Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Pendidikan Kita: Orientasi Hasil dan Hasilnya

Pendidikan Kita: Orientasi Hasil dan Hasilnya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)

dakwatuna.com – Pagi itu saya tak sengaja terseret dalam lingkaran diskusi di sebuah situs media sosial. Seorang teman, Wuni, membagikan pengalamannya selama mengikuti microteaching di sebuah sekolah internasional tempat ia melamar sebagai tenaga pendidik. Pada saat itu juga ia sempat berdiskusi dengan kedua orang pelamar lainnya–yang keduanya tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan sama sekali–menanyakan tentang kekurangan sekolah tersebut. Kedua temannya sepakat menjawab kalau sekolah tersebut tidak mengajarkan baca tulis pada anak didiknya. Anak terlihat sibuk dengan kegiatannya sendiri dan lebih banyak bermain daripada belajar.

Menurut pemaparan Wuni, sekolah tempat ia melamar sebetulnya sudah menggunakan kurikulum pre-school dari USA yang pada pembelajarannya berorientasi pada proses. Seperti membiarkan si anak bermain dengan balok, origami, dan stik. Mereka belajar melalui pengalamannya sendiri dalam permainan tersebut. Memecahkan kerumitan yang mereka dapatkan sehingga apa yang mereka lakukan tertanam betul di benak. Apabila suatu hari anak mengahadapi masalah yang sama diharapkan ia mampu mengingat bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pemandangan seperti ini langsung terlihat asing di mata kedua teman baru Wuni. Keduanya menilai seharusnya sekolah ini mengajarkan baca tulis lantaran standar untuk dapat masuk SD di negara ini harus sudah bisa baca tulis. Ini adalah contoh dari tuntutan pada hasil. Sekilas memang terlihat wajar saja jika keduanya menilai demikian mengingat pendidikan kita lebih didominasi oleh sistem yang berorientasi pada hasil. Namun menjadi aneh ketika calon pengajar tidak dapat memahami maksud sekolah menggunakan kurikulum pre-school untuk membentuk karakter peserta didiknya.

Jika membandingkan dengan bidang arsitektur, ilmu yang saya dalami, proses selama perancangan adalah komponen utama pada penilaian seorang mahasiswa. Bagaimana suatu hasil desain itu didapatkan menjadi tolak ukur apakah desain tersebut layak disebut sebagai desain arsitektur. Kendati ada sebagian dosen yang menilai bahwa hasil akhir adalah yang menentukan. Tapi pada implementasinya ilmu arsitektur itu sendiri tidak menghendaki demikian, ada proses-proses panjang yang harus dilalui mahasiswa arsitektur dalam menghasilkan karya arsitekturnya. Mulai dari studi literatur, studi lapangan, pengumpulan data, analisa, sintesa, yang semuanya dirangkai dalam sebuah konsep berujung pada karya nyata arsitektur tersebut. Melihat panjangnya proses tersebut sudah seharusnya ia mendapatkan porsi penilaian lebih besar ketimbang harus mementingkan hasil jadi.

Pada dasaranya hasil memang menjadi salah satu komponen yang penting dalam menilai perkembangan seorang anak didik. Tapi jika itu hanya dilihat dengan kaca mata kuda, tanpa mau melihat sama sekali pada proses pencapaian hasil. Maka yang terjadi adalah kekhawatiran akan kemunduran alih-alih kemajuan.

Banyak contoh bagaimana mindset kita pada hasil telah menciptakan kemunduran yang justru ingin kita hindari. Masih dilihat dari sudut pandang arsitektur. Seringkali kita menemukan developer-developer yang menggunakan site plan yang sama pada sebuah proyek perumahan yang mereka bangun walaupun tempatnya berbeda-beda. Misal, Pondok Mertua Indah 1 di Bogor punya site plan yang sama dengan Pondok Mertua Indah 2 di Bekasi. Padahal setiap daerah memiliki bentangan alam yang berbeda dan unik. Maka perlu pendekatan yang berbeda pula untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan desain. Pola pikir kita yang cenderung pada pencapaian hasil ini membuat para perancang kawasan tersebut menganggap bahwa setiap sentimeter lahan harus menghasilkan uang. Tak pelak mindset seperti ini membuat kita melupakan ciri yang ada di daerah setempat. Tradisi, norma sosial, kebudayaan, keunikan alam, semua dilupakan hanya untuk mengejar hasil keuntungan semata. Bukit-bukit diratakan, rawa diurug, bibir sungai dibeton, kultur setempat ditabrakkan dengan kultur modern, menghilangkan kearifan lokal yang seharusnya dapat berpotensi mendatangkan keuntungan yang tak kalah besarnya daripada cara-cara oportunis.

Proses-proses yang sarat dengan pertimbangan pada tiap aspek yang ada tidak lagi dipentingkan karena tujuan akhirnya adalah hasil. Hal ini juga bisa terlihat pada korupsi yang merajalela di negara kita. Bisa jadi pendidikan kita yang berorientasi pada hasil inilah yang menyebabkan banyak pemimpin kita melakukan tindakan yang merugikan. Hanya karena ingin hidup senang dan mewah, wakil rakyat nekat korupsi tanpa mempertimbangkan lagi bahwa prosesnya mendapatkan uang tersebut salah. Pungli dianggap hal yang wajar sekalipun itu merugikan banyak pihak. Ada lagi yang hanya karena ingin memperoleh jabatan tinggi rela menyikut lawan-lawannya dengan berbagai cara walaupun bertentangan dengan hukum dan norma yang berlaku. Memfitnah, membunuh, menipu, hanya untuk mendapatkan kursi kehormatan (hasil). Tanpa mempertimbangkan lagi proses pencapaian hasilnya yang sarat dengan tindakan amoral.

