Topic Archives: Daerah perbatasan

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Guru Rela Berjuang Meski Tanpa Ada Uang

Apabila kita cermati dengan baik dana pelatihan yang besar itu, menurut saya hal itu tidaklah efektif. Guru-guru ketika nantinya ingin mengikuti pelatihan, pasti berpikiran bukan untuk mencari ilmu, tetapi mencari uang saku. Pernah ada pengalaman ketika mengisi sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah di sebuah Hotel di Nunukan. Disana disediakan kamar yang mewah, makanan yang banyak dan katanya biasa diberikan transport dan uang saku. Ketika pelatihan berjalan, sontak beberapa guru berteriak “ Kapan uang sakunya?” Karena ketika itu kami mengisi pelatihan di jam terakhir sebelum penutupan.

Baca selengkapnya »

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Tingkatkan Rasa Percaya Diri Anak Negeri Melalui Kegiatan Edukatif

Tuntutan kurikulum yang sangat banyak membuat guru cukup tersibukkan dengan administrasi-administrasi yang harus dipersiapkan. Sehingga banyak guru yang kehilangan idealismenya dalam mengembangkan pendidikan karena hal tersebut. Guru yang awalnya menikmati suasana pembelajaran, karena banyaknya administrasi yang harus dipersiapkan, yang pada akhirnya membuat jenuh guru tersebut. Guru hanya memenuhi tuntutan kurikulum saja, tanpa bisa mengembangkan dan meningkatkan potensi dari setiap peserta didik.

Baca selengkapnya »

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Puluhan Anak Terancam Putus Sekolah

Memang kompleks permasalahan yang terjadi di sekolah filial ini. “Bagaikan memakan buah simalakama”. Itulah mungkin yang bisa digambarkan kepada pemerintah daerah saat ini terutama di bidang pendidikan. Pemerintah seakan kebingungan dalam mencari solusi sekolah filial ini. Di satu sisi, sekolah filial masih dibutuhkan oleh masyarakat keberadaannya sebagai sarana pendidikan anak-anaknya. Tetapi di sisi lain faktor administrasi dan tenaga pengajar menjadi hambatan keberlangsungan pengajaran di sekolah siswa.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-5)

Mungkin anak-anak di sana (di luar daerah perbatasan) menganggap nasionalisme itu hanya sebuah materi pelajaran yang harus diikuti dan dipelajari, yang hanya bisa diucapkan tanpa bisa memaknai nasionalisme tersebut. “Saya cinta indonesia” merupakan hal yang sering mereka ucapkan, tetapi mereka tidak tahu apa di balik ucapannya tersebut. Terutama bagaimana cara mengamalkan bahwa aku mencintai indonesia. Berbeda dengan anak-anak di perbatasan ini, mereka merasakan sendiri bagaimana perih dan susahnya menjalani kesehariannya di Indonesia.

Baca selengkapnya »

Buku Belajarlah Nunukan, Buku Wajib Guru Nunukan

Sungguh sangat disayangkan sekali ketika buku hebat yang berisi tentang visi pendidikan Kabupaten Nunukan, dengan aktualisasinya yang cukup jelas, tidak diketahui oleh para pelaku pendidikan khususnya guru-guru yang menjadi ujung tombak pendidikan. Ibarat sebuah kata “Penjelajah yang tidak mempunyai sebuah peta”, itulah yang bisa digambarkan dengan kondisi tersebut. Peta yang sudah menjelaskan ke mana arah dan tujuan yang akan dicapai, tetapi karena malasnya untuk membaca yang pada akhirnya akan menyesatkan penjelajah tersebut.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-4)

Di dalam buku yang berjudul Belajarlah Nunukan, permasalahan utama pendidikan di Kabupaten Nunukan adalah kurangnya peran orang tua terhadap pendidikan anaknya. Itu juga yang saya temui di sini. Orang tua hanya menyerahkan saja pendidikan anaknya kepada sekolah. Justru di rumah lah waktu yang paling banyak peserta didik dalam kesehariannya. Maka apabila pendidikan di rumah baik, insya Allah pendidikan anaknya ikut baik pula.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-3)

Anak-anak di daerah perbatasan seakan terus disoroti keterbatasannya, baik dari pendidikan formal maupun non formalnya. Rata-rata anak-anak di perbatasan ini berasal dari warga Indonesia yang dideportase dari Malaysia. Bekerja sebagai buruh, memang bukan hal yang nyaman bagi warga negara Indonesia. Mereka seakan terus dikuras waktu dan tenaganya. Sehingga pendidikan untuk anaknya seakan dikesampingkan. Maka tak jarang kita menemukan anak-anak yang orang tuanya TKI di malaysia belum bisa membaca. Terutama yang beragama islam, banyak dari mereka yang belum mengetahui huruf-huruf didalam al-quran.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-2)

Ketika saya selesai mengajar di sekolah induk sekitar pukul 09.30 saya langsung berangkat menuju sekolah sebelah, ternyata hal tersebut banyak mengundang simpatik beberapa orang. Bahkan setelah beberapa kali mengajar di sana, akhirnya ada warga yang secara sukarela mau mengantarkan pergi dan pulang menyeberang dengan perahu kecilnya. Itulah bantuan dari Allah, ketika niat kita tulus untuk membantu, pasti ada orang yang Allah kirim untuk senantiasa membantu hambanya.

Baca selengkapnya »

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-1)

Belajar di alam merupaka metode yang baik dalam mengasah kreatifitas peserta didik. Alam memberikan banyak hal yang dapat kita pelajari. Selain itu juga suasana yang segar bisa menjadikan mereka lebih termotivasi lagi dalam belajar. Metode lain yang sering saya pakai adalah metode parodi. Metode yang menyetting pembelajaran menjadi sebuah permainan ataupun nyanyian. Dengan beragam metode tersebut dapat dipastikan bahwa anak-anak tidak akan merasa jenuh ketika belajar. Karena mereka selalu terus penasaran pada kegiatan pembelajaran selanjutnya.

Baca selengkapnya »

Membantu Pendidikan di Perbatasan

Pendidikan di Perbatasan juga menjadi topik hangat di pemerintah pusat. Bahkan banyak sarjana-sarjana muda yang sengaja di rekrut untk menjadi seorang relawan guru untuk mengajar di perbatasan. Beberapa program yang sudah rutin mengirimkan sarjana muda dan dilaksanakan setiap tahunnya, antara lain SM3T (Sarjana Mendidik daerah Terdepan, Terluar dan Terdalam) dari Kemendikbud, Indonesia Mengajar dari Pak Anis Baswedan dan Sekolah Guru Indonesia dari Yayasan Dompet Dhuafa. Banyak program-program yang diamanahkan kepada relawan-relawan tersebut. Tentunya dengan tujuan untuk membantu pendidikan di perbatasan.

Baca selengkapnya »