Home / Berita / Internasional / Asia / Pesawat Tempur Israel Dijatuhkan, Atas Izin Rusia?

Pesawat Tempur Israel Dijatuhkan, Atas Izin Rusia?

Pesawat Tempur Israel jatuh dirudal di Suriah. (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Doha. “Rusia memberi lampu hijau pada rezim Suriah untuk menjatuhkan pesawat tempur milik Israel.” Itu merupakan pernyataan dari pengamat Rusia, Viacheslav Matozov, kepada Aljazeera, Sabtu (10/02) kemarin.

Berbicara di program Maa Wara al-Akhbar Aljazeera, Matozov menyimpulkan, Moskow menjadikan jatuhnya pesawat tempur Israel sebagai psywar dan untuk mengirim pesan kepada Amerika Serikat (AS). Karena sebelumnya, AS dengan yakin menegaskan akan mengubah aturan main di Suriah.Selain itu, AS juga bertekad akan meluncurkan rudal antipesawat terhadap setiap pesawat tempur mili ‘teroris’ versi mereka.

Lebih lanjut, Matovof menyatakan, Moskow juga terganggu dengan serangan AS ke arah ‘kerumunan rakyat Suriah’ di Deir al-Zour beberapa hari lalu. Disebutkan, serangan itu mengakibatkan hampir 100 orang tewas. Sementara ada informasi tak resmi yang menyebutkan, beberapa pasukan Rusia termasuk ke dalam korban tewas.

Hal senada juga dikemukakan oleh pengamat Iran, Hossein Reoran. Ia menegaskan, yang menembak jatuh pesawat Israel adalah rezim Suriah. “Namun sangat tidak mungkin rezim Suriah mengirimkan pesan ini tanpa koordinasi dengan Iran sebelumnya. Sama halnya kedua pihak itu tidak mungkin bertindak tanpa koordinasi dengan Rusia,” katanya.

Selain itu, Reoran yakin Rusia ingin mengubah kesepahaman lamanya dengan Israel. Hal ini dilakukan dengan mengirimkan pesan kuat yang akan memunculkan kesepahaman baru.

“Selama beberapa tahun terakhir, Israel seakan ingin memaksakan kehendaknya di Suriah, terutama di wilayah selatan. Pada akhirnya persamaan ini berakhir. Sementara Iran berkepentingan mendukung rezim Suriah untuk menghentikan arogansi Israel di wilayah udaranya,” jelas Reoran.

Sementara pengamat Israel menyebutkan, Tel Aviv sangat yakin bahwa apa yang terjadi di Suriah adalah atas sepengetahuan Rusia. Pengamat Melan Miller juga menyebutkan, PM Benyamin Netanyahu segera menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghindar eskalasi.

“Karena Israel tahu, bahwa keputusan-keputusan strategis di Suriah ada di tangan Putin,” lanjut Miller. Ia juga mengakui, Israel telah menarik garis merah yang jelas di Suriah.

Miller mengatakan, “Keberadaan Iran di perbatasan sangat berbahaya bagi Israel. Israel mengumumkan garis merahnya dengan tujuan mencegah kehadiran Iran di perbatasan utara. Selain juga memutus pasokan senjata ke milisi Hizbullah Lebanon.”

Namun begitu, Miller menganggap jatuhnya pesawat tempur Israel dan masuknya pesawat tanpa awak Iran merupakan ujian bagi garis tersebut. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Menantu Trump dalam Pusaran Kasus Intervensi Pilpres AS oleh Rusia