Home / Dena Fadillah

Dena Fadillah

Relawan Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (Penempatan Kab.Nunukan).

Manajemen Kelas Ala Pak Sya

Alangkah baiknya apabila sekolah bisa mengoptimalkan karakter-karakter yang dimiliki pendidik tersebut. Jika perlu buat character management di sekolah. Di mana ada guru yang berperan tegas, ada yang berperan lemah lembut, ada yang kejam ataupun karakter-karakter lain yang diperlukan. Sehingga seluruh perilaku peserta didik dapat diakomodir dengan baik. Dengan perbedaan karakter guru seperti itu, apabila disikapi dengan baik dan bijak tentunya akan berpengaruh besar terhadap peningkatan karakter peserta didik ke arah yang lebih baik.

Baca selengkapnya »

Ke Manakah Karakter Umar Bakri di Zaman Modern?

Seharusnya di zaman modern seperti ini, dengan fasilitas yang cukup lengkap harus bisa melebihi hasil didikan guru pada zaman dahulu. Jangan hanya menerapkan pembelajaran yang menyenangkan saja kepada siswa. Sehingga, menjadikan siswa lebih terlena dengan kesenangan yang ia rasakan. Justru orang-orang hebat muncul bukan dari orang-orang yang senang, tetapi dari orang-orang yang penuh rintangan dan cobaan sehingga dia dapat menyelesaikan segala permasalahan yang menimpanya itu.

Baca selengkapnya »

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Guru Rela Berjuang Meski Tanpa Ada Uang

Apabila kita cermati dengan baik dana pelatihan yang besar itu, menurut saya hal itu tidaklah efektif. Guru-guru ketika nantinya ingin mengikuti pelatihan, pasti berpikiran bukan untuk mencari ilmu, tetapi mencari uang saku. Pernah ada pengalaman ketika mengisi sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah di sebuah Hotel di Nunukan. Disana disediakan kamar yang mewah, makanan yang banyak dan katanya biasa diberikan transport dan uang saku. Ketika pelatihan berjalan, sontak beberapa guru berteriak “ Kapan uang sakunya?” Karena ketika itu kami mengisi pelatihan di jam terakhir sebelum penutupan.

Baca selengkapnya »

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Tingkatkan Rasa Percaya Diri Anak Negeri Melalui Kegiatan Edukatif

Tuntutan kurikulum yang sangat banyak membuat guru cukup tersibukkan dengan administrasi-administrasi yang harus dipersiapkan. Sehingga banyak guru yang kehilangan idealismenya dalam mengembangkan pendidikan karena hal tersebut. Guru yang awalnya menikmati suasana pembelajaran, karena banyaknya administrasi yang harus dipersiapkan, yang pada akhirnya membuat jenuh guru tersebut. Guru hanya memenuhi tuntutan kurikulum saja, tanpa bisa mengembangkan dan meningkatkan potensi dari setiap peserta didik.

Baca selengkapnya »

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Puluhan Anak Terancam Putus Sekolah

Memang kompleks permasalahan yang terjadi di sekolah filial ini. “Bagaikan memakan buah simalakama”. Itulah mungkin yang bisa digambarkan kepada pemerintah daerah saat ini terutama di bidang pendidikan. Pemerintah seakan kebingungan dalam mencari solusi sekolah filial ini. Di satu sisi, sekolah filial masih dibutuhkan oleh masyarakat keberadaannya sebagai sarana pendidikan anak-anaknya. Tetapi di sisi lain faktor administrasi dan tenaga pengajar menjadi hambatan keberlangsungan pengajaran di sekolah siswa.

Baca selengkapnya »

Ketika Pendidikan Dicampur Aduk Politik

Sebenarnya, di Nunukan ini banyak juga orang-orang yang mempunyai kapasitas dan kualitas cukup baik dalam bidang pendidikan. Hanya saja, mereka terkurung dalam sistem tatanan pemerintahan yang menekan mereka dalam berkreasi. Guru-guru jadi ketakutan dan enggan menyampaikan segala permasalahan yang ada. Jarang pula saya melihat guru-guru yang aktif menulis di media mengenai permasalahan-permasalahan yang sebenarnya banyak mereka temui.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-5)

Mungkin anak-anak di sana (di luar daerah perbatasan) menganggap nasionalisme itu hanya sebuah materi pelajaran yang harus diikuti dan dipelajari, yang hanya bisa diucapkan tanpa bisa memaknai nasionalisme tersebut. “Saya cinta indonesia” merupakan hal yang sering mereka ucapkan, tetapi mereka tidak tahu apa di balik ucapannya tersebut. Terutama bagaimana cara mengamalkan bahwa aku mencintai indonesia. Berbeda dengan anak-anak di perbatasan ini, mereka merasakan sendiri bagaimana perih dan susahnya menjalani kesehariannya di Indonesia.

Baca selengkapnya »

Buku Belajarlah Nunukan, Buku Wajib Guru Nunukan

Sungguh sangat disayangkan sekali ketika buku hebat yang berisi tentang visi pendidikan Kabupaten Nunukan, dengan aktualisasinya yang cukup jelas, tidak diketahui oleh para pelaku pendidikan khususnya guru-guru yang menjadi ujung tombak pendidikan. Ibarat sebuah kata “Penjelajah yang tidak mempunyai sebuah peta”, itulah yang bisa digambarkan dengan kondisi tersebut. Peta yang sudah menjelaskan ke mana arah dan tujuan yang akan dicapai, tetapi karena malasnya untuk membaca yang pada akhirnya akan menyesatkan penjelajah tersebut.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-4)

Di dalam buku yang berjudul Belajarlah Nunukan, permasalahan utama pendidikan di Kabupaten Nunukan adalah kurangnya peran orang tua terhadap pendidikan anaknya. Itu juga yang saya temui di sini. Orang tua hanya menyerahkan saja pendidikan anaknya kepada sekolah. Justru di rumah lah waktu yang paling banyak peserta didik dalam kesehariannya. Maka apabila pendidikan di rumah baik, insya Allah pendidikan anaknya ikut baik pula.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-3)

Anak-anak di daerah perbatasan seakan terus disoroti keterbatasannya, baik dari pendidikan formal maupun non formalnya. Rata-rata anak-anak di perbatasan ini berasal dari warga Indonesia yang dideportase dari Malaysia. Bekerja sebagai buruh, memang bukan hal yang nyaman bagi warga negara Indonesia. Mereka seakan terus dikuras waktu dan tenaganya. Sehingga pendidikan untuk anaknya seakan dikesampingkan. Maka tak jarang kita menemukan anak-anak yang orang tuanya TKI di malaysia belum bisa membaca. Terutama yang beragama islam, banyak dari mereka yang belum mengetahui huruf-huruf didalam al-quran.

Baca selengkapnya »
Organization