Home / Berita / Internasional / Asia / Lebih Dekat dengan Meral Akşener, Politisi Wanita yang Disebut Pesaing Kuat Erdogan

Lebih Dekat dengan Meral Akşener, Politisi Wanita yang Disebut Pesaing Kuat Erdogan

Meral Akşener, politisi wanita pesaing Erdogan. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Ankara. Meral Akşener adalah sosok politisi wanita Turki. Ia sebelumnya dikenal sebagai oposisi dari Partai Gerakan Nasionalis (MHP), hingga kemudian mendirikan Partai Baik (GP) pada 25 Oktober 2017 lalu.

Media massa ramai membicarakan Akşener sebagai pesaing terkuat Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Pemilu Turki mendatang.

Meral Akşener lahir di Provinsi İzmir, Turki, pada 18 Juli 1956. Sosok wanita berusia 62 tahun itu lahir di keluarga imigran muslim dari Yunani.

Akşener menempuh pendidikan di Universitas Istanbul dan Institut Ilmu Sosial di Universitas Marmara. Ia mengambil konsentrasi di bidang sejarah, hingga mendapatkan gelar Doktor di bidang tersebut.

Dalam kurun waktu 1979 hingga 1982, Akşener berkecimpung di dunia pendidikan dengan menjadi menjadi dosen sejarah di beberapa universitas di Turki. Hingga pada tahun 1994 ia meninggalkan dunia akademisi dan masuk ke dunia politik.

Pada pemilu 1995, Akşener berhasil masuk ke gedung parlemen dengan mengendarai Partai Jalan Kebenaran (DYP). Ia juga kembali terpilih dalam pemilu tahun 1999. Dalam dua periode tersebut, Akşener juga menempati posisi sebagai wakil ketua parlemen.

Meral Akşener juga pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Turki pada 08 November 1996 hingga 30 Juni 1997. Jabatan itu ia peroleh hasil pemerintah koalisi antara dua partai, yaitu Partai Rafah yang dipimpin Necmettin Erbakan, dan Partai DYP. Akşener sendiri keluar dari DYP pada 2001.

Kudeta militer tahun 1997 membuat Meral Akşener harus berhenti dari jabatan sebagai Mendagri – ia wanita pertama yang menduduki jabatan tersebut. Akşener juga dikenal sebagai penentang utama pemerintahan militer. Bahkan seorang jendral pernah mengancam akan menembaknya.

Setelah keluar dari Partai DYP, Meral Akşener bergabung dengan kelompok ‘reformis’ dari Partai Fazilet yang dipimpin Erdogan, dengan tujuan mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Namun Akşener tidak lama berada di kelompok itu, hingga kemudian bergabung dengan Partai MHP.

Pada pemilu tahun 2007 dan 2011, Meral Akşener kembali masuk ke parlemen dengan berkendara Partai MHP. Namun MHP tidak mencalonkannya lagi pada Pemilu Ulang Turki di bulan November 2015. Hingga kemudian, MHP mengeluarakan Akşener pada September 2016 setelah gagal memimpin partai.

Lambang Good Party/ İyi Party/ Partai Baik. (cbc.ca)

Mencalonkan Diri

Pada 25 Oktober 2017 lalu, Meral Akşener secara resmi mengumumkan pendirian Partai Baik (GP). Partai ini dikenal dengan semboyan ‘Turki Jadi yang Terbaik’ (Türkiye iyi Olacak). Sedangkan pada 18 April 2018 lalu, secara resmi Akşener mengumumkan pencalonan dirinya dalam Pemilihan Presiden 24 Juni 2018 mendatang.

Seperti diwartakan sebelumnya, Erdogan mengumumkan percepatan pemilu parlemen dan presiden di negaranya menjadi 24 Juni 2018. Sejatinya, pemilu baru akan digelar pada Februari 2019 mendatang. Situasi di dalam dan luar negeri disebut-sebut faktor yang mendorong Erdogan mengambil keputusan ini.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Turki menetapkan Partai GP (Iyı Partısı) sebagai peserta pemilu mendatang. Hal ini terjadi setelah 15 wakil dari Partai CHP (Oposisi terkuat) bergabung ke Partai GP. Konstitusi Turki mengizinkan partai dengan memiliki setidaknya 20 wakil di parlemen untuk mencalonkan kandidat dalam pemilihan presiden.

Meral Akşener memang dikenal sebagai oposisi terhadap pemerintahan Recep Tayyip Erdogan. Bahkan ia juga menentang keras Referendum 16 April 2017 lalu. Para pengamat juga menilai Akşener berusaha menjadi lawan bagi Erdogan dalam pemilihan presiden mendatang.

Meral Akşener juga dikenal sebagai ‘perempuan tangan besi’ layaknya mantan PM Inggris Margaret Thatcher. Media Barat juga menyandingkan Akşener dengan Merine Le Pen, politisi ultra kanan Prancis. Namun, ia membantah julukan-julukan itu dan mengklaim diri sebagai sosok yang moderat.

Beberapa sumber menyebut Meral Akşener konservatif dalam urusan agama. Namun di sisi lain ia lebih suka dengan konsep negara sekuler di Turki. Akşener dikenal mempunyai misi untuk mendekatkan Turki dengan Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Tradisi Ilmu dan Pendidikan antara Islam dan Barat