Home / Berita / Internasional / Asia / Pengangguran Menghantui Arab Saudi

Pengangguran Menghantui Arab Saudi

Pemerintah Saudi khawatir dengan peningkatan jumlah pengangguran. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Riyadh. Seorang Pejabat Tinggi Arab Saudi menyebutkan jumlah pengangguran di negaranya semakin meningkat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah.

Dilansir Aljazeera, Rabu (25/04/2018), hal itu disampaikan sang pejabat kepada majalah asal Inggris, Financial Times.

Majalah menyebutkan, meningkatnya pengangguran seiring dengan upaya Putra Mahkota Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman, dalam memperbaiki perekonomian. Selain itu, Pangeran juga berusaha menciptakan lapangan pekerjaan di sektor swasta.

Pada Selasa (24/04) kemarin Menteri Saudi Urusan Afrika, Ahmed Kattan mengatakan, ada ‘masalah struktural’ dalam pasar tenaga kerja di negaranya. Sementara Majalah Inggris itu menyebut, Saudi masih ‘kecanduan’ pada tenaga kerja asing yang berupah rendah.

Dari fakta itu, tambah Kattan, perekonomian di negaranya menciptakan lapangan pekerjaan. Namun itu tidak dinikmati oleh warga Saudi sendiri.

Masih menurut Kattan, pemerintah merasa khawatir dengan peningkatan jumlah pengangguran, sementara jumlah visa kerja asing terus bertambah.

Disebutkan, kekhawatiran ada pada kemungkinan timbulnya permasalahan kriminal. Pemuda pengangguran yang putus asa karena tidak bekerja, dikhawatirkan justru bergabung dengan organisasi radikal.

Selain itu, Riyadh juga berusaha menarik lebih banyak wanita untuk bekerja. Saat ini, wanita Saudi seakan mengalami diskriminasi sehingga pengangguran di kalangan wanita mencapai 33%.

Menurut data, jumlah pengangguran di Saudi mengalami peningkatan dari 11,5% tahun 2016, menjadi 13% pada tahun 2017.

Sejak menjabat, Pangeran Bin Salman memang berusaha memperbaiki peronomian dengan menciptakan 450 lapangan pekerjaan di sektor swasta hingga tahun 2020. Selain itu Pangeran juga bertekad menekan tingkat pengangguran hingga 7% pada 2030.

Namun, Majalah Financial Times menyebut misi itu tidak akan berjalan mulus. Hambatan utama akan datang dari ketergantungan pada belanja pemerintah, masalah sosial dan budaya yang tidak transparan

Sejauh ini, sebanyak 45% lapangan pekerjaan sektor swasta tengah dibangun di Saudi. Namun sektor tersebut tampaknya kurang menarik perhatian warga.

Sebanyak dua pertiga warga Saudi saat ini merupakan pegawai pemerintah. Sementara para ekspatriat menguasai hampir 90% sektor swasta. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Mufti Saudi: Turki Negara Islam, Kekalahannya Kerugian Bagi Umat

Organization