Home / Narasi Islam / Sejarah / Kritik Kajian Sejarah Faraq Fouda Dalam Buku Al-Haqaiq Al-Ghaibah (Bag ke-3): Seputar Khilafah Utsman bin Affan

Kritik Kajian Sejarah Faraq Fouda Dalam Buku Al-Haqaiq Al-Ghaibah (Bag ke-3): Seputar Khilafah Utsman bin Affan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Perseteruan Beberapa Shahabat dengan Khalifah Utsman

Ilustrasi (montlakeschool.org)
Ilustrasi (montlakeschool.org)

dakwatuna.com – Faraq Fouda menulis, “Bisa jadi karena sentimen keagamaan Anda lebih ingin bersimpati kepada Usman, lalu Anda mencari-cari alasan atau apologia untuk kebijakan-kebijakannya. Namun, dalam alur pikir seperti ini, anda akan berbenturan dengan ungkapan-ungkapan dan tindakan-tindakan para sahabat terkemuka lainnya. Apalagi, sebagian dari mereka secara terang-terangan telah menyeru angkat senjata dan membelot dari kesetiaan terhadap pemerintahan Usman. Kepada Ali, Abdur Rahman bin Auf, misalnya menyerukan: “Kalau engkau berkenan, silakan angkat senjata. Akupun akan angkat senjata. Ia (Usman) telah mengambil kembali apa yang telah ia berikan kepadaku.” Lantas Auf berkata kepada para sahabatnya, dalam keadaan sakit yang pada akhirnya menyebabkan kematiannya: “Bersegeralah kalian (untuk memberontak terhadap kekuasaan Usman) sebelum kekuasaannya itu yang akan melindas kalian!”

Thalhah juga memprovokasi para pemberontak, sampai-sampai Ali tidak mempunyai pilihan lain kecuali membuka akses Baitul Mal, lalu membagi-bagikannya kepada mereka sampai terjadi pertengkaran karena itu. Tetapi, saat itu Usman justru membenarkan tindakan Ali. Dan benar saja, tidak perlu menunggu sampai berbulan-bulan lamanya, Usman pun terbunuh.” (hlm. 62-63)

“Anehnya, Thalhah kemudian justru tampil sebagai orang yang menuntut balas atas kematian Usman dalam kelompok tentara Aisyah, sampai ia sendiri pun mati terbunuh oleh tombak yang dilontarkan oleh Marwan bin Hakam, orang kepercayaan dan tangan kanan Usman, sekaligus rekan Thalhah dalam barisan tentara yang menuntut balas atas terbunuhnya Usman. Marwan menjadi khalifah kaum Muslim 30 tahun setelah itu. Tatkala ditombak itulah Thalhah sadar bahwa itulah memang masa penghabisan hidupnya. Karena itu, ia dalam rangka berterus-terang pada dirinya sendiri dan kepada Allah, mengulang-ulang ungkapan berikut: “Inilah tombak yang ditikamkan Allah kepadaku. Ya Tuhan, ambillah balasan untuk Usman dariku, sampai Engkau rida.” (hlm. 63)

“Pada titik ini, penting juga untuk mengingatkan sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa Ammar bin Yaser akan terbunuh oleh sekelompok orang yang bengis (fiah baghiyah). Ini adalah hadits sahih karena semua sahabat ketika itu mengingat-ingatnya lagi tatkala Ammar terbunuh. Hadits ini dikumandangkan kembali baik oleh tentara Ali maupun Muawiyah. Kedua bala tentara itu tidak kunjung reda emosi mereka kecuali setelah Muawiyah menyatakan bahwa “orang-orang yang mengajaknya berperanglah yang telah membunuhnya!”

Konon, ketika peristiwa itu terjadi, perkaranya memang cukup pelik, terutama tatkala ada keinginan untuk menentukan siapakah “kelompok bengis” sebagaimana yang diprediksikan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Salah satu kelompok memang bengis; dan kalau kita menerima hadits itu secara apa adanya, kita akan mengatakan bahwa kelompok Muawiyah-lah yang bengis. Itu artinya Muawiyah bengis, Amru bin Ash juga bengis, Marwan bin Hakam bengis, Ubaidillah bin Umar bengis, dan sederet nama besar lainnya. Tetapi kalau kita menggunakan ungkapan Muwaiyah sebagai pisau analisis, kita justru akan berpandangan bahwa yang bengis justru sekelompok para sahabat yang dikenal saleh yang telah membawa Ammar dalam kancah peperangan. Kita tidak berani menyebutkan nama-nama mereka.” (hlm. 69)

Tanggapan: Sebelum menjawab beberapa data sejarah yang disebutkan oleh Fouda di atas, perlu kami sebutkan keterangan dari Muhibbuddin Khathib dan Mahmud Mahdi yang memberikan catatan kaki pada kitab analisa sejarah berjudul al-‘Awashim min al-Qawashim karya Qadli Muhammad bin Arabi (w. 543 H) sebagai berikut:

“Sejarah Islam tidak dimulai pembukuannya kecuali setelah runtuhnya Daulah Umayyah dan berdirinya beberapa daulah (imperium) di mana para intelektualnya tidak tabu untuk membicarakan berbagai kejayaan masa lalunya dan kebaikan masyarakatnya. Penulisan sejarah Islam terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama concern dalam mencela kehidupan dan kekuasaan untuk mencari muka di depan para pembenci klan Umayyah melalui tulisan dan karangan mereka. Kelompok kedua beranggapan bahwa religiusitas mereka tidak sempurna dan tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan mencitrakan buruk kisah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seluruh keturunan Abdu Syams. Sedangkan kelompok ketiga terdiri dari para ahli agama yang jujur – seperti al-Thabari, Ibn Atsir, dan Ibn Katsir – yang berpandangan bahwa termasuk bertindak jujur adalah dengan mengumpulkan cerita-cerita pakar sejarah dari berbagai sekte dan aliran – seperti Luth bin Yahya seorang Syiah dan Said bin Umar al-Iraqi.

Barangkali sebagian dari mereka terpaksa melakukan hal tersebut untuk mendukung beberapa pandangan yang dirasakan kekuatan dan kedudukannya. Kebanyakan nama-nama tersebut menetapkan berbagai riwayat sejarah yang mereka datangkan agar peneliti dapat mengkaji cermat ihwal perawinya. Warisan sejarah ini datang kepada kita bukan semata karena ia adalah sejarah kita, namun sebagai data yang terbuka untuk dipelajari dan dikaji untuk menghasilkan sejarah kita. Tujuan ini menjadi mungkin dan mudah ketika ditangani oleh ulama yang dapat mengetahui riwayat-riwayat yang kuat dan yang lemah dari data-data rujukan tersebut. Dengan kecerdasannya ia dapat menyimpulkan hakikat sebenarnya yang terjadi dan membedakannya dari cerita-cerita yang fiktif, mencukupkan dengan cerita-cerita yang sahih dari berbagai tambahan baru, dan merujuk kepada kitab-kitab Sunnah dan pandangan para imam umat.” (Qadli Muhammad bin Arabi, al-‘Awashim min al-Qawashim, tahqiq Muhibbuddin Khathib dan Mahmud Mahdi, hlm. 179)

Keterangan dua pakar sejarah di atas menjelaskan sekaligus memperingatkan kepada pengkaji sejarah Islam untuk bersikap selektif terhadap berbagai cerita yang terdapat dalam kitab-kitab sejarah Islam meskipun ditulis oleh ulama-ulama yang jujur, karena kebanyakan mereka menyebutkan berbagai cerita sejarah dari berbagai kalangan dan madzhab tanpa melakukan kajian terhadap kuat atau lemahnya riwayat. Dua pakar sejarah tersebut mengingatkan bahwa parameter sahih tidaknya riwayat sejarah Islam adalah Sunnah dan pandangan ulama-ulama pemimpin umat yang tidak lain adalah ulama Ahlussunnah wa Jama’ah. Parameter ini menjadi sangat penting mengingat banyaknya orientalis dan pengikutnya yang menggunakan data-data dalam kitab-kitab sejarah untuk meruntuhkan keyakinan umat Islam akan kemuliaan para shahabat khususnya Khulafa Rasyidun dan menggelontorkan ide-ide liberal mereka.

Dengan pisau analisis ini dapat kita gunakan untuk memahami data-data sejarah yang disebutkan oleh Faraq Fouda di atas. Kita mulai dari yang pertama tentang pandangan Abdurrahman bin Auf terhadap Utsman bin Affan. Tentunya kita patut bertanya, darimana Fouda mendapatkan riwayat pernyataan Abdurrahman bin Auf yang mendukung pemberontakan terhadap khalifah Utsman? Cerita tersebut tidak ditemukan (sejauh pencarian penulis) dalam kitab-kitab sejarah ulama Sunni seperti al-Thabari, Ibn Atsir, Ibn Katsir, al-Suyuthi, dan lain-lainnya. Cerita ini patut dipertanyakan validitasnya setidaknya karena dua alasan. Pertama, Abdurrahman bin Auf sendiri adalah salah satu shahabat yang pertama kali membaiat Utsman sebagai khalifah. Beliau yang pertama bersaksi tentang kesatuan umat Islam memilih Utsman sebagai pemimpin umat. (lihat: Shahih Bukhari, juz 9 hlm. 239) Dukungannya tersebut jelas bukan karena motif kepentingan tertentu, namun karena mengikuti pandangan mayoritas umat Islam waktu itu dan secara jujur mengakui kemuliaan dan kesalihan Utsman bin Affan. Sehingga, menjadi agak aneh jika akhirnya dia lalu berpaling menentang khalifah Utsman apalagi sampai memerintahkan untuk membunuhnya.

Kedua, riwayat-riwayat tentang pernyataan keras dan kotor para shahabat untuk membunuh Utsman bin Affan kebanyakan terdapat dalam kitab-kitab Syi’ah yang memang sejak lama memendam dendam kesumat kepada khalifah Utsman. Seorang ulama pemuka Syiah, Ibn Abi al-Hadid menyebutkan bahwa Zubair bin Awwam menyuruh orang membunuh Utsman pada waktu beliau dikepung di rumahnya. Ketika itu putranya Abdullah bin Zubair ikut menjaga rumah khalifah Utsman, namun Zubair malah berkata, “Biar aku kehilangan anakku tetapi Utsman harus dibunuh.” (Syarh Nahj al-Balaghah, juz 6 hlm. 35-36) Bahkan Ibnu Umm al-Kilab meriwayatkan bahwa Aisyah berkata, “Bunuhlah Na’tsal, sesunggguhnya ia telah kafir!” Diriwayatkan bahwa ketika berada di Madinah pasca terbunuhnya Utsman, Aisyah berkata, “(Allah) menjauhkan dan membinasakan si Na’tsal.” (Syarh Nahj al-Balaghah, juz 4 hlm. 215-216)

Masalah kedua adalah keterlibatan Thalhah dalam usaha pembunuhan khalifah Utsman. Dalam kitab-kitab sejarah memang disebutkan bahwa Thalhah termasuk pemuka shahabat yang mengkritik keras pemerintahan khalifah Utsman setelah mendengar isu-isu miring yang beredar di masyarakat. Namun, Thalhah tidak pernah menghendaki terjadinya pembunuhan terhadap khalifah dan tetap loyal terhadap pemerintahan yang sah. Asumsi ini dapat dibuktikan dengan tiga hal. Pertama, ketika kabar Utsman terbunuh sampai di telinga Thalhah, beliau berkata, “Semoga Allah merahmati Utsman dan menolongnya beserta Islam.” Saat itu diucapkan kepadanya, “Orang-orang menyesal atas apa yang mereka perbuat.” Thalhah menyahut, “Haruslah mereka bertaubat.” Lalu beliau membaca Firman Allah:

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ [يس : 50]

“Lalu mereka tidak Kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.” (QS. Yasin: 50) (Ali Muhammad al-Shalabi, Utsman ibn ‘Affan Syakhshiyyatuhu wa ‘Ashruhu, hlm. 179)

Kedua, Thalhah masuk dalam kelompok yang menuntut keadilan terhadap pembunuhan khalifah Utsman bersama Aisyah dan Zubair di Perang Jamal. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa Thalhah menganggap pemberontakan dan pembunuhan terhadap khalifah merupakan kejahatan berat yang harus diadili oleh pemerintahan khalifah Ali.

Ketiga, Thalhah adalah shahabat yang mengajukan Utsman bin Affan menjadi calon khalifah sehingga ia pun dipilih secara aklamasi oleh para shahabat sebagai khalifah yang sah. (lihat: Ali Muhammad al-Shalabi, Sirah Utsman ibn ‘Affan RadliyaLlahu ‘anhu, hlm. 81) Dari ketiga alasan di atas, maka akan terlihat aneh jika Thalhah akhirnya yang menjadi motor pemberontakan apalagi jika disebut sebagai provokator pembunuhan terhadap Utsman.

Kritik para shahabat terhadap kebijakan pemerintahan Utsman merupakan hal lumrah dalam politik yang mestinya disikapi secara bijak oleh Fouda. Ketika orang-orang yang diangkat oleh Utsman menyelewengkan kekuasaannya untuk mendapatkan kekayaan dan bertindak keji terhadap rakyat, maka hal itulah yang dikritik keras oleh para shahabat. Mereka tidak menghendaki terjadinya penggulingan terhadap pemerintahan yang sah apalagi sampai mengalirkan darah pemimpin Negara seperti fitnah yang dialami oleh para pemberontak yang lepas kendali itu. Buktinya, ketika hal itu terjadi mereka malah menuntut tragedi tersebut harus diadili seadil-adilnya oleh pemerintahan Ali.

Masalah ketiga tentang ramalan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tentang terbunuhnya Ammar bin Yasir oleh al-fiah al-baghiyah (golongan bengis). Siapakah yang dimaksud dengan “al-fiah al-baghiyah” atau golongan bengis tersebut? Terlihat bahwa Fouda menggunakan sangkalan Muawiyah untuk menuduh khalifah Ali dan para shahabat yang mendukungnya sebagai “kelompok bengis” yang diramalkan oleh Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tersebut. Fouda ingin memberi kesan bahwa shahabat-shahabat pendukung khalifah Ali adalah orang-orang bengis, biadab, dan haus darah. Muawiyah menyangkal bahwa dirinya dan kelompoknyalah “kelompok bengis” tersebut, padahal orang yang membunuh Ammar bin Yasir bernama Abu Ghadiah dan memang dari kelompok Muawiyah. (lihat: Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, juz 6 hlm. 239)

Setelah terjadi pembunuhan Ammar bin Yasir tersebut, Muawiyah berkata kepada Ali, “Yang membunuhnya adalah orang-orang yang membawanya ke medan perang sehingga mengenai panah-panah kita.” Sangkalan Muawiyah kepada khalifah Ali tersebut dibalas oleh beliau, “Jika begitu, maka Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juga telah membunuh Hamzah karena beliau yang mengikutkannya (di Perang Uhud).” Menurut Imam Ahmad, ini merupakan jawaban yang tidak dapat disangkal lagi oleh Muawiyah. Meski dalam penyerangannya terhadap pemerintah memiliki dasar yaitu untuk menuntut darah pembunuh Utsman, namun dia dan kelompoknya tetap wajib mengakui pemerintahan yang sah dan mengikuti proses hukum yang ditentukan oleh Syariah. (lihat: Abdul Hayy al-Akri, Syadzarat al-Dzahab, hlm. 45) Ibn Qayyim juga berkomentar bahwa penafsiran Muawiyah tersebut keliru dan tidak sesuai realita. Mestinya pembunuh adalah orang yang membunuh, bukan orang yang penjadi perantara pembunuhan. (Ali Muhammad al-Shalabi, al-Daulah al-Umawiyyah ‘Awamil al-Izdihar wa Tanahiyat al-Inhiyar, hlm. 185)

Dari keterangan ulama di atas, kiranya dapat memberi gambaran yang jelas posisi antara kubu Ali dan kubu Muawiyah. Meskipun begitu, sesuai ajaran ulama Ahlussunnah wal Jama’ah umat Islam harus bersikap bijaksana dalam melihat konflik yang terjadi antar shahabat karena Al-Quran Hadits telah menjamin keshalihan dan keadilan mereka. Jangan sampai akhirnya terjerumus dalam pandangan merendahkan kedudukan shahabat seperti yang dialami oleh orang-orang liberal seperti Fouda, karena hal tersebut tidak ada gunanya dan malah semakin menimbulkan masalah dan konflik di kalangan umat Islam sendiri. (bersambung). (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penulis lahir di Pati tahun 1991. Belajar di MI, MTs, dan MA Darul Falah Sirahan Cluwak Pati hingga tahun 2009. Aktif dalam menulis di berbagai media Islam lokal pondok pesantren dan meneliti berbagai pemikiran Islam.

Lihat Juga

Pengunjung Membludak, Pameran Buku di Aljazair Dikunjungi 2,3 Juta Orang

Organization