Di kalangan intelektual mahasiswa ternyata hal ini pun terjadi, meski tidak banyak, namun fenomena ini ada. Mahasiswa rela membayar orang untuk menyelesaikan skripsi atau tugas akhirnya agar memperoleh gelar sarjana atau lulus kuliah. Orang dianggap punya status sosial tinggi kalaulah ia punya embel-embel gelar di belakang namanya. Orang dianggap pintar kalaulah ia bisa menimba ilmu di perguruan tinggi negeri. Yang tidak kuliah dianggap tidak pintar, padahal mungkin saja anggapan itu tidak benar sama sekali. Banyak anak-anak Indonesia yang tidak mampu melanjutkan kuliah karena biaya atau harus bekerja membantu orang tuanya padahal mereka pintar.

Terkahir yang tidak kalah hebohnya adalah kontroversi pelaksanaan Ujian Nasional (UN), ini merupakan realitas pendidikan kita yang menuntut hasil pada siswa tanpa melihat proses. Tingkat kesulitan soal disamakan, mengacu pada pusat. Standar pendidikan di Indonesia bagian timur yang tergolong rendah karena minimnya sarana dan sumber daya manusia tidak lagi diperhitungkan. Dengan segala keterbatasannya siswa-siswi di Indonesia bagian timur dipaksakan mengerjakan soal yang hanya mampu dikerjakan siswa-siswi di daerah pusat. Pendidikan kita yang bertahun-tahun lamanya hanya dinilai dalam beberapa hari. Seakan segala aspek dapat dinilai dalam sekali uji. Padahal ada aspek-aspek yang tidak bisa dinilai dengan ujian atu test. Menciptakan paradigma bahwa anak-anak belajar agar lulus UN.

Boleh saya katakan bahwa kita semua ini tak ubahnya seorang arsitek yang harus peka dalam melihat setiap permasalahan yang tidak melulu bisa disamakan antara lahan satu dengan yang lain. Setiap lahan memiliki masalahnya tersendiri dan unik yang hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan khusus pada tiap-tiap permasalahan. Menyamaratakan solusi pada tiap-tiap masalah tersebut hanya menghasilkan karya arsitektur yang kosong tak bernilai seperti pada contoh developer dan perumahan yang sudah disebutkan sebelumnya.

Guru juga seperti arsitek, mereka adalah arsitek pendidikan, mereka bertanggung jawab membentuk anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang berakhlak dan bermoral. Namun pendidikan kita yang mengacu pada hasil ini seringkali menuntut anak-anak mencapai target yang ditetapkan. Nah, pada prosesnya anak-anak punya masalahnya sendiri dalam mencapai target tersebut. Sehingga seringkali anak-anak menjadi stres. Apabila tenaga pengajar kita tidak memiliki kepekaan pada permasalahan si anak dan menyamaratakan setiap anak untuk bisa mencapai target maka ini hanya memperburuk tingkat stres anak didiknya.

Demikian pula dengan politisi, dokter, wirausaha, ilmuwan, dan lainnya adalah arsitek di bidangnya. Kita semua adalah arsitek untuk hidup kita sendiri, tak mungkin menyelesaikan masalah kita dengan cara orang lain yang jelas masalahnya berbeda.

Maka yang dibutuhkan saat ini adalah pertama, perubahan radikal pada sistem pendidikan kita. Mulai dari jenjang pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Bagaimanapun juga kita tahu bahwa untuk melanjutkan sekolah, beasiswa, karir kita membutuhkan nilai. Tidak aneh jika siswa kita sendiri menganggap nilai atau hasil itu lebih penting daripada proses. Maka perubahan sistem pendikan ini mutlak diperlukan. Jangan sampai ada Taman Kanak yang tidak mengajarkan baca tulis karena sistem pendidikannya berorientasi pada proses kemudian siswanya tidak bisa melanjutkan jenjangnya karena terbentur oleh peraturan pemerintah yang mewajibkan calon siswa SD sudah harus bisa baca tulis. Atau lulusan sarjana kita harus mengalami kendala karena perusahan tetap melihat nilai ijazah dalam penerimaan pegawainya. Ini tidak efektif.

Kedua, peningkatan kualitas guru yang tidak hanya sekadar mengajar berdasarkan pada kurikulum namun juga tanggung jawab moralnya untuk “memanusiakan” anak didiknya. Yang tidak hanya berorientasi pada hasil namun proses pengajaran tersebut. Yang tidak selalu harus mengajarkan anak didiknya namun harus mau “belajar” pula pada anak didiknya–ini yang paling sulit. Pada akhirnya perubahan sistem pendidikan ini hanya dapat berjalan apabila insan-insan akademis kita memiliki pemahaman penuh pada apa yang disebut orientasi proses.

Barangkali patutlah kita memaknai lagi pesan yang sering digaungkan oleh Sokola Rimba bahwa:

“Mengajar adalah Membiarkan Belajar” (Sokola Rimba).

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Ardyan Satya
Mahasiswa S1 di Universitas Pancasila.

Lihat Juga

Tradisi Ilmu dan Pendidikan antara Islam dan Barat

Figure
Organization