Home / Berita / Internasional / Asia / Pemilu Turki; Peluang dan Lawan Erdogan

Pemilu Turki; Peluang dan Lawan Erdogan

Presiden Turki (kiri) dan Mantan Presiden Abdullah Gul. (Milli Gazete)

dakwatuna.com – Ankara. Pemilihan Parlemen dan Presiden di Turki menyisakan waktu dua bulan lagi. Berbagai intrik dan eskalasi sangat mungkin terjadi dalam beberapa waktu mendatang sampai Pemilu Turki digelar.

Banyak pengamat menilai, Presiden Recep Tayyip Erdogan masih berpeluang besar untuk memenangi Pilpres. Namun banyak juga yang menduga bahwa pendahulu Erdogan, Abdullah Gul, akan maju untuk dalam kontestasi tersebut. Berikut adalah peta Pemilu Turki 24 Juni 2018 mendatang:

Lanskap Pemilu

Pemilu Turki kali ini akan menghadapkan dua kelompok, yaitu kelompok koalisi dan oposisi.

– Kelompok Koalisi pemerintah terdiri dari dua partai yaitu Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang diketuai Erdogan, dengan Partai Gerakan Nasionalis (MHP) yang diketuai Devlet Bahçeli.

– Kelompok Oposisi, terdiri dari empat partai utama. Mereka berupaya membentuk koalisi meskipun banyak sekali perbedaan dalam hal ideologi dan visi-misi partai. Empat partai itu adalah:

  1. Partai Rakyat Republik (CHP/ Sekuler)
  2. Partai Demokraik Rakyat (HDP/ Kurdi)
  3. Partai Baik (GP/ Konservatif yang lebih dekat dengan sekuler)
  4. Partai Saadet (FP/ Islami)

Kandidat

Beberapa tokoh dan politisi disebut-sebut akan meramaikan kontestasi Pilpres mendatang. Mereka adalah:

– Presiden Recep Tayyip Erdogan

– Ketua Partai Baik, Meral Akşener, yang mengumumkan niatnya menghadapi Erdogan.

– Mantan Presiden Abdullah Gul. Prospek pencalonnya apabila terjadi eskalasi mendadak yang dapat mengganggu keseimbangan dalam pemilu mendatang. ia Merupakan sekutu Erdogan, dan juga salah satu pendiri Partai AKP.

Sementara Partai CHP, yang merupakan oposisi utama pemerintah saat ini, belum mengumumkan siapa kandidatnya. Terjadi perdebatan di internal partai antara pendukung koalisi dengan Gul, dan kelompok yang mendukung kandidat kuat macam Akşener. Selain itu ada pula kelompok Kamalis, yang menyeru untuk mengusung kandidat sendiri.

Peluang Abdullah Gul

Abdullah Gul dikabarkan sering menjalin pertemuan dengan Partai Saadet, Partai Baik dan Mantan PM Turki Ahmet Davutoğlu, serta pertemuan dengan kelompok oposisi lainnya. Hal ini dinilai sebagai niat Gul untuk maju melawan Erdogan pada Pilpres mendatang.

Spekulasi semakin besar saat Gul memilih diam dan tidak berkomentar terhadap pemberitaan tentang niatnya untuk maju atau menggalang koalisi dengan kelompok oposisi. Selain itu, Gul juga termasuk yang menolak Referendum Konstitusi Turki tahun lalu. Kejelasan tentang Gul disebut-sebut akan terlihat dalam beberapa hari mendatang.

Erdogan, Bahçeli dan Gul

Erdogan menanggapi kemungkinan pencalonan Gul dengan bahasa halus. Ia menyebut tidak masalah jika Gul pada akhirnya maju untuk menghadapinya. Sebuah tanggapan yang dinilai hangat, terlebih Erdogan menyebut Gul dengan “Saudaraku”.

Sebaliknya, tanggapan pedas justru datang dari mitra koalisi Erdogan, Devlet Bahçeli. “Ada strategi jahat yang tengah dipersiapkan dengan pembentukan opini publik terkait pencalonan Mantan Presiden Abdullah Gul,” katanya.

Dalam unggahannya di twitter, Bahçeli menambahkan, “Organisasi teroris Gulen memimpin langkah yang diterima oleh teroris PKK dan musuh-musuh Turki. Sementara Partai CHP, HDP, dan Saadet dengan semangat mendorong pencalonan Gul.”

Skenario Pemilu:

Para pengamat menilai ada beberapa skenario yang akan terjadi dalam Pilpre Turki mendatang:

1. Erdogan vs Perpecahan Oposisi

Kemungkinan Gul tidak akan mencalonkan diri menghadapi Erdogan. Sebaliknya, Erdogan akan menghadapi kandidat dari kelompok oposisi, di mana Akşener salah satunya, dan mungkin juga kandidat dari CHP. Ini tentu akan menaikkan posisi Erdogan di hadapan keterbelahan Oposisi, dan selesai hanya dengan satu putaran.

2. Erdogan, Gul dan Oposisi

Skenario ini terjadi apabila Gul mencalonkan diri secara independen, atau dengan Partai Saadet, dengan adanya kandidat lain dari oposisi tentunya. Suara oposisi di sini tentu terpecah. Dengan begitu, Gul berpeluang maju ke putaran kedua dan menghadapi Erdogan.

3. Erdogan vs Gul

Skenario ini terjadi apabila kelompok oposisi sepakat mendukung Abdullah Gul. Pemilu akan menjadi ajang pertarungan besar antara ‘dua mantan sekutu’. Gul disebut akan memperoleh suara dari pemilih Erdogan, selain juga pemilih yang tidak suka dengan kebijakan-kebijakan Erdogan.

Pencalonan Gul

Pengamat Hubungan Internasional, Amani Sinwar mengatakan, ada kemungkinan Gul menolak untuk mencalonkan diri menghadapi Erdogan.

Kepada Aljazeera.net ia menambahkan, “Gul adalah Mantan Presiden Turki, dan salah satu pendiri AKP. Karakternya penuh dengan kompromi dan bijak. Pencalonannya akan dinilai sebagai karakter kontroversial. Dan mungkin akan mengakhiri karir politiknya apabila ternyata kalah dengan Erdogan.”

Namun Sinwar menilai ada beberapa sebab yang mendorong pencalonan Gul. Di antaranya, ada kecenderungan yang kontradiksi dengan orientasi dan kebijakan Erdogan di internal partainya.

Selain itu adapula kemungkinan suara-suara tidak suka di dalam Partai MHP. Yaitu kader-kader yang menginginkan kandidat yang lebih liberal, dan dapat memulihkan hubungan Turki dengan Barat dan AS.

Kurang Siap

Sementara itu, Sinwar juga melihat adanya ketidaksiapan di barisan oposisi dalam menghadapi percepatan pemilu. “Mereka menilai pemilu sangat mendadak dan membuat mereka di bawah tekanan,” kata Sinwar.

Sinwar menambahkan, barisan oposisi juga sulit dalam memunculkan satu kandidat bersama. Hal ini berkaitan dengan perbedaan ideologi masing-masing partai.

Terkait Gul, Sinwar menyarankan agar ia tidak gegabah sampai oposisi utama bersepakat dalam satu barisan. Menurutnya, pencalonan Gul bersamaan dengan adanya kandidat lain di pihak oposisi, hanya akan menguntungkan Erdogan.

Tantangan Erdogan

Terkait hal ini, Sinwar menilai Abdullah Gul adalah satu-satu yang dapat menjadi tantangan bagi Erdogan. “Gul adalah satu-satunya yang dapat mengeruk suara dari AKP. Terlebih ada semacam ketidakpuasan dengan sistem presidensial dan kebijakan Erdogan,” jelasnya.

Selain itu, faktor regional dan internasional juga sangat berpengaruh dalam pemilu Turki mendatang. “Negara-negara Eropa hingga Amerika mungkin akan melihat Gul sebagai mitra yang cerdas dan lebih bijak,” lanjutnya.

Isu pencalonan Gul ini, seperti penilaian para pengamat, memang seakan dihembuskan oleh oposisi untuk melemahkan Erdogan. Barisan oposisi berkeyakinan bahwa Erdogan hanya bisa dikalahkan dengan salah satu sekutunya sendiri. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Warga Palestina Diberi 8 Hari untuk Angkat Kaki dari Khan al-Ahmar