Home / Narasi Islam / Sosial / Buku Belajarlah Nunukan, Buku Wajib Guru Nunukan

Buku Belajarlah Nunukan, Buku Wajib Guru Nunukan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: Dena Fadillah)
(Foto: Dena Fadillah)

dakwatuna.com – Kata perbatasan identik dengan hal-hal yang serba terbatas. Susahnya akses yang menuju daerah tersebut menjadi salah satu faktor kata tersebut. Memang benar adanya, di perbatasan ini serba terbatas, tidak semua kebutuhan bisa kita dapatkan disini. Bahkan kebutuhan pokok sekalipun masih jarang dan susah kita dapatkan. Apabila di perkotaan sana, kebutuhan pokok tentu diperlukan keberadaannya, apabila tidak ada mungkin masyarakt mengeluh akan keadaan tersebut. Tetapi di perbatasan ini kebutuhan yang “Benar-benar pokok” pun masih sulit ditemukan. Salah satu contohnya saja Listrik. Listrik menjadi hal yang sangat diperlukan, tetapi di daerah terpencil ini jangankan listrik kebutuhan sehari-haripun masih sulit didapatkan. Hal itulah yang menjadi gambaran perbatasan.

Di balik kekurangan itu semua, ternyata daerah perbatasan menyimpan beberapa kelebihan. Sedikitnya masyarakat yang tinggal di sini menjadikan lingkungan di pedalaman masih terjaga. Sehingga tidak heran, banyak wisata-wisata alam yang cukup indah tidak diketahui masyarakatnya sendiri, selain itu juga sumber daya alam yang berlimpah bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai mata pencaharian.

Tetapi saya tidak pernah menyangka, selain sumber daya alamnya yang melimpah ternyata banyak juga sumber daya manusia yang berkualitas, terutama yang saya lihat adalah pada bidang pendidikan. Ketika hendak berjalan-berjalan di sebuah perpustakaan sekolah, terlihat sebuah buku yang terlihat jadul. Buku yang bersampul seorang anak kecil yang sedang tersenyum dengan sangat lepasnya karya dari empat orang yang saya kira mereka merupakan orang yang hebat, yaitu Rina Asiani, Haerudin, Irfan Ahmad dan Nurdin Sade yang berjudul “Belajarlah Nunukan” terbitan dari El-Kis yang dicetak pada bulan Agustus 2015. Dari isi yang saya baca, saya rasa pengarang buku ini merupakan pemikir-pemikir hebat dalam perkembangan pendidikan yang ada di Nunukan.

Apabila dilihat dari sampul bukunya, memang buku tersebut kurang menarik untuk dibaca. Hasil cetakannya yang terlihat kurang jelas (buram) membuat kesan kuno terhadap buku tersebut serta membuat malas membaca orang yang melihatnya. Tidak ada kesan menarik pada sampul buku tersebut. Tetapi ada sebuah pepatah “Belajarlah dari Buah Durian”, meskipun cangkangnya menyeramkan dan terdapat duri-duri yang tajam serta keras, tetapi di balik itu semua terdapat buah yang harum, manis serta lezat yang disukai banyak orang. Itu pula yang harus kita perhatikan kepada buku tersebut, buku dengan sampul yang kurang menarik, tetapi isi di dalamnya terdapat pesan-pesan yang sangat bagus dalam peningkatan peningkatan kualitas pendidikan di Nunukan.

Buku “Belajarlah Nunukan” berisi tiga Bab yang disusun secara induktif yaitu pembahasan yang berawal dari ilmu-ilmu pendidikan yang umumnya dipakai di Indonesia, sampai ke pembahasan pendidikan yang khusus dan diterapkan di daerah lokal Kabupaten Nunukan. Buku ini juga menceritakan bagaimana kondisi alam yang ada di Nunukan, lengkap dengan data geografisnya, dari luas wilayah hingga kondisi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Dari penjelasan geografisnya saja, orang awam yang baru menginjakan kaki di Nunukan pasti akan mengerti keadaan Nunukan apabila telah membaca buku tersebut.

Buku ini sebagian besar membahas seputaran pendidikan yang ada di Nunukan sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan di Nunukan. Dari mulai kebijakan pemerintah, potret pendidikan yang dulu sampai sekarang, sampai ke pembahasan yang mendetail sekalipun semuanya tergambarkan didalam buku ini. Di dalamnya juga terdapat pembahasan fasilitas-fasilitas dan dukungan-dukungan dari Stake Holder (Masyarakat, Pemerintah, dan Perusahaan) yang dapat dipergunakan oleh para pelaku pendidikan dalam rangka membantu proses pendidikan yang berada di daerahnya.

Tetapi yang paling menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai permasalahan-permasalahan yang umum ditemukan di kabupaten Nunukan, tidak hanya sebatas kritik saja, tetapi didalamnya terdapat solusi yang diberikan untuk penerapannya di lapangan. Baik itu ditingkat struktural ataupun ditingkat sekolah yang semuanya dijelaskan bagaimana penerapannya. Selain itu, buku ini juga menceritakan visi-visi pendidikan Kabupaten Nunukan. Visi tersebut juga tidak hanya sebatas kalimat yang tercantum didalam buku, tetapi didalamnya juga terdapat realisasi visi yang dapat diterapkan untuk merealisasikan visi pendidikan kabupaten Nunukan tersebut.

Apabila realisasi visi yang terdapat dalam buku tersebut dipelajari dan diterapkan pelaksanaannya dengan baik oleh para pelaku pendidikan, tidak menutup kemungkinan visi yang sudah diwacanakan tersebut bisa terealisasi dengan baik dan cepat. Aktualisasi tersebut dapat dipahami secara jelas, sehingga para pelaku pendidikan mengerti akan tugasnya masing-masing sesuai dengan porsinya masing-masing.

Namun di balik baiknya buku tersebut, hanya sedikit saja para pelaku pendidikan yang mengetahui keberadaannya. Entah itu karena kurangnya pencetakan atau malasnya budaya membaca. Setelah saya survey kepada beberapa orang guru yang ada di sekolah, ternyata hampir semuanya tidak mengetahui keberdaan buku tersebut. Ada yang pernah melihat bukunya, tetapi tidak pernah membaca isi yang terdapat di dalamnya. Padahal, saya mendapatkan buku tersebut dari perpustakaan yang ada di sekolahnya. Kita sebagai guru tentulah harus banyak membaca, terutama yang berkaitan dengan pendidikan. Hal inilah yang menjadi PR untuk kita semua, bagiamana supaya guru-guru bisa belajar untuk mengajar.

Sungguh sangat disayangkan sekali ketika buku hebat yang berisi tentang visi pendidikan Kabupaten Nunukan, dengan aktualisasinya yang cukup jelas, tidak diketahui oleh para pelaku pendidikan khususnya guru-guru yang menjadi ujung tombak pendidikan. Ibarat sebuah kata “Penjelajah yang tidak mempunyai sebuah peta”, itulah yang bisa digambarkan dengan kondisi tersebut. Peta yang sudah menjelaskan ke mana arah dan tujuan yang akan dicapai, tetapi karena malasnya untuk membaca yang pada akhirnya akan menyesatkan penjelajah tersebut.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Relawan Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (Penempatan Kab.Nunukan).

Lihat Juga

Pengunjung Membludak, Pameran Buku di Aljazair Dikunjungi 2,3 Juta Orang

Organization