Home / Narasi Islam / Politik / Intelektualitas Pemuda

Intelektualitas Pemuda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Jika kita bertanya kepada diri sendiri kenapa hidup ini berada dalam keterpurukan? Maka jawaban yang ada dibenak kita bermacam-macam. Semua itu tergantung latar belakang dan kemampuan masing-masing dalam menyikapi masalah kehidupan. Setiap orang hendaknya berpikir positif agar energi yang dihasilkan berbuah sesuatu yang baik. Jika seseorang berpikiran negatif, maka setiap tindakannya akan berbuah tidak baik.

Saya merasa terpanggil untuk menulis ini ketika melihat realita pemuda yang semakin menunjukkan kemunduran dan keterbelakangan. Banyak di antara mereka yang tidak mampu mengimplementasikan ilmu yang mereka dapat di sekolah. Padahal proses menuntut ilmu di sekolah saja hampir 12 tahun lebih, belum untuk program S1, pasca sarjana, doctoral. Di daerah tertinggal rata-rata pendidikan hanya sampai tingkat SLTA. Biaya pendidikan yang cukup mahal juga faktor lingkungan yang terkadang kurang peduli menjadi alasannya.

Realita yang tidak bisa kita pungkiri yaitu meskipun banyak masyarakat yang tidak mengamalkan ilmu yang mereka pelajari di sekolah. Mungkin karena beberapa faktor, antara lain kurangnya kesungguhan saat belajar, guru yang tidak jelas saat mengajar atau kapasitas kecerdasan yang memungkinkan pelajaran sulit diterima pada saat mengikuti proses belajar mengajar. Ironi ini membuat sebagian masyarakat merasa percuma menyekolahkan anak-anak mereka yang seharusnya memberkan kebanggaan terhadap keluarga, akan tetapi justru sebaliknya. Tak ada yang patut dipersalahkan, lebih baik kita memperbaiki generasi kita agar mempunyai daya saing di masa depan.

Pemuda intelektual adalah para pemuda yang memiliki kecerdasan memadai untuk berperan di tengah masyarakat. Menurut Gunarsa, 1991, intelektual adalah suatu kumpulan seseorang untuk memperoleh imu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah masalah yang timbul. Lalu bagaimana bila sebagai kaum intelektual yang mampu mendapatkan ilmu namun tidak dapat mengamalkannya?

Pemuda Sebagai Kaum Intelektual

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan diraih oleh semangat pemuda yang berpikir. Pemuda semestinya menjadi kaum intelektual yang selalu ada dan bisa memberikan jalan keluar menyelesaikan persoalan-persoalan. Presiden Republik Indonesia Sukarno pernah berkata, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia.”. Ini bukan berarti semua pemuda bisa menjadi referensi perubahan. Hanya pemuda pilihan yang dapat mengguncang dunia seperti yang dikatakan oleh Presiden Soekarno. Intelektualitas menjadi faktor penting yang harus dimiliki pemuda sebagai agen perubahan bangsa dan negara.

Namun belakangan ini banyak pemuda tidak lagi menjadi superhero seperti dulu. Jangan dulu memikirkan mempertahankan bangsa dan harga diri negara. Pikirkan dahulu krisis moral yang melanda pemuda kita. Pemerkosaan, perampokan, premanisme dan tindakan tak bermoral lainnya kerap dilakukan oleh sebagian generasi muda. Walaupun demikian pemuda tetap menjadi referensi serta tulang punggung bangsa dan negara. Keberadaannya tetap diperhitungkan dalam setiap kegiatan yang ada.

Penjajahan dalam bentuk lain sedang kita alami di era globalisasi ini. Banyak tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. Pemerintah dalam mencari tenaga kerja yang handal lebih percaya kepada pihak asing daripadan masyarakat pribumi. Ha ini akhirnya berimbas pada masalah social, seperti pengangguran. Cepat atau lambat jika masalah ini terus dibiarkan akan menjadi kesenjangan yang panjang.

Realita ini hanya disikapi oleh segelintir pemuda yang merasa harga diri bangsa telah diinjak-injak. Namun sebagian besar yang lainnya terkesan tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di lingkungannya. Hal ini menunjukan bahwa ada keterpurukan atas intelektualitas pemuda saat ini.

Menanggulangi Keterpurukan

Karena masalah kita adalah keterpurukan intelektualitas pemuda, maka hal ini harus ditanggulangi sejak dini. Mulai dari tingkat dasar sampai dengan tingkat atas generasi kita harus dibekali dengan ilmu yang bermanfaat. Jika ilmu yang bermanfaat telah disampaikan, tetapi dalam prosesnya tidak menghasilkan peserta didik yang berkualitas, maka bisa jadi ada faktor tersembunyi yang menyebabkan hal tersebut.

