Home / Berita / Internasional / Asia / Alasan Rusia Tak Merespon Serangan AS dan Sekutu ke Suriah

Alasan Rusia Tak Merespon Serangan AS dan Sekutu ke Suriah

Presiden Rusia (tengah), bersama dengan Bashar Assad (kiri). (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Damaskus. Jauh-jauh hari, Rusia memang telah memberi ancaman akan membalas segala pergerakan militer yang mengancam pasukannya di Suriah. Namun, tampaknya serangan AS dan Sekutu pada Sabtu (14/04) kemarin berlalu tanpa respon apapun dari Moskow.

Penulis Leonid Isayev, menyampaikan beberapa alasan kealpaan respon Rusia tersebut. Bahkan dalam tulisan yang dimuat laman Aljazeera Inggris itu disebutkan bahwa Moskow dan Damaskus, mendapat keuntungan dari serangan AS dan sekutu.

Isayev menyebutkan, serangan AS dan Sekutu sama sekali tidak mengubah peta kekuatan di Suriah. Pasukan Rezim Suriah pun tidak mengalami kerugian dari serangan tersebut.

Dalam artikelnya Isayev juga menyinggung agresi AS ke Suriah pada tahun lalu. Menurutnya, Moskow menilai serangan saat itu merupakan solusi paling tidak berbahaya atas polemik dalam negeri yang dihadapi Presiden Donald Trump di AS.

Sementara serangan tahun ini, Moskow juga tahu bahwa itu bukan bentuk balasan atas penggunaan senjata kimia dalam serangan rezim ke Douma pada Sabtu (07/04) silam. Serangan AS juga bukan upaya untuk mempengaruhi hasil konflik di Suriah. melainkan serangan itu hanya sebatas ‘unjuk kekuatan’ dengan motif yang bersifat populis.

Oleh karena itu, Moskow melihat langkah lambat Washington sebagai tanda kelemahan dan keraguan. Ini jelas menambah kepercayaan diri pemimpin-pemimpin Rusia.

Hasilnya, Moskow kemudian mengizinkan serangan dengan dibumbui sejumlah retorika permusuhan. Padahal di balik itu ada koordinasi untuk menghindarkan pasukan Rusia dari target serangan.

Isayev meyakini, perundingan Washington-Moskow dalam hal ini dilakukan satu pekan sebelum serangan. Kepercaan Moskow dimanifestasikan dengan keberadaan delegasi Rusia yang berada di Damaskus saat serangan dilancarkan.

Serangan AS dan Sekutu menjadi sebuah ‘formalitas’ untuk menekan ketegangan akibat penggunaan senjata kimia di Douma. Pada akhirnya Moskow tetap berada di Suriah, dan Washington telah memenuhi ‘janjinya’ untuk memberantas senjata kimia rezim Suriah.

Sementara itu, menurut Isayev, apabila benar terjadi pertempuran langsung antara Aliansi AS dengan Rusia, maka itu akan menjadi kekalahan besar bagir Rusia. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Pejabat Kemenlu AS: Sangat Jelas Keterlibatan MBS dalam Pembunuhan Khashoggi

Organization