Home / Berita / Internasional / Asia / Turki, Rusia, dan Iran Komitmen pada Keutuhan Suriah

Turki, Rusia, dan Iran Komitmen pada Keutuhan Suriah

(Dari kiri ke kanan) Hassan Rouhani, Recep Tayyip Erdogan, dan Vladimir Putin. (Aljazeera)

dakwatuna.com – Ankara. Pertemuan Presiden Turki, Rusia dan Iran di Ankara diakhiri pada kemarin, Rabu (04/04) sore waktu setempat.

Dalam pertemuan disepakati komitmen ketiga negara pada persatuan Suriah dan berupaya mewujudkan proses politik untuk mengakhiri konflik.

Menurut keterangan dari pertemuan itu, seperti dilansir Aljazeera.net, Kamis (05/04/2018), ketiga pemimpin menegaskan akan terus mewujudkan gencatan senjata permanen.

Selain itu, pertemuan juga menekankan pentingnya membantu rakyat Suriah untuk mengembalikan persatuan dan menghadirkan solusi. Ketiga negara juga siap menghalau segala upaya memecah belah Suriah, serta menolak segala tindakan dengan dalih memerangi teroris.

Menurut laporan televisi Iran, ketiga presiden juga sepakat menyiapkan situasi kondusif sehingga para pengungsi dapat kembali. Selain juga menyeru dunia internasional untuk menambah bantuan kemanusiaan. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Benarkah Erdogan Minta Bantuan Ekonomi ke Merkel? Ini Jawaban Menteri Jerman