Home / Berita / Internasional / Asia / Batu Sandungan Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud

Batu Sandungan Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud

Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, Putra Mahkota Arab Saudi. (Globalresearch.ca)

dakwatuna.com – Doha. Surat kabar Prancis menyebutkan, tindakan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud yang penuh kekerasan dan improvisasi, menjadi sumber kekhawatiran di dunia. Disebutkan, itu terutama pada kedekatannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dilansir Aljazeera.net, Ahad (28/01/2018), pemaparan tersebut dimuat dalam artikel berjudul ‘Batu Sandungan Bin Salman’, di surat kabar Lezico Prancis. Di dalamnya, ia menyebut perang Yaman yang sudah lebih dua tahun dan dipimpin langsung Arab Saudi, menemui kegagalan yang mengerikan.

Selain itu, Bin Salman disebut kerap salah memperhitungkan tindakannya. Salah satunya tampak pada penahanan PM Lebanon Saad al-Hariri di Riyadh dan memaksanya untuk mengundurkan diri pada November lalu. Masalah ini kemudian dapat terselesaikan atas mediasi Prancis.

Bahkan, Lezico menilai Bin Salman punya kecenderungan untuk melakukan serangan pada tetangganya. Sebuah tindakan yang sama sekali tidak memperhitungkan pengaruh geopolitik yang diakibatkan.

Terkait hal di atas, tudingan Bin Salman yang menyebut Qatar membiayai organisasi teroris adalah contohnya. Padahal, tudingan itu justru lebih banyak menyasar kepada Saudi. Bin Salman juga mempersoalkan hubungan Qatar dengan Iran, dan menjadikannya salah satu alasan untuk melakukan pemboikotan ekonomi sejak Juni tahun lalu.

Hasil dari tindakannya itu, sebut Lezico, justru semakin mendekatkan dan menguatkan hubungan antara Doha dengan Teheran. Sebuah fakta yang jauh dari keinginan armada Bin Salman.

Tindakan yang ceroboh itu bahkan memberi kesan ia bermain dengan api di Kawasan yang memang selalu tegang. Bahkan ada yang menyebut, “Fluktuasi regional merupakan sebab kekhawatiran para investor asing.”

Dalam Negeri

Selain menyoroti kebijakan luar negeri, surat kabar tersebut juga membahas kebijakan Bin Salman di dalam negeri. Lezico menuding, kampanye penangkapan terhadap 200 orang pangeran dan pelaku bisnis di Saudi merupakan bagian dari upaya memperoleh pemasukan negara.

Penangkapan Pangeran Mut’ib bin Abdullah Al Saud dan perebutan Garda Nasional darinya, semakin memperkuat kekuasaan Bin Salman. Namun, hal itu semakin memperlemah aliansi di antara keluarga kerajaan dan kabilah-kabilah yang ada.

Lezico juga menuliskan, Bin Salman sangat menyadari urgensi untuk mengekang para pemuda di negaranya. Para pemuda, seperti di negara lain, sangat erat hubungannya dengan media sosial sebagai simbol kebebasan. Dengan begitu, para pemuda tidak akan menerima pembatasan atas kebebasan mereka.

“Pangeran Muhammad bin Salman tergesa-gesa dalam tindakannya, sementara ia tahu para pemuda mungkin dapat melakukan kudeta terhadapnya,” menukil pernyataan salah seorang penguasaha tentang posisi Bin Salman terhadap para pemuda. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Referendum Mesir, Cara As-Sisi Untuk Berkuasa Hingga 2030

Organization