Imam Syafi’I pernah mengatakan bahwa seseorang tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara. Enam hal tersebut yang pertama cerdas, seseorang harus cerdas dalam melakukan proses mencari ilmu. Cerdas yang dimaksud adalah mampu membedakan mana yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, yang baik dan yang buruk, yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

Kedua tamak, artinya dalam mencari ilmu seseorang harus bernafsu, seperti makan saat lapar tiba, menikmati dan selalu tak sabar ingin melahap makanan. Ketiga ijtihad (sungguh-sungguh), keempat dirham (biaya), kelima bergaul dengan guru, dalam hal ini seorang murid jika ilmunya ingin bermanfaat maka harus bersikap baik kepada gurunya. Keenam dalam mencari ilmu harus dengan waktu yang sangat panjang.

Dari uraian di atas saya ingin membahas poin nomor 5 yaitu hormat kepada guru. Dijelaskan pula di atas bahwa seseorang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara , salah satunya hormat atau bergaul baik dengan guru. Mari kita renungkan bersama merenungkan apakah ilmu yang kita dapatkan dapat kita terima jikan bukan karena keikhlasan sang guru yang memberikannya? Percuma jika kita belajar namun kita tidak pernah hormat kepada guru kita. Sebuah pelajaran berharga bagi kita, kenapa terkadang ilmu yang diterima tidak bermanfaat. Hendaknya kita mengingat kembali apakah kita pernah melakukan tindakan yang menyakiti guru kita, sehingga ilmu yang kita dapatkan tak bisa menjadi manfaat.

Jika dikaitkan dengan kondisi moral anak bangsa saat ini, sikap hormat seorang murid terhadap gurunya sangat memprihatinkan. Banyak murid yang tidak menghormati guru, padahal mereka tak sadar akibat yang akan diterimanya di masa depan. Mungkin saja ini yang menyebabkan bangsa ini belum mempunyai generasi muda yang handal.

Merenung Sejenak

Hilangnya sikap pemuda sebagai kaum perubahan harus menyadari sebab akibat yang terjadi atas kondisi moral di negeri ini. Sikap hormat terhadap guru memang sudah seharusnya dilakukan, karena guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ilmu yang dapat membuat seseorang mempunyai derajat yang tinggi dan piawai dalam melakukan perubahan.

Perubahan harus segera dimulai semua kalangan terutama kalangan muda. Keterpurukan intelektualitas bisa ditanggulangi jika kesadaran berhasil dibangun di tengah masyarakat luas. Memang sulit mengajak seseorang melakukan kebaikan. Namun lebih sulit membiarkan keterpurukan yang akan berdampak pada hilangnya harapan bangsa ini.

Para pemuda harus bangkit, sejarah pernah mencatat berbagai perjuangan pemuda sebagai insan intelektual. Pemuda adalah tulang punggung bangsa, penerus bangsa, calon pemimpin bangsa di hari esok. Jika keterpurukan pemuda dibiarkan maka agen perubahan bangsa ini akan musnah. Sebuah harapan besar berada di tangan pemuda, dialah yang menentukan akan dibawa ke mana bangsa ini.

Organisasi Pemuda Beragama Kini Fenomenal

Indonesia memiliki banya keanekaragaman suku, budaya dan agama. Di Indonesia ada 5 agama yaitu islam, hindu, budha, kristen dan katholik. Setiap agama yang dianut mengajarkan kebaikan, mengajarkan mana yang boleh dilakukan dan yang tidak, mengajarkan pula mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh luar biasa karena negara kita menganut bhineka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tapi satu tujuan. Sehingga sampai saat ini terjaga kerukunan umat antar agama meski kadang dilanda polemik antar pemeluknya.

Setiap orang atau kelompok yang memeluk agama harus menjunjung tinggi nilai dan norma yang telah ditetapkan, termasuk diantaranya kelompok pemuda. Namun pada kenyataannya banyak kelompok kepemudaan yang mengedepankan ego kelompok masing-masing. Sehingga membuat identitas pemuda sebagai agen perubahan memudar terlebih sebagai umat beragama.

Ada beberapa hal yang kurang mendidik di sebagian organisasi kepemudaan yang semestinya menggambarkan pemikiran positif, tetapi justru malah memberikan dampak pragmatis terhadap orang yang terlibat di dalamnya. Diantaranya dalam hal menentukan pemimpin dan regenerasi kepemimpinan yang biasanya dilakukan secara periodik oleh organisasi kepemudaan. Dalam praktik ini biasanya organisasi memiliki calon ketua yang akan memimpin organisasi untuk dipilih oleh anggotanya, sehingga tercipta kompetisi dalam meraih kemenangan bagi setiap calon ketua umum organisasi.

