Home / Berita / Internasional / Asia / Cara Turki Hadapi Tekanan Barat dan Timur

Cara Turki Hadapi Tekanan Barat dan Timur

Ilustrasi (flickr.com / Jeremy Vandel)

dakwatuna.com – Ankara. Dua pekan lalu, Ankara tampak dengan tegas menolak adanya percepatan pemilu. Namun semuanya dengan cepat berubah, dan pemilu kejutan pun diumumkan. Dugaan kolusi antara Partai AKP dan MHP yang dihembuskan tampak tidak tepat, karena itu sama saja mengakali rakyat Turki.

Sikap Ketua Partai Gerakan Nasionalis (MHP), Devlet Bahçeli, memang tidak menentang Erdogan. Namun sikapnya itu sangat cukup membuat Presiden Turki tersebut terkejut.

Pertanyaannya adalah, apa yang sesungguhnya melatarbelakangi perubahan drastis ini terjadi? Padahal, dua pekan lalu Bahçeli  masih dengan tegas menolak percepatan pemilu, dan beberapa saat kemudian Erdogan juga menegaskan pemilu on schedule yaitu Februari 2019.

Sebenarnya, jawaban dari pertanyaan di atas ada pada ‘’Apa yang terjadi selama dua pekan terakhir?”

Permasalahan ekonomi tentu bukan jawaban yang benar. Kemerosotan ekonomi telah terjadi dalam waktu yang cukup lama, dan Erdogan tentu tidak akan mendiamkannya. Sementara struktur pada sistem pemerintahan bukan menjadi orientasi dalam pemilihan.

Peristiwa yang terjadi dalam dua pekan itu yang pertama adalah pengumuman penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah. Kemudian pesan AS kepada Rusia dengan serangan militer ke beberapa basis Suriah (Iran). Selanjutnya, rilis resmi dari Pemerintah Turki yang mendukung serangan militer AS.

Tak ayal, sikap Turki yang mendukung AS dan Sekutu itu segera dapat respon dari Rusia. Respon  pertama datang dari Menlu Rusia, Sergey Lavrov. Saat itu, ia menyebut akan lebih baik pasukan Turki angkat kaki dari Afrin.

Dari sini, tampak bahwa Rusia bisa membaca sikap dan posisi Turki – atau Partai AKP, yang tampak tidak berniat untuk memutus hubungan dengan sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Padahal, di sisi lain Turki dan Rusia juga berhubungan baik.

Pembacaan Rusia atas sikap Turki cukup benar. Seperti yang kita saksikan, Rusia bukan satu-satunya yang bereaksi atasnya.

Kerja sama Turki dengan NATO dan Eurasia secara bersamaan pada berbagai isu merupakan satu hal yang wajar dan perlu. Namun Turki perlu menjawab dua pertanyaan berikut: Mana sekutu abadi? dan Mana sekutu sementara? Cepat atau lambat, Turki tetap harus memilih antara dua pihak, entah itu Barat atau Timur.

Tampaknya sebab mempercepat pemilu ada pada fakta bahwa Ankara tengah menghadapi tekanan untuk ‘memilih dua pihak’ tersebut. Dengan percepatan pemilu, Ankara berharap punya sedikit waktu serta tambahan kekuatan politik dan moral dalam menghadapinya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Qatar Tantang Ancaman Militer dari Arab Saudi

Organization