konteks membuka kesadaran terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan sudah selesai. Bahkan kini bangsa Indonesia bisa dikatakan meninggalkan Muhammadiyah, membiarkannya termarginalisasi. Akan tetapi permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia sekarang ini bentuknya berbeda, bahkan bisa dikatakan sangat kompleks. Kita sedang menghadapi krisis multidimensi.

Maka, bangsa ini mungkin perlu melirik kembali solusi yang ditawarkan Muhammadiyah berupa konsep Islam Berkemajuan. Bangsa ini kini dihadapkan pada persoalan SDM dan daya saing global, bangsa ini perlu mengedepankan pola tindakan yang efektif, tidak boleh terbelenggu pada urusan yang bersifat seremonial. Solusi dari itu ada dalam visi Muhammadiyah, tentunya juga membutuhkan partisipasi kita untuk mewujudkannya.

Membaca dan menulis, membuka cakrawala pengetahuan, kemudian berbuah pada kemerdekaan yang kini kita nikmati, meski belum sempurna. Namun yang tidak boleh kita lupakan adalah tunas dari itu semua, gerakan pembaharuan Islam yang membuka sebuah kesadaran bagi bangsa ini untuk belajar. Salah satu pemimpin besar Muhammadiyah, Buya Hamka, adalah juga seorang penulis yang cukup produktif. Karyanya yang cukup populer di antaranya, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Menulis Artikel di Media Massa

Figure
Organization