Home / Berita / Internasional / Asia / WSJ: Sejumlah Pangeran dan Pejabat Tinggi Saudi Masih Ditahan

WSJ: Sejumlah Pangeran dan Pejabat Tinggi Saudi Masih Ditahan

Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, Putra Mahkota Arab Saudi. (Globalresearch.ca)
dakwatuna.com – Riyadh. Pemerintah Arab Saudi masih menahan sejumlah anggota kerajaan, menteri dan pebisnis dalam tahanan. Hal itu mengungkap banyaknya penahanan setelah kampanye anti-korupsi digulirkan, kata Wall Street Journal (WSJ) dalam laporannya.

Pejabat pemerintah dan orang-orang yang dekat dengan tahanan mengatakan banyak dari mereka yang ditahan tanpa dakwaan. Para tahanan diberi sedikit kesempatan untuk berhubungan dengan keluarga mereka, imbuh surat kabar yang berbasis di New York itu, Rabu.

Banyak dari tahanan masih mendapat pengamanan maksimum, dan beberapa bahkan mendapatkan ‘perlakuan kasar’, imbuh WSJ.

Termasuk dalam tahanan adalah Pangeran Turki bin Abdullah. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Riyadh, dan merupakan putra dari mendiang Raja Abdullah.

Baru-baru ini, tiga miliarder dari keluarga Mahfouz ditahan dengan alasan tak jelas, kata pejabat. Keluarga Mahfouz merupakan grup perbankan terkemuka di Arab Saudi.

Juru bicara pemerintah Saudi tidak merespon sejumlah pertanyaan terkait dari WSJ. Wakil Jaksa Agung Kerajaan menyebut, beberapa tahanan menghadapi tuduhan yang selain korupsi – seperti keamanan nasional dan “terorisme”.

Puluhan anggota kerajaan, menteri dan pebisnis top, ditangkap pada awal November dalam kampanye anti-korupsi yang digulirkan Putra Mahkota Muhammad bin Salman Al Saud. Tuduhan terhadap mereka yang ditahan termasuk pencucian uang, penyuapan, dan pemerasan.

Sebagian mereka kemudian dibebaskan setelah ada kesepakatan dengan pemerintah. Termasuk di antara yang dibebaskan adalah pebisnis dan miliarder, Pangeran Alwaleed bin Talal.

Pada Januari, Jaksa Agung Saudi Sheikh Saud al-Mojeb mengatakan, kerajaan menyita lebih dari $ 100 miliar dari kampanye anti-korupsi itu.

Para pengamat menyebut penangkapan sebagai cara bagi Pangeran Muhammad bin Salman untuk mengkonsolidasikan ekonomi, selain juga kekuasaannya di Saudi.

Beberapa tahanan yang dibebaskan dari Ritz Carlton diganjar larangan bepergian, beberapa bahkan harus terus dimonitor, kata orang dekat mereka.

Sementara yang lain menjadi pendukung pendekatan Pangeran Muhammad bin Salman. Setidaknya seorang masuk ke dalam lingkaran bisnis dengan pemerintah, lanjut WSJ.

Menurut WSJ, di antara mereka yang ditahan ada Mohammad al-Amoudi, miliarder Saudi-Ethiopia; Bakr bin Laden, ketua raksasa konstruksi Saudi Binladin Group; Amr al-Dabbagh, mantan kepala lembaga investasi Arab Saudi; dan Adel Fakeih, mantan menteri ekonomi yang pernah menjadi asisten Mohammad bin Salman. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Penangkapan Dai dan Masyayikh di Saudi Berlanjut

Organization