Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Merasa Baik atau Berusaha Baik?

Merasa Baik atau Berusaha Baik?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tromboflebitblog.ru)
Ilustrasi. (tromboflebitblog.ru)

dakwatuna.com – Dalam menjalani kehidupan, kita tidak bisa terlepas dari masalah dan kesalahan. Manusia yang bijak tentunya menghadapi permasalahan dan mengakui dan memperbaiki kesalahannya. Tapi, tak jarang di antara kita yang terkadang menjauhi dan menghindari masalah dan mencari-cari alasan dalam kesalahan. Lantas, seandainya perilaku kita seperti itu apakah kita ini manusia yang sedang merasa menjadi baik ataukah manusia yang sedang berusaha menjadi baik?

Sebagian dari kita terkadang tanpa sadar memiliki sifat ego dan rasa sombong yang menyebabkan dalam dirinya selalu merasa menjadi orang yang paling baik dan benar. Sikap merasa dengan sifat egois dan sombong adalah sebuah hubungan satu sama lain dimana sifat egois dan sombong menyebabkan sifat merasa dirinya paling baik dan benar, begitupun sifat merasa baik dan benar disebabkan sifat egois dan sombong yang ada pada diri kita sendiri.

Berikut adalah dalil dari Al Quran tentang larangan bagi manusia memiliki sifat sombong

  • “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Qashash:83)
  • “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. “ (QS. Luqman:18)

Berikut adalah dalil dari Hadits tentang larangan bagi manusia memiliki sifat sombong

  • Dari Salamah bin Al Akwa ra bahwasannya ada seorang laki-laki makan di hadapan Nabi Muhammad saw dengan memakai tangan kirinya, beliau lantas bersabda: “Makanlah dengan memakai tangan kananmu. ” Laki-laki itu menjawab: “Saya tidak bisa. ” Nabi Muhammad saw bersabda lagi: “Kamu tidak bisa, itu adalah perbuatan sombong. ” (HR. Muslim)
  • Dari Haritsah bin Wahb ra berkata: “Saya mendengar Nabi Muhammad saw bersabda, “Maukah kamu sekalian aku beritahu tentang ahli neraka? Yaitu setiap orang yang kejam, rakus, dan sombong. ” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda: “Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan memakai perhiasan dan bersisir rambutnya, ia mengherani dirinya sendiri dengan penuh kesombongan di dalam perjalanannya itu, kemudian tiba-tiba Allah menyiksanya yaitu ia selalu timbul tenggelam di permukaan bumi sampai hari kiamat. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika sifat ini tidak dicegah dan dirubah maka dampaknya akan terjadi pada orang yang memiliki sifat itu dan orang-orang yang berada disekitarnya. Dalam bermasyarakat orang yang memiliki sifat ini akan selalu merasa bahwa dirinya lah yang paling benar sehingga semua orang harus mengikuti pemikirannya dan menganggap sikap orang lain yang berlawanan dengan dia adalah salah yang berujung pada lahirnya sikap ujub dan takabur. Sedangkan bagi mereka yang bermasyarakat dengan orang seperti ini, cenderung merasa tidak nyaman yang berakibat hubungan menjadi tidak harmonis.

Berikut adalah dalil tentang larangan berbangga diri dan menganggap orang lain lebih rendah

  • “Seseorang itu senantiasa membanggakan dan menyombongkan dirinya sehingga ia dicatat dalam golongan yang kejam lagi sombong, kemudian ia tertimpa apa yang biasa menimpa mereka. ” (HR. At Turmudzy).
  • Dari Abdullah bin Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar atom. ” Ada seorang laki-laki berkata: “Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sandal/sepatu yang bagus pula. ” Nabi Muhammad saw kembali bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesame manusia. ” (HR. Muslim).

Yuk sahabat, mulai detik ini kita cegah dan ubah sifat buruk kita dan jangan lupa untuk menasehati sahabat kita agar terhindar dari sifat ini.

“Demi masa (Waktu), sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran. ” (QS Al ‘Ashr: 1-3) 

“Hidup adalah bukanlah bagaimana kita merasa melainkan bagaimana kita berusaha”.

Wallohu’alam bisshawab. . .

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa yang sedang menekuni dispilin ilmu Ekonomi Islam di Fakultas Ekonomi & Bisnis,Universitas Brawijaya,Malang,Indonesia

Lihat Juga

Muhasabah, Kebaikan untuk Negeri

Figure
Organization