Home / Berita / Internasional / Asia / Mengenal Binali Yildirim; Perdana Menteri Terakhir dalam Sejarah Turki Modern

Mengenal Binali Yildirim; Perdana Menteri Terakhir dalam Sejarah Turki Modern

PM Turki terakhir, Binali Yildirim. (Yenisafak)
dakwatuna.com – Ankara. Seiring mulai berlakunya sistem presidensial di Turki, membuat perdana menter saat ini, Binali Yildirim, menjadi sosok terakhir yang menduduki jabatan tersebut dalam sejarah Turki Modern.

Kursi perdana menteri dihapus sesuai hasil dari pemilihan parlemen dan presiden 24 Juni lalu. Sesuai amanat referendum tahun lalu yang menandai pergantian sistem pemerintahan dari parlementer menjadi presidensial.

Binali Yildirim lahir di desa Kayi di kota Erzincan, timur laut Turki. Ia terlahir pada 20 Desember 1955, dari seorang ayah bernama Dorson dan seorang ibu Bharar.

Sebelum menjabat perdana menteri, Yildirim menduduki posisi sebagai Menteri Transportasi, Komunikasi dan Maritim selama lebih dari 11 tahun. Ia dikenal sebagai ‘insinyur proyek raksasa’ dan ‘insinyur jalan’ karena kesuksesannya dalam mengawal proyek pembangunan.

Selama menjabat Menteri Transportasi, Turki berhasil mewujudkan 6 dari 10 proyek yang termasuk proyek terbesar di dunia.

Yildirim mengawal sejumlah proyek raksasa, seperti Bandara Istanbul III, Jembatan Sultan Yavus Selim, Jembatan Osmangazi, Terowongan Eurasia, Metro Marmaray, Jalan Istanbul-Izmir.

Ia kemudian menjabat sebagai penasihat presiden dalam waktu yang cukup singkat. Selain juga sibuk sebagai Ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) ke-3 selama satu tahun.

‘Sikap tegas Yildirim terhadap upaya kudeta’

Sejak awal terjadinya upaya kudeta di Turki pada 15 Juli 2016, Yildirim secara tegas menampilkan sikap penolakannya. Dalam konteks ini, ia berjuang untuk nilai-nilai demokrasi dan kehendak rakyat.

Pada malam upaya kudeta dilancarkan, Yildirim mengucapkan kalimat yang sangat tegas. “Mereka yang melakukan upaya kudeta ini akan membayar dengan harga yang mahal,” katanya kala itu.

Ia menambahkan, “Kekuatan rakyat berhasil mengalahkan kekuatan tank-tank militer.” Ia juga menjawab permintaan kepala angkatan darat yang meminta agar ada perintah tertulis. “Saudaraku, suaraku ini adalah perintah tertulis. Catat dan lakukan,” tegasnya.

Selama masa jabatannya, Turki menggelar referendum untuk perubahan konstitusi yang digelar pada 16 April 2017. Selain itu, Turki juga menggelar operasi militer terbesar sepanjang sejarahnya, yaitu operasi ‘Perisai Efrat’ dan ‘Ranting Zaitun’ dalam memberantas teroris di perbatasan Turki.

‘Dari Kayi ke kursi perdana menteri’

Sejak berusia 16 tahun, Yildirim harus kehilangan ibunya yang kala itu berusia 38 tahun. Ia hobi berpetualang dan melihat pesawat yang melintasinya di sore hari. “Mungkinkah aku naik pesawat suatu hari nanti?” tanyanya acap kali.

Sejak kecil, Yildirim berpindah ke kota Istanbul. ia menyelesaikan pendidikan pertamanya pada tahun 1970, dan selesai pendidikan atas tahun 1973.

Keluarganya berharap ia melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran. Namun ia lebih suka melanjutkan di bidang teknik mesin. Akan tetapi, karena satu sebab ia kemudian terpaksa masuk ke bidang Ilmu Kelautan dan Pembuatan Kapal di Universitas Istanbul.

Setelah lulus, ia melanjutkan studi magister di bidang yang sama. Ia menerima pelatihan khusus di bidang keselamatan hidup dan uang di laut, di IMO International Maritime University di Swedia.

Yildirim menikah dengan seorang guru bernama Samiha pada tahun 1975. Ia dikaruniai tiga orang anak (Ahmet Büşra Erkan), serta mengikuti pendidikan militer di tahun 1980 – 1981.

Dari tahun 1978-1993, Yildirim menduduki sejumlah jabatan di Direktorat Jenderal Pembuatan Kapal. Di sanalah ia berkenalan untuk pertama kalinya dengan Recep Tayyip Erdogan, yang saat ini menjadi Presiden Turki.

Tahun 1994 hingga 2000, saat Erdogan menjabat sebagai walikota Istanbul, Yildirim disibukkan sebagai Direktur Umum Perusahaan Ekspresi Istanbul.

Pada pemilihan umum tahun 2002, Yildirim terpilih menjadi anggota parlemen dari AKP. Kemudian baru diangkat sebagai Menteri Transportasi, Komunikasi dan Maritim.

Di kementerian tersebut, ia menjabat selama lebih dair 11 tahun, sehingga menjadikannya sebagai sosok yang menduduki posisi itu terlama dalam sejarah Turki.

Pada pemilihan umum 2015, AKP tidak dapat meraih suara mayoritas di parlemen. Dengan begitu, AKP tidak dapat membentuk pemerintahan sendiri.

Kemudian dalam Konferensi Luar Biasa AKP pada 22 Mei 2016, Yildirim terpilih menjadi ketua. Ia kemudian menjadi ketua ketiga bagi partai penguasa Turki tersebut.

Ia menjadi ketua AKP selama satu tahun, sebelum akhirnya jabatan ketua partai kembali dipegang oleh Erdogan pada konferensi serupa pada 21 Mei 2017.

‘Sedikit bicara banyak bekerja’

Dulu Turki menghadapi serangkaian masalah dalam bidang komunikasi dan transportasi. Dan di masa Yildirim lah, masalah-masalah itu dapat terselesaikan.

“Sesungguhnya, aku ini sedikit bicara dan banyak bekerja, sebagaimana cerminan dari nama keluargaku ini yang bermakna ‘kilat’,” kata Yildirim menggambarkan pribadinya.

Binali Yildirim menjabat sebagai Perdana Menteri Turki selama dua tahun. seiring dengan hasil pemilu 24 Juni lalu, Yildirim menjadi sosok terakhir yang menduduki jabatan tersebut dalam sejarah Turki modern. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Hamas: Menhan Israel Mundur, Kemenangan Politik bagi Gaza