Home / Berita / Internasional / Asia / Reformasi Pangeran Muhammad bin Salman Dinilai Tak Meyakinkan

Reformasi Pangeran Muhammad bin Salman Dinilai Tak Meyakinkan

Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud. (Aljazeera0
dakwatuna.com – Paris. Reformasi yang dijalankan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman Al Saud dinilai belum begitu meyakinkan internasional. Hal ini sebagaimana disebut majalah Prancis Le Journal du Dimanche (JDD).

Pangeran Bin Salman telah satu tahun diangkat sebagai Putra Mahkota Saudi. Selama itu pula ia getol mengkampanyekan reformasi di berbagai bidang di Saudi.

JDD juga mengomentari menghilangnya Bin Salman dari media pada beberapa pekan lalu. Disebutkan, hal itu justru membuka ruang untuk rumor yang ditujukan pada diri pribadinya, baik dari dalam maupun luar istana.

Pangeran Bin Salman secara resmi muncul menampakkan diri dengan memanfaatkan laga pembuka Piala Dunia 2018 di Rusia. Ia bersama Presiden Rusia Vladimir Putin menyaksikan langung laga antara Rusia vs Saudi dengan hasil akhir 5-0 untuk kemenangan tuan rumah.

JDD meyakini, tahun kedua Bin Salman akan tetap diwarnai dengan kepemimpinannya dalam perang Yaman. Hal ini disebut-sebut akan menjad bencana kemanusiaan, di mana saat ini telah puluhan ribu orang tewas menjadi korban.

Lebih lanjut, JDD juga menyinggung upaya modernisasi yang dilakukan Bin Salman. Disebutkan, pemberian izin mengemudi bagi wanita justru dibarengi dengan penangkapan sejumlah aktivis. Penangkapan disinyalir untuk memenuhi keinginan kaum konservatif yang tak setuju dengan keputusan tersebut.

Sementara itu, Liz Sly dalam tulisannya di Washington Post juga mengungkit izin mengemudi bagi wanita Saudi. Menurutnya, perubahan itu merupakan yang terpenting sejauh ini.

Namun begitu, Sly menjelaskan bahwa kebebasan politik tidak termasuk dalam perubahan-perubahan tersebut. Ia menyinggung penangkapan 17 aktivis bulan lalu, di mana 7 di antaranya merupakan aktivis wanita yang mendukung izin mengemudi.

“Tampaknya Arab Saudi baru mengarah pada otoritarianisme yang lebih radikal, bahkan saat pemerintah mendorong reformasi sosial,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Benarkah Erdogan Minta Bantuan Ekonomi ke Merkel? Ini Jawaban Menteri Jerman