Home / Berita / Internasional / Asia / AS Kecam Kondisi HAM di Saudi dan Mesir

AS Kecam Kondisi HAM di Saudi dan Mesir

Laporan tahunan Kemenlu AS banyak menyoroti kondisi HAM di berbagai negara. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Washington. Laporan tahunan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengecam kondisi Hak Asasi Manusia di banyak negara, termasuk negara-negara Arab.

Disebutkan, laporan tersebut mengungkap pelanggaran-pelanggaran HAM di 17 negara. Laporan juga memantau pelanggaran kebebasan publik dan HAM di Saudi, Mesir dan Suriah.

Laporan Kemenlu AS tersebut mengungkap penangkapan oposisi politik dan pemuka agama oleh pemerintah Arab Saudi. Selain itu, pemerintah Saudi juga menangkapi anggota keluarga kerajaan serta para pebisnis. Penangkapan tersebut di luar ketentuan hukum, imbuh Laporan, seperti dilansir dari Aljazeera.net, Ahad (21/04/2018).

Ditambahkan, sejauh ini belum ada proses peradilan terhadap mereka yang ditangkap pemerintah Saudi. Sementara sebagiannya telah dibebaskan dengan adanya beberapa kompromi dengan pemerintah.

Lebih lanjut, Laporan AS itu juga mengecam perang Saudi di Yaman. Menurutnya, perang itu melanggar hak-hak warga sipil di sana.

Terkait hal ini, Profesor Etika Politik dan Sejarah Agama, Muhammad Al-Mukhtar Ash-Shinqiti angkat bicara. Menurutnya, pengungkapan sisi negatif pemerintah Saudi mengindikasikan posisi mereka tidak menguntungkan.

Selain itu, al-Shinqiti menilai, laporan tersebut seakan membenarkan pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Saudi dan UEA mendukung terorisme.

Mesir dan Suriah

Selain Saudi, Laporan AS juga menyoroti banyaknya praktik pelanggaran HAM di Mesir dan Suriah. Menurut Laporan pemerintah Mesir bertanggung jawab atas pembunuhan yang dilakukan di luar ketentuan hukum.

Selain itu, pemerintah Mesir juga disebut-sebut terus melakukan penangkapan terhadap lawan politik dan membatasi kebebasan media. Para aktivis dan jurnalis juga menjadi sasaran penangkapan di Mesir.

Lebih lanjut, pemerintah Mesir sejauh ini juga belum melakukan penyelidikan pada beberapa pelanggaran. Di antaranya, penghilangan paksa, penyiksaan, penindasan oleh pasukan kemanan yang merasa impunitas.

Sementara Suriah, disebutkan masih terus terjadi pelanggaran terhadap warga sipil di beberapa wilayah. Sedangkan serangan terakhir yang terjadi d Douma, Ghouta Timur, tak luput dari daftar.

Koresponden Aljazeera di Washington mengabarkan, Laporan AS tahun ini untuk pertama kalinya tidak menyebut situasi di wilayah terjajah Palestina seperti Tepi Barat dan Gaza. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Duduk Berdampingan dengan Menlu Yaman, Netanyahu: Kami Ukir Sejarah

Organization