Home / Berita / Internasional / Asia / Akankah Capaian Ekonomi Menyelamatkan Erdogan?

Akankah Capaian Ekonomi Menyelamatkan Erdogan?

Sektor ekonomi akan jadi faktor utama dalam pemilu Turki mendatang. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Ankara. Duduk di kios telepon seluler kecil miliknya di distrik Besiktas, Hasan Kus merasa pesimis dengan masa depan ekonomi Turki.

Kurang dari satu pekan pelaksanaan pemilu di negaranya, pria 44 tahun itu percaya situasi keuangan akan memburuk terlepas dari hasil pemilu 24 Juni.

“Orang-orang hanya mencoba untuk memilih skenario terbaik, membandingkan satu sama lain” kata Kus, sambil menjual pengisi daya telepon genggam kepada pelanggan.

Ekonomi akan menjadi faktor penentu dalam pemungutan suara mendatang. Sebuah pemilihan umum yang akan mengubah Turki dari sistem parlementer menjadi sistem eksekutif, sejalan dengan perubahan konstitusi yang disetujui melalui referendum tahun lalu.

Pemilihan presiden dan parlemen akan digelar dalam kondisi darurat, yang diberlakukan berkala sejak Juli 2016 lalu. Menyusul upaya kudeta gagal yang disebut-sebut didalangi oleh Fethullah Gulen, ulama Turki yang menetap di Amerika Serikat.

Di sisi ekonomi, jajak pendapat menentang latar belakang yang bertentangan dari tingkat pertumbuhan yang meroket – mencapai 7,4% tahun lalu – dan mata uang yang terdepresiasi.

Tahun ini lira Turki anjlok 20% di hadapan dolar Amerika. Hal ini mendorong bank sentral menaikkan suku bunga beberapa kali untuk menopang lira. Sementara inflasi dan defisit transaksi terus meningkat.

Dalam keadaan seperti ini, pemilih Turki dihadapkan pada pilihan siapa yang lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi yang tengah berlangsung.

Pemilih yang menyalahkan ketidakpastian pada Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Partai Keadilan Pembangunan (AKP) meyakini perlunya perubahan setelah 15 tahun untuk memperbaiki kebijakan yang melahirkan masalah ini.

Tapi pihak lain menilai, hanya Erdogan dan partainya yang mampu menjaga stabilitas negara.

“Perubahan dalam pemerintah hanya akan memperburuk keadaan karena akan mengurangi tingkat kepercayaan di Turki, dan karena itu, investasi dan pekerjaan akan sedikit,” kata Kus, pemilik kios telepon selular kepada Aljazeera.

Ia mengaku, dirinya akan memilih Erdogan dan koalisinya. Seperti diketahui, AKP menjalin koalisi dengan Partai Gerakan Nasional (MHP), dengan Erdogan sebagai kandidat presiden bersama.

“Orang-orang dengan kendala finansial, tidak akan melihat pemilu ini pada hal politik. Mereka hanya ingin membuat hari berikutnya dengan pilihan terbaik untuk diri dan keluarga mereka,” imbuh Kus.

“Kita perlu stabilitas.”

‘Kita perlu perubahan’
Cengiz Kurekci, seorang arsitek berusia 22 tahun, tidak setuju.

“Janji oposisi untuk mengangkat keadaan darurat bahkan cukup untuk mendorong ekonomi. Kami bisa memulainya dengan normal dan itu akan mencerminkan ekonomi,” katanya sambil meneguk teh di Bosphorus.

Dengan menyerukan perubahan, Kurekci menyebut pemerintah dan presiden mengalami kelelahan.

“Semua masalah ekonomi baru-baru ini mengindikasikan hal itu,” katanya. Ia juga mengaku akan memilih koalisi yang dipimpin oleh Partai Rakyat Republik (AKP) dan Partai IyI.

Menurut perubahan konstitusi tahun lalu, presiden baru akan memiliki kekuasaan signifikan – mulai dari menunjuk wakil presiden, para menteri, pejabat tinggi dan hakim senior untuk membubarkan parlemen, mengeluarkan keputusan eksekutif dan memberlakukan kondisi darurat.

Erdogan dalam beberapa kesempatan mengatakan, dirinya akan mengambil peran dominan atas kebijakan ekonomi jika berhasil mengambil alih kepemimpinan eksekutif yang kuat.

Saat mulai AKP mulai berkuasa pada 2002, ekonomi Turki tengah mengalami kenaikan inflasi dan pengangguran yang tinggi. Tapi dalam beberapa tahun berikutnya, mereka berhasil menyulap Turki menjadi pasar berkembang dengan mendorong pertumbuhan melalui perdagangan dan investasi asing. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Penangkapan Dai dan Masyayikh di Saudi Berlanjut

Organization