Kompetisi yang dilakukan di organisasi-organisasi kepemudaan yang di dalamnya termasuk kemahasiswaan memiliki aturan main dan etika yang berbeda. Tapi tetap ada kompetisi dalam proses pemilihan ketua sebuah organisasi. Sehingga banyak kalangan dari tim calon ketua umum yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan pencalonan yang diselenggarakan.

Setiap calon memiliki latar belakang dan setrategi yang berbeda. Sehingga terkadang terjadi persaingan sengit para calon yang memang menginginkan kemenangan.

Negosiasi, mediasi dan komunikasi dilakukan secara maksimal oleh setiap tim sukses pendukung calon. Hal ini tergantung seberapa besar kemampuan retorika dan pendekatan yang dilakukan untuk menentukan keberhasilan calon. Satu hal yang sangat disayangkan dalam organisasi kepemudaan dalam meraih kemenangan adalah adanya money politic(politik uang). Pola seperi ini pasti akan berdampak pada pola pikir dan karakter pemuda yang terlibat dalam organisasi tersebut.

Banyak yang melakukan praktik money politic dengan tujuan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti kehendaknya. Hal ini pasti akan memberikan pengaruh buruk kepada pola gerak organisasi. Faktanya banyak organisasi kepemudaan termasuk di dalamnya mahasiswa tidak lagi mempunyai nilai juang seperti yang diharapkan. Mereka lebih suka bergerak atas dasar keuntungan yang akan mereka dapatkan.

Ala Parpol

Bukan pemandangan yang baru bagi masyarakat konflik yang terjadi di tubuh sebuah partai politik. Perebutan kekuasaan hingga persaingan sengit sehingga antar kader partai untuk mendapat jabatan sering terjadi. Hal memberikan kesan bahwa kader partai menghalalkan segala cara dalam kompetisi di organisasi. Terlebih kader partai yang menjadi kompetitor dalam bursa pemilu dan pilkada, politik uang dan perselisihan rentan terjadi di tengah masyarakat. Contohnya jika di tengah masyarakat terjadi politik uang, efek negatifnya adalah, pemilih tidak dapat menentukan pilihan berdasarkan hati nurani, tapi berdasarkan imbalan yang diterima.

Begitu pula saat ambisi lahir dari kader organisasi kemahasiswaan, maka ia akan cenderung memicu tindakan pragmatis di kalangan pemuda layaknya kader partai politik yang bertikai. Kaum intelektual yang seharusnya dapat memahami sebuah filosofi pesan agar masyarakat, justru lebih mementingkan kepentingan golongannya sendiri. Bahkan Ironisnya organisasi kepemudaan yang berbasis keagamaan pun terkadang lupa tugas dan fungsinya.

Andai para pejuang bangsa masih hidup dan melihat realita putra bangsa seperti ini, mereka tentu akan kecewa. Perjuangan berdarah demi mencapai perubahan, kini harus berakhir di tangan generasi bangsa yang tidak ideal menjadi tulang punggung negara. Jati diri pemuda kian hilang, sehingga identitas pemuda sebagai garda terdepan perubahan diragukan.

Perilaku ini menjadi biasa dan tidak lagi dianggap sebagai penyakit yang mengikis karakter kaum muda. Sehingga praktik yang tidak bisa dibenarkan ini menjadi budaya dalam pemilihan ketua umum organisasi kepemudaan bahkan di tengah masyarakat. Kemampuan negosiasi dan mediasi yang dimiliki kalangan muda bukannya digunakan untuk menyelesaikan persoalan, justru disalah gunakan untuk kepentingan politik yang menjadi bisnis yang menjanjikan.

Kelebihan aktivis organisasi kepemudaan dianggap sebagai kolompok potensial yang terbiasa berpikir menyelesaikan banyak masalah sosial, mengatur sekumpulan orang, melakukan public speaking, dan sering berbaur dengan masyarakat. Hal ini membuat aktivis dilirik oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan mempengaruhi publik. Maka tidak heran jika politisi, penguasa dan kelompok yang mempunyai kepentingan mendapat simpati masyarakat banyak yang menggandeng aktivis organisatoris.

Rapuhnya tiang dan pondasi ideologi bangsa membuat kita semakin khawatir akan karakter bangsa. Dinamika yang memicu konflik akan terus memberikan pemandangan ala kekuasaan. Umat beragama tidak lagi menjunjung nilai dan norma, sehingga perlu adanya penyadaran yang dilakukan oleh para pemimpin organisasi kepada anggotanya agar tidak terjebak lebih jauh ke dalam lembah hitam pragmatisme. Terutama organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan yang notabenenya beasaskan agama harus dapat memberikan pandangan baru terhadap masyarakat. Bukan menjadi babu kepentingan perorangan atau kelompok. Tetapi menjadi kelompok yang menjunjung tinggi ideologi bangsa dan memperjuangkan kepentingan bersama.

Menyoroti Organisasi Berbasis Agama

Banyak organisasi berasaskan agama yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap negara Indonesia. Perannya dalam pembangunan di negeri ini tidak bisa diukur dengan apapun, termasuk peran dalam memperjuangkan kemerdekaan sebelum Indonesia merdeka.

Beberapa organisasi kemasyarakatan berbasis agama yang cukup tua di negeri ini seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Dua organisasi beasaskan agama islam tersebut memiliki anak organisasi yang disebut ortom oleh Muhammadiyah dan badan ortonom oleh NU.

Muhammadiyah memiliki organisasi ortonom kepemudaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasiyatul Aisyiyah (NA) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Begitu pula angkatan muda yang dimiliki oleh NU diantaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pelajar NU (IPNU), Ikatan Pelajar Puteri NU (IPPNU), Fathayat dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Dua organisasi besar ini memiliki banyak angkatan muda dan basis massa. Selain itu masih banyak organisasi kepemudaan berbasis agama yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Saya berharap Muhammadiyah dan NU tetap memberikan pengawasan yang serius terhadap angkatan muda yang dibinanya, sebab generasi muda adalah harapan bangsa. Tidak menutup kemungkinan kader yang dibina oleh organisasi ini juga dapat terjebak dalam fenomena yang telah saya jelaskan di atas. Apalagi organisasi ortonom basis massanya adalah kaum muda yang rentan terkontaminasi oleh kepentingan kelompok. Mengingat potensi pemuda yang selalu diperhitungkan dalam kehidupan dimasyarakat membuat para penguasa menjadikan pemuda sasaran strategis demi kepentingan terselubung.

Tulisan ini setidaknya dapat menjadi warning (peringatan) kepada pegiat sosial, ekonomi, budaya, pergerakan pemuda dan agama untuk serius menyikapi persoalan moral pemuda yang berpengaruh kepada karakter bangsa. Saya hanya ingin mengutarakan kegelisahan kondisi pemuda yang mulai mengalami krisis moral dan karakter.

Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya di organisasi kemahasiswaan islam mulai dari menjadi ketua di tingkat Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten 2010-2011. Kemudian saya diamanahi sebagai ketua Pimpinan Cabang (PC) IMM Kabupaten Pandeglang 2012-2014, ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Provinsi Banten periode 2014-2016. Saya juga aktif dalam organisasi internal kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas dan Universitas di UNMA Banten yang notabenenya sebagai perguruan tinggi yang dilahirkan oleh organisasi islam.

Misi penyelamatan organisasi kepemudaan harus segera dilakukan. Para pemimpin organisasi harus melakukan diskusi yang fokus terhadap penyelamatan organisasi dengan cara kembali ke tujuan organisasi yang dipimpinnya. Mengingat sejarah organisasi yang ia pimpin sangat penting agar tercipta tujuan organisasi yang ideal. Tujuan organisasi yang kini mulai pudar, sehingga membuat hilangnya kesadaran di kalangan kaum muda untuk terlibat dalam organisasi.

Para pemula yang baru menjadi anggota organisasi sebaiknya jangan makhluk yang taklid (ikut-ikutan) belaka tanpa, memahami apa yang sedang dilakukan. Setidaknya kaum muda harus melakukan tiga hal untuk memastikan idealisme gerakan yang diikutinya. Pertama skeptis yaitu tidak mudah percaya terhadap apa yang didengar, tidak langsung mengikuti perintah yang tidak jelas kebenarannya. Kedua analisis hendaknya melakukan analisa apa yang sedang terjadi dan apa yang orang lain sampaikan, jangan sampai kita mengikuti sebuah anjuran tanpa tahu landasannya. Ketiga kritis, seseorang harus menumbuhkan rasa penasaran untuk mencari jawaban apa yang dipertanyakan. Dengan itu kita akan mendapatkan jawaban yang jelas atas apa yang diikuti. Bukan langsung memakan menjalankan sebuah intruksi yang diberikan tanpa tahu tujuan dan maksudnya.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Tinggal di desa tertinggal dengan infrastruktur pembangunan yang buruk. Jauh dari jangkauan pendidikan tinggi.

Lihat Juga

Rekonsiliasi Tidak Gratis, Israel Jamin Keamanan Arab Terhadap Ancaman Iran

Figure
Organization