Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Mengukur Pendidikan di Indonesia

Mengukur Pendidikan di Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Gelar, pangkat, dan jabatan bukan menjadi jamninan luas dan dalamnya ilmu yang dimiliki. Sebagai umat Islam, kita sepakat bahwa Allah sumber dari segala ilmu pengetahuan. Allah dalam firman-Nya telah menjelaskan bahwa “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah (ilmu Allah). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman: 27)

Ilmu dari Allah ada yang tertulis di kitab atau yang disebut dengan ayat kauliyah, namun juga dapat dilihat dari kenampakan alam atau kejadian yang ada, yang disebut ayat kauniyah. Ada 3 cara untuk mengetahui ilmu Allah. Yang pertama dengan isyarat ilmiyah, yang kedua dengan isyarat ghaib dan yang ketiga dengan isyarat hukum. Isyarat ilmiyah dibutuhkan riset untuk mengetahuinya. Isyarat ghaib dibutuhkan iman untuk mengetahuinya. Dan isyarat hukum diperlukan kesediaan untuk menaatinya. Penjelasan di atas menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah yang telah digelarnya dim uka bumi, langit, dan kitab-kitab-Nya serta betapa banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu. Kajian ilmiah yang tertulis di buku-buku pelajaran itu hanyalah satu dari sekian banyak ilmu yang ada dan sekolah hanyalah satu dari sekian banyak cara yang ada untuk belajar.

Meminjam kata dari Anies Baswedan, bahwa mendidik adalah kewajiban dari setiap orang yang terdidik. Sehingga, jika dijumlah ada banyak pendidik (baca : orang-orang terdidik) yang seharusnya siap mengajarkan ilmunya baik ilmu eksak, sosial, maupun mengenai akhlak. Lalu mengapa bangsa ini masih jauh tetinggal? Mengapa masih banyak masyarakat yang kurang pendidikan?

Madrasah pertama yang dimiliki setiap anak adalah ibunya. Ibu adalah ustadzah pertama mereka, teman pertama mereka, bahkan koki pertama mereka. Ibu adalah mata rantai pertama yang menghaturkan ilmu dalam kehidupan mereka. Ibu adalah yang meletakkan dasar-dasar kehidupan dan membentuk bagaimana karakter mereka kelak. Ibu pula yang mengajarkan pada mereka tentang Tuhan dan tempat kembalinya kelak. Masa-masa selanjutnya, sudah selayaknya ibu menjadi guru besar mereka. Ibu adalah role model teladan mereka. Tempat mereka bertanya banyak hal, temapat mereka mulai melihat dunia serta membuat mereka memahami serta menghayati perjalanan fana ini. Itulah peran besar ibu dalam proses transfer pengetahuan di kehidupan awal mereka. Keyakinan bahwa pondasi yang kokoh tentu tak akan goyah meski badai menghantam menjadi semangat mereka membesarkan putra-putri mereka meski dalam tangis dan peluh. Ing Ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun kebersamaan, dan di belakang memberikan dorongan. Itulah ibu di mana pun ia berada dalam mendampingi kita.

Jika status pendidikan masyarakat di suatu negara kini masih menjadi pertanyaan, maka mari lihat kembali bagaimana kondisi perempuan terutama ibu yang ada di negara tersebut. Jangan buru-buru berteriak mengenai jumlah sarjana, master, maupun doktor yang ada di negara tersebut. Tapi, marilah kita renggangkan jari-jari kita dan mulai menghitung jumlah ibu-ibu hebat yang menjadi guru pertama di kehidupan generasi penerus bangsa. Hitung pula jumlah perempuan yang mempersiapkan diri menjadi ibu dengan amalan shalih dan ilmu-ilmu bermanfaatnya. Lihat diri, dan tanyakan apa kita termasuk dalam hitungan itu? Kemudian hitung, berapa jumlah laki-laki yang paham tentang hakikat pengajaran ini? Berapa dari mereka yang menghargai dan mendukung peran dan fungsi perempuan sebagai ibu? Lihat sekeliling kita, berapa jumlah yang menyadari hal tersebut? Apa keluarga kita termasuk pula di dalamnya?

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada || Team Research Disaster Nursing || Peserta PPSDMS Regional 3 Yogyakarta angkatan 7 || Lahir di Gunungkidul tahun 1995 ||

Lihat Juga

Tegas! Di Hadapan Anggota DK PBB, Menlu RI Desak Blokade Gaza Segera Dihentikan

Figure
Organization