Home / Berita / Internasional / Asia / 5 Hal Ini Membuat Erdogan Lain Daripada yang Lain

5 Hal Ini Membuat Erdogan Lain Daripada yang Lain

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Yenisafak)

dakwatuna.com – Ankara. Beberapa waktu lalu, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan Partai Gerakan Nasionalis (MHP) resmi berkoalisi dengan nama ‘Koalisi Rakyat’. Koalisi ini terbentuk dalam rangka menyongsong pemilihan presiden mendatang, dengan satu kandidat yaitu Recep Tayyip Erdogan.

Seperti diketahui, pemilihan legislatif dan presiden Turki dipercepat pelaksanaannya menjadi 24 Juni 2018 mendatang. Sebelumnya, pemilu baru akan digelar pada Februari 2019 tahun depan.

Kandidat dari Koalisi Rakyat, yang juga Presiden Turki saat ini, dinilai banyak pihak akan meraih kemenangan dengan mudah. Setidaknya lima poin inilah yang membedakan antara Erdogan dengan para pesaingnya:

Pertama: Sepanjang hidupnya berpolitik, Erdogan menjadikan kekuatan rakyat sebagai kekuatannya. Terkait hal ini, pernyataan Erdogan saat malam terjadi upaya kudeta pada 15 Juni 2016 lalu cukup menjadi bukti.

“Hingga hari ini, kekuatan yang paling tinggi bagiku adalah kekuatan rakyat,” katanya saat itu. Terbukti, rakyat Turki mampu menggagalkan upaya kudeta pada hari itu.

Kedua: Erdogan menentang keras e-memorandum, atau yang dikenal di Turki dengan ‘e-muhtıra’. E-Muhtıra adalah pernyataan kontroversial dari Kepala Staf Militer tentang peran militer dalam kehidupan politik di Turki. Pernyataan itu dimuat di laman resmi militer. Di dalamnya, dibahas soal pandangan terkait pemilihan presiden Turki tahun 2007.

Erdogan yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri pun kemudian menanggapinya dengan kuat. Selain itu, ia juga memberi tanggapan yang sama terhadap upaya kudeta oleh Jemaah Fethullah Gulen. Saat itu, Erdogan mengucapkan pernyataan yang terkenal, “Aku pimpinan tertinggi di negeri ini.”

Ketiga: Tak dipungkiri, pemerintah Turki di bawah Erdogan mampu menelorkan kebijakan ekonomi yang berhasil, serta stabilitas di bidang politik. Selama 15 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Turki terus mengalami peningkatan. Terakhir, pada 2017 lalu ekonomi Turki tumbuh sebesar 7,4%.

Keempat: Sikap Erdogan yang menentang ‘Oligarki Birokrasi’, dan melarang praktik itu masuk ke negara dan seluruh instansinya. Erdogan juga berjuang secara efektif untuk memberantas mentalitas kudeta di Turki. Sebagai gantinya, ia menguatkan peran aspirasi kebangsaan.

Selain itu, Erdogan juga memperkenalkan sejumlah reformasi di berbagai bidang, seperti politik, sosial, hak asasi, demokrasi, kebebasan beragama, dan lain sebagainya.

Kelima: Erdogan konsisten membela kaum tertindas di mana pun di seluruh dunia. Ia membela hak-hak rakyat seperti Al-Quds, Suriah, Myanmar, Somalia, dan sebagainya. Terkait hal ini, Erdogan pernah mengucapkan kalimat: “Dunia lebih besar dari lima negara.”

Pernyataan itu ia ucapkan untuk menentang kekuasaan lima negara sebagai anggota tetap DK PBB, yaitu Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Rusia dan Cina. Pernyataan Erdogan pun menjadi semboyan yang meluas. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi