Home / Berita / Opini / Ketika Pendidikan Dicampur Aduk Politik

Ketika Pendidikan Dicampur Aduk Politik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: Dena Fadillah)
(Foto: Dena Fadillah)

dakwatuna.com – Pendidikan sekarang ini jauh lebih penting dari sejak kapanpun dalam sejarah. Pendidikan merupakan kata yang sederhana serta mudah dipahami pengertian dan maknanya. Tetapi pendidikan juga menjadi salah satu akar permasalahan yang sulit untuk dipecahkan permasalahannya di setiap daerah. Hal tersebut sebenarnya dapat diatasi, dihadapi dan diselesaikan apabila daerah tersebut dapat menciptakan tatanan sistem pendidikan yang terencana dengan baik.

Memang bukan perkara yang mudah dalam peningkatan mutu pendidikan. Membutuhkan proses yang panjang serta waktu yang lama. Karena peningkatan mutu pendidikan ini tidak hanya satu kali perencanaan, setelah itu terapkan. Tetapi pendidikan juga harus terus dievalusi pelaksanaannya di lapangan serta dikoreksi secara bersama apa yang menjadi permasalahannya di setiap daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah juga harus secara cerdas mengamati setiap hal yang berhubungan dengan pendidikan guna mengambil setiap kebijakan yang akan diberikan.

Nunukan merupakan salah satu kabupaten yang tergolong ke dalam daerah 3T (Terpencil, Tertinggal dan Terdalam). Hal tersebut tidak usah kita buktikan secara mendalam, dengan melihat adanya relawan-relawan guru yang ada di Nunukan saja, kita bisa menyimpulkan bahwa Nunukan masih membutuhkan uluran tenaga relawan dari luar.

Karena daerah terpencil inilah sulitnya pengawasan-pengawasan yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Para pengawas pun tidak secara detail mengamati apa yang menjadi permasalahan dan kekurangan di setiap sekolah. Terkesan hanya melihat-lihat dan mengisi administrasi yang harus disetorkan. Jarang saya melihat ada pengawas yang benar-benar memperhatikan keadaan sekolah secara mendetail, dari mulai sarana, tenaga pengajar serta administrasi-administrasi guru yang seharusnya menjadi acuan dan pedoman mereka dalam mengajar.

Ketegasan pemerintah sangat diperlukan didaerah perbatasan ini, karena pemerintah mempunyai power yang cukup besar terhadap kemajuan pendidikan di perbatasan. Kebijakan-kebijakan yang diberikan tentunya mempunyai dampak terhadap pendidikan itu sendiri. Kebijakan yang tepat secara otomatis akan memberikan dampak positif terhadap pendidikan, begitupun sebaliknya.

Karena wewenangnya yang cukup besar, maka sekarang ini tentunya banyak orang-orang yang menginginkan jabatan untuk menggunakan wewenang besar tersebut untuk membantu meningkatkan pendidikan yang ada di perbatasan. Entahlah, hanya mereka dan Tuhannya yang tau. Apa memang benar ingin memperbaiki Nunukan? Ataukah hanya rakus jabatan?

Spanduk dan baliho pun sudah mulai terpampang di setiap jalanan, baik di kota maupun di pedesaan. Ya, hal tersebut menunjukan pesta demokrasi Nunukan sebentar lagi dimulai. Beberapa pasang nama pun terpampang lengkap beserta foto-foto yang dijadikan sebagai bahan promosi. Tak ketinggalan slogan-slogan menarik dan unik yang memberikan ciri khas kepada setiap calon tersebut. Namun apalah artinya itu semua, meskipun slogan yang menggemaskan, promosi yang berkali-kali serta janji – janji wangi yang disampaikan oleh setiap calon, apabila dia masih mementingkan pribadi maka visi pendidikan di Nunukan hanya sekadar mimpi tanpa realisasi.

Sekitar empat bulan ke depan kabupaten Nunukan akan memilih pemimpin yang dianggap amanat oleh rakyat. Namun, itulah demokrasi. Yang paling banyak suara, maka dialah yang menang. Maka dengan statement tersebut tentulah para tim sukses dengan gencarnya hilir mudik mencari dukungan-dukungan kepada calon yang mereka usung.

Bidang pendidikan merupakan sasaran empuk bagi para tim sukses untuk meraup banyak suara. Bayangkan saja, berapa total masyarakat yang bekerja di bidang pendidikan? Dari mulai sekolah sampai struktural, jumlah hak suara tersebut cukup banyak. Maka tak heran banyak tim-tim sukses yang menyelinap masuk ke dalam bidang pendidikan. Padahal apabila kita tinjau kembali, seorang guru haruslah bersikap netral, hanya sebatas mempunyai hak suara dan tidak masuk ke dalam salah satu partai politik.

Namun nyatanya sekarang, banyak sekali para pelaku pendidikan termasuk guru justru terang-terangan masuk ke dalam salah satu partai politik dan mempunyai ambisi memenangkan salah satu calon.

Menurut saya, hal itulah yang menjadi permasalahannya. Apabila seorang guru mendukung salah satu calon, ketika calonnya tersebut kalah,

Apa yang terjadi pada guru tersebut? Mutasi itulah jawaban yang tepat dan kita ketahui bersama.

Nunukan merupakan salah satu kabupaten yang cukup unik, sebagian wilayahnya merupakan perkotaan, dan sebagiannya lagi merupakan daerah pedesaan yang sulit untuk dijangkau. Bahkan daerah krayan saja, hanya bisa ditempuh oleh jalur udara menggunakan pesawat kecil yang berkapasitas maksimal 6 orang. Dari hal tersebutlah, wewenang sering salah digunakan. Mutasi yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan hanya dijadikan sebagai senjata untuk balas dendam.

Sebenarnya, di Nunukan ini banyak juga orang-orang yang mempunyai kapasitas dan kualitas cukup baik dalam bidang pendidikan. Hanya saja, mereka terkurung dalam sistem tatanan pemerintahan yang menekan mereka dalam berkreasi. Guru-guru jadi ketakutan dan enggan menyampaikan segala permasalahan yang ada. Jarang pula saya melihat guru-guru yang aktif menulis di media mengenai permasalahan-permasalahan yang sebenarnya banyak mereka temui.

Ya, apa mau dikata. Jika guru-guru tersebut mengkritik dan berkoar-koar di media, tentulah itu menjadi sebuah boomerang untuk dirinya sendiri. Ancaman mutasi akan terus menghantui mereka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pmikiran guru-guru saat ini adalah mencari aman. Padahal, sejatinya guru itu merupakan ujung tombak dari pendidikan. Segala permasalahan yang ada sebenarnya sudah ada pada pemikiran mereka, beserta solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan tersebut. Tetapi yang menjadi permasalahan, guru tidak mau menyampaikan apa yang menjadi temuan dan pikiran mereka ketika di lapangan.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Relawan Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (Penempatan Kab.Nunukan).

Lihat Juga

Rusia: Turki Maju sejak Erdogan Memimpin

Figure
Organization