Home / Berita / Internasional / Asia / Jamal Khashoggi, Sosok Jurnalis yang Ingin Dibungkam Pangeran Bin Salman

Jamal Khashoggi, Sosok Jurnalis yang Ingin Dibungkam Pangeran Bin Salman

Jurnalis asal Saudi, Jamal Khashoggi. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Ankara. Editor Middle East Eye, David Hearst, berkomentar atas menghilangnya jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul Turki.

Menurut Hearst, Khashoggi secara cerdik menghindari menyebut dirinya ‘oposisi Saudi’. Hal itu tampak selama interaksi keduanya, setelah berbeda pandangan dengan rezim Saudi di bawah Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud (MBS).

Sebaliknya, Khashoggi menyebut dirinya sebagai orang yang setia, putra institusi, jurnalis dan veteran kebijakan luar negeri. Belum lama ini, ia juga berada di lingkaran kerajaan dan pada beberapa kesempatan, ia tampak bepergian dengan mereka.

Hearst kemudian memberi contoh berpisahnya Khashoggi dengan para pemikir liberal Barat yang rajin mengkritik Saudi. Khashoggi setidaknya mendukung perang yang dipimpin Saudi di Yaman.

Khashoggi percaya – sebagaimana halnya analis Arab Sunni – bahwa Iran telah melampaui batas di wilayah Arab Sunni, dan sudah tiba waktunya bagi Saudi untuk menghalaunya, jelas Hearst.

Selain itu, Khashogi juga mendukung hukuman mati, mendukung kampanye pemberantasan korupsi, serta mendukung upaya untuk mendiversifikasi dan memprivatisasi ekonomi yang bergantung pada minyak.

Namun menurut Hearst, Khashoggi masih berpegang pada satu prinsip bahwa lingkaran kecil di sekitaran MBS belum cukup mampu memikul tanggung jawab yang diperoleh melalui permusuhan abadi.

Pandangan itu diungkapkan Khashoggi secara gamblang dan jelas, imbuh Hearst. Selain itu, mantan pimpinan redaksi Al Arab News Channel itu juga meyakini hanya demokrasi terbuka yang harus diterapan di Saudi.

Khashoggi juga khawatir, MBS akan membawa Saudi kepada kebangkrutan pada akhirnya. Hal itu sebagai hasil dari proyek ‘kesombongannya’ untuk membangun kota-kota di atas pasir.

Hearst menambahkan, Khashoggi di sisi lain juga mengakui bahwa MBS memiliki popularitasi tinggi di kalangan pemuda. Namun popularitas akan tetap bertahan hingga titik di mana mereka harus merogoh dompet masing-masing. Jurnalis Saudi itu menyoroti laporan-laporan perihal pelarian modal.

Khatibah Khashoggi (kiri) sedang menunggu Jamal Khashoggi di depan Konsulat Saudi di Istanbul. (Reuters/ Aljazeera)
Khashoggi Lenyap

Jamal Khashoggi adalah seorang adalah wartawan Saudi, kolumnis, penulis dan mantan manajer umum dan pemimpin redaksi Al Arab News Channel. Ia dihormati secara internasional atas kontribusinya kepada Al Watan karena telah menjadi platform bagi progresif Saudi.

Ia dilaporkan menghilang setelah mengunjungi Konsulat Saudi di Istanbul. Menurut keterangan, kontributor untuk Washington Post itu memasuki gedung pada hari Selasa (02/10) siang waktu setempat.
Khashoggi datang untuk keperluan menyelesaikan ‘dokumen rutin’. Namun ia tidak terlihat lagi sejak saat itu.

Selama ini, Jamal Khashoggi dikenal sebagai seorang yang rajin mengkritik kebijakan pemerintah Arab Saudi. Bahkan ia yang pertama kali mengingatkan bahayanya berhubungan dengan Presiden AS Donadl Trump.

Hilangnya Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul, yang mana telah lebih dari 24 jam, dianggap Hearst sebagai bukti kuat tokoh-tokoh dan niatan mereka yang mengatur Riyadh .

Menurut Hearst, adanya hubungan yang didanai dengan baik, yang melibatkan jurnalis veteran Thomas Friedman dari The New York Times dan David Ignatius dari Washington Post . Keduanya diketahui pernah menyebut MBS sebagai seorang reformis.

“MBS benar-benar mengejutkan, tapi ia bukan ahli terapi. Ia seorang pendendam. Ia menyimpan dendam. Ia keras kepala. Ia sama sekali tidak menghormati kedaulatan, wilayah, pengadilan atau media negara lain,” tulis Hearst.

Lebih lanjut, Hearst juga menyebut MBS sebagai sosok yang nekat. Bahkan harus melakukan aksi terhadap Khashoggi di Istanbul, di tanah Turki. “Itu adalah ukuran betapa sembrononya putra mahkota Saudi dan lingkaran kecil di sekitarnya,” imbuhnya.

Hubungan Turki dan Arab Saudi sendiri kian memburuk sejak terjadinya upaya kudeta terhadap pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan dua tahun lalu. Seperti yang banyak diketahui, media-media Saudi gencar memberitakan bahwa Erdogan terbunuh atau kabur dari Turki pada malam kudeta terjadi.

Fakta bahwa Erdogan selamat malam itu merupakan kabar buruk bagi Riyadh.

Butuh waktu 16 jam bagi media-media Saudi untuk mengakui bahwa kudeta tidak berhasil, serta memuat “sambutan kerajaan Saudi atas kembalinya keadaan normal yang dipimpin Yang Mulia Recep Tayyip Erdogan dan pemerintahannya sesuai konstitusi dan kehendak rakyat Turki”.

Lalu, akankah menghilangnya Khashoggi di tanah Turki akan kembali menambah buruk hubungan Ankara dan Riyadh?

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Saya Kenal Pembunuh Jamal Khashoggi

Organization