Topic
Home / Narasi Islam / Humaniora / Muhasabah, Kebaikan untuk Negeri

Muhasabah, Kebaikan untuk Negeri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (alriyadh)

dakwatuna.com – Musibah terus menghampiri berbagai daerah di penjuru negeri. Sebelumnya diperingatkan dengan gempa seperti di Lombok, belum cukup diperingatkan kembali dengan bertambahnya bencana gempa dan tsunami di Palu. Rasa duka seakan belum usai terobati karena musibah yang datang silih berganti, namun rasa cemas seakan sudah menghantui di beberapa daerah karena peringatan dini gerakan tanah dan gunung meletus sudah mencapai titik rawan.

Duka nestapa takkan berarti jika berbekas hanya pada materi, membuat orang banyak menyumbang bantuan tapi tetap hati tak merasa sedang diperingati. Padahal kesedihan mereka adalah kesedihan kita, peringatan bagi mereka juga adalah peringatan bagi kita. Peduli terhadap saudara sesama adalah upaya untuk menyelamatkan kita juga. Seandainya ada bagian bawah perahu bocor maka tugas menutupi lubang bukan hanya dipikirkan oleh penumpang bawah karena tenggelam akan menimpa seisi kapal. Maka kekhawatiran mereka adalah panggilan kepedulian kita, termasuk peduli terhadap nasib negeri yang terus ditimpa musibah.

Namun dapatkah musibah yang terjadi mampu menambah ketakutan kita kepada Allah SWT karena segala fenomena alam yang menimpa tidak lepas dari kemahakuasaan-Nya. Dia berhak menimpakan karena sebab perbuatan manusia. Dalam firman-Nya dijelaskan, “Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa [4]: 79)

Seandainya bencana di negeri ini ditimpakan karena dosa kita, maka harus bagi kita muhasabah sebagai langkah introspeksi menghindari segala pintu dosa. Beranikah negeri ini sadar kemaksiatan kepada Allah adalah keburukan bagi masa depan bangsa? Seharusnya sadar musibah terbesar bagi kita bukanlah musibah alam namun musibah agama, di mana orang lari dari agama dan memilih manusia sebagai penentu arah kehidupan. Seperangkat hukum Islam yang diturunkan namun diingkari dengan menerapkan hukum manusia. Bukankah wajar jika Allah menghukum suatu negeri karena kedurhakaan manusia di dalamnya?

Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman kami), kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu).” (QS. Al Isra [17]: 16)

Mudah bagi Allah menghancurkan segala infrastruktur yang manusia banggakan, jangankan seluas negeri ini, bahkan jika Dia berkehendak dalam sekejap seluruh isi bumi ini pun bisa dihancurkan. Lantas bagaimana kita ingin mendapat pertolongan dan ampunan jika terus mempertahankan kemaksiatan meluas, perzinaan dilegalkan, riba disuburkan, kriminalitas dimanfaatkan, dan hukum manusia penjajah masih digunakan. Bagaimana bisa kemakmuran negeri ini justru tidak membawa berkah, namun yang datang justru musibah.

Gempa bumi merupakan peringatan dari Allah bukan kehendak alam. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi, “Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat.” (Miftah Daaris Sa’adah, 2/630)

Padahal Allah SWT sudah memperingatkan, “Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf [7]: 96)

Umar bin Khattab RA pernah mengatakan, “hisablah dirimu sebelum kalian dihisab, timbanglah amalmu sebelum ditimbang, karena sesungguhnya yang akan meringankan hisabmu nanti adalah saat engkau menghisab hari ini. Dan berhiaslah untuk pertemuan hari akbar, hari saat dipamerkan segala amal, dan tidak ada keringanan sedikit pun atas kalian.”

Maka saat ini yang harus dilakukan adalah muhasabah lalu pembenahan, baik pembenahan fisik dan materi maupun pembenahan batin dan sikap. Korban bencana adalah saudara kita juga maka bantulah mereka dengan kesanggupan yang kita punya. Seandainya para korban adalah diri kita atau sanak saudara kita tentulah bantuan terbaik yang akan kita berikan. Di sinilah kesabaran dari ujian itu terlihat. Di balik bencana ada peringatan moral, termasuk maksiat yang masih terpelihara. Itulah mengapa Umar bin Abdul Aziz didapatkan ketika terjadi gempa langsung menyurati para gubernurnya agar bertaubat dan banyak bersedekah di jalan Allah.

Pesan kemanusiaan di balik musibah alam adalah persatuan dalam kepedulian nasib sesama. Tak peduli ormas dan pilihan politik, siapa pun berhak membantu dan siapa pun wajib ditolong. Sedangkan pesan bagi negeri adalah persatuan dalam ukhuwah dan ketaatan kepada Allah SWT. Kita adalah umat yang lemah dan tak berdaya, tak pantas sombong dengan menolak apa yang telah diperintahkan-Nya. Penting dalam setiap ujian tidak hanya alasan kedatangannya, juga sikap kita menghadapi ujian apakah disikapi dengan ketaatan atau kemaksiatan. (dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Muhamad Afif Sholahudin
Pengasuh Pondok Asy Syabab Bandung.

Lihat Juga

Jalan Meraih Taqwa

Figure
Organization