Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-2)

Guru Batas Negeri dari Tanah Pasundan (Bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Foto: Dena Fadillah)
(Foto: Dena Fadillah)

Bertugas Sebagai Guru Bantu di Sekolah Filial

dakwatuna.com – SDN Filial 001 Sei Menggaris merupakan sekolah filial dari SDN 001 Sei Menggaris. Berada di Kampung Perum, Desa Tabur Lestari, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan. Sekolah yang terletak di seberang seungai sekolah induk. Jaraknya tidak cukup dari sekolah induk, namun karena kurangnya akses menuju sekolah induk menyebabkan harus dibuatnya sekolah filial ini. Jembatan yang dahulu sudah direncanakan dibuat sebagai akses utama kampung ini, sampai sekarang pembangunannya belum kunjung selesai.

“Jika jembatan ini ada, mungkin pendidikan serta perekonomian bisa meningkat di kampung perum. Karena biasanya untuk menuju kecamatan kami harus melewati perahu terlebih dahulu,” Tutur Pak Thamrin selaku Kepala Desa Tabur Lestari.

Akhir semester dua kemarin, sebenarnya ada empat orang tenaga pengajar yang mengajar di sekolah ini. Yang salah satunya adalah bantuan dari tentara penjaga perbatasan. Sedangkan tiga orang lainnya merupakan guru honorer yang sudah mengabdi dalam beberapa tahun. Tetapi lambat laun, tenaga pengajar ini hilang satu persatu. Dari mulai tentara yang sudah selesai masa tugasnya serta dua orang guru honor yang pulang ke kampung halamannya, dan sampai sekarang tak pernah terlihat di sekitar sekolah.

Menurut pandangan saya, mereka tidak kembali karena merasa tidak betah mengajar di sekolah sana. Rasa nyaman dan kesejahteraan mereka terbatas. Dari mulai honornya yang kecil sampai tempat tinggalnya pun yang tidak ada. Jadi, selama ini guru-guru yang mengajar disana hanya tinggal di kolong rumah warga yang sempit dan jauh dari kenyamanan.

Jadi sampai sekarang hanya tersisa satu guru yang rela mengajar di sekolah sana. “Ibu Sarlota namanya.” Dialah guru yang bertahan untuk mengajar di sekolah filial ini. Ibu Sarlota hanya mengajar seorang diri di sekolah filial. Lima kelaslah yang beliau ajar dalam satu waktu.

“Sebenarnya kalau melihat kemampuan pribadi, saya tidak sanggup untuk mengajar lima kelas sekaligus. Tapi saya kasihan anak-anak yang mau belajar dan berangkat jauh-jauh dari rumahnya, jadi akhirnya saya coba.” Tutur Bu Sarlota.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana seorang guru bisa mengajar lima kelas sekaligus, mungkin satu guru satu kelas saja cukup menguras tenaga guru. Hal tersebut juga tidak efektif, karena siswa hanya ditugaskan saja tanpa adanya bimbingan dari guru. Ketika saya lihat juga banyak anak-anak yang hanya bermain dan berlarian keluar masuk sekolah. Salah satunya adalah Narman yang berada di kelas tiga. Ketika saya bertanya tentang pelajaran yang dipelajarinya hari ini, dia hanya menjawab “menyapu saja Pak.”

Permasalahan itulah yang membuat hati saya tergugah. Meskipun saya mempunyai amanat untuk mengajar di sekolah induk, tetapi ketika saya mempunyai waktu luang, saya memutuskan untuk berangkat mengajar ke sekolah filial. Hari Senin dan hari Kamis lah waktu yang saya gunakan untuk pergi ke sekolah sebelah. Memang bukan hal yang mudah menuju ke sekolah filial. Ketingting/perahu kecil lah kendaraan penyebrangan saya. Setiap hari itu juga saya harus pulang pergi menuju sebelah. Itupun ada ongkos penyeberangannya. Kurang lebih harus menyediakan uang sekitar 40 ribu setiap kali berangkat mengajar. Memang bukan harga yang murah, tetapi karena semangat anak didiklah yang membuat harga tersebut murah bagi saya.

Ketika saya selesai mengajar di sekolah induk sekitar pukul 09.30 saya langsung berangkat menuju sekolah sebelah, ternyata hal tersebut banyak mengundang simpatik beberapa orang. Bahkan setelah beberapa kali mengajar di sana, akhirnya ada warga yang secara sukarela mau mengantarkan pergi dan pulang menyeberang dengan perahu kecilnya. Itulah bantuan dari Allah, ketika niat kita tulus untuk membantu, pasti ada orang yang Allah kirim untuk senantiasa membantu hambanya.

Jembatan yang miring menjadi rute yang paling ekstreem yang harus dilewati. Tak pernah terbayangkan anak-anak yang setiap hari melewati jembatan itu. Jembatan yang licin, rapuh dengan samping kiri kanannya adalah jurang, yang dapat kapan saja menjatuhkan anak-anak ke sungai. “Apa mereka tidak ketakutan melewati jembatan tersebut setiap hari?” pikir saya.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Relawan Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (Penempatan Kab.Nunukan).

Lihat Juga

Muhasabah, Kebaikan untuk Negeri

Figure
